Namaku Risa Tania Rahmawati. Aku berasal dari keluarga sederhana. Orang tuaku bekerja sebagai karyawan swasta. Aku merupakan anak semata wayang maka dari itu aku sangat dekat dengan orang tuaku dan aku masih sangat manja.  Aku bersekolah di SMP N 13 Semarang, Sekarang aku duduk di kelas 9 semester akhir. Pengumuman kelulusan sudah di depan mata. Seluruh siswa telah menanti pengumuman kelulusan. Hingga pada akhirnya pengumuman tiba. Ketika hasil kelulusan akan diumumkan, seluruh siswa tampak hatinya berdebar – debar. Hingga akhirnya, seluruh siswa dinyatakan 100% lulus dan aku sangat bahagia. Aku memeluk Ibuku yang sejak pengumuman kelulusan bersamaku. Di saat pengumuman berlangsung, Kepala Sekolah membacakan nama – nama siswa yang menerima beasiswa masuk ke SMA favorit di Jakarta. Salah satunya adalah aku. Aku sama sekali tidak menyangka akan menerima beasiswa. Aku sangat bahagia dan begitu pun dengan Ibuku. Pengumuman telah selesai dan aku bergegas pulang. Aku sudah tidak sabar untuk memberitahukan hal ini kepada Ayah. Sesampainya di rumah, aku berlari dan berteriak tanpa mengucapkan salam.

“Ayah…” panggilku sambil berteriak.

“Iya sayang, kenapa kamu berteriak? masuk rumah juga tidak mengucap salam,” Tanya Ayah kebingungan.

“Hehe maafkan Risa, Yah. Risa ada kabar bahagia untuk Ayah,” kataku bangga.

“Kabar bahagia apa? Ayo beritahu Ayah,” ujar Ayahku.

“Risa menerima beasiswa masuk SMA favorit di Jakarta, Yah,” ujarku dengan rasa bangga.

“Apakah itu benar, Nak?” Tanya ayah sedikit tidak percaya.

“Iya Ayah, Risa tidak bohong,” ucapku meyakinkan Ayah.

“Kamu tidak usah menerima beasiswa itu nak,” ujar Ayahku halus.

“Kenapa Ayah?” Tanyaku kebingungan.

“Ayah ingin kamu melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren,” ujar Ayah dengan menatap mataku.

“Tapi Ayah, Risa ingin menerima beasiswa itu bukan ingin masuk Pondok Pesantren yang seperti penjara itu. Jika beasiswa itu Risa terima, Ayah tidak perlu lagi memikirkan biaya sekolah Risa,” kataku dengan sedikit memaksa.

“Dengarkan Ayah! Pondok Pesanten memang seperti penjara, namun itu penjara suci tempat pada santri menuntut ilmu agama dan hanya orang terpilih saja yang berada di Pondok Pesantren. Dan soal biaya kamu tidak usah kamu pikirkan!” ujar Ayah tegas.

“Tapi Ayah….” Ucapku sedih.

“Kenapa kamu sedih? Di Pondok Pesanten tidak cuma hafalan dan ngaji, disana kamu akan menerima materi pelajaran seperti di sekolah pada umumnya. Disana kamu juga akan memiliki banyak teman,” kata Ayah meyakinkanku.

“Entahlah, Yah Risa masih bingung,” Kataku sambil meninggalkan Ayah yang berada di ruang tamu.

Semua perkataan Ayah membuatku bimbang. Aku bingung harus memilih yang mana. Aku sangat ingin menerima beasiswa itu agar aku tidak menjadi beban Ayah untuk membiayai sekolahku. Di sisi lain, aku juga berpikir bahwa Ayah ingin aku masuk ke Pondok Pesantrean itu demi masa depanku. Aku semakin bingung untuk memilih yang mana. Tiada aku sadari Ibu telah lama mengetuk kamarku. Aku tidak memperhatikannya karena aku sejak tadi memikirkan kedua pilihan itu.

“Masuk saja, Bu. Pintunya tidak aku kunci,” kataku.

“Baiklah,” jawab Ibuku.

“Ibu tahu kamu bingung harus memilih yang mana, Nak,” kata Ibu sambil duduk di dekatku.

“Iya Bu, Risa bingung harus pilih yang mana,” ucapku pelan.

“Mintalah petunjuk Sang Maha Pencipta,Nak. Pilih salah satu yang menurutmu yang terbaik. Memang Pesantren itu Penjara Suci tapi itu semua melatih kamu untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dan soal beasiswa kamu bisa mendapatkan dilain waktu lagi,” katanya sambil mengelus kepalaku.

“Baiklah Risa akan meminta petunjuk Allah,” kataku sambil tersenyum.

“Ibu yakin keputasan yang kamu pilih merupakan jawaban yang terbaik,” katanya sambil meninggalkanku.

Sepanjang malam tiada berhenti aku meminta petunjuk kepada Allah. Aku selalu berdoa hingga aku terlelap. Tanpa aku sadari pagi telah tiba. Aku beranjak dari tempat tidurku dan langsung menemui Ayahku yang sedang duduk sambil meminum kopi di teras rumah.

“Ayah, Risa sudah mengambil keputusan, semoga Ayah terima dengan keputusan Risa,” kataku pelan.

“Apa keputusan kamu?” Tanya Ayah penasaran.

“Keputusan Risa yaitu melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren. Risa turuti keinginan Ayah untuk masuk Pesanten. Walaupun Risa belum sepenuhnya mengetahui kehidupan di Pesanten. Tapi Risa sedikit takut, Yah.” Jawabku lirih.

“Terima kasih, Nak. Ayah puas dengan keputusanmu. Memang rasa takut itu hal yang biasa, namun Ayah yakin kamu akan menjadi santri yang berguna dan ilmu yang akan kamu dapatkan akan dibutuhkan oleh orang lain,” kata Ayah.

“Aamiin,” ucapku.

            Libur semester akhir memang lama. Namun, bagiku liburan tahun ini cukup singkat. Sedikit waktu untuk aku berlibur dengan keluarga. Semua liburan aku gunakan untuk menyiapkan keperluan yang harus aku bawa ke Pesanten. Hari demi hari telah berlalu, liburan akan segera usai. Sekarang tanggal 12 Juli 2018 tepatnya H-3 tahun ajaran baru dan pada hari ini aku berangkat ke Pesantren. Rasa tidak mau pisah dengan orang tua selalu menyertaiku. Aku diantar oleh keluargaku. Sesampainya di Pondok Pesantren Al Hikmah, aku dan orang tuaku langsung menuju ruang penerimaan santri baru. Disana sudah ada Abah Pengasuh Pesantren. Orang tuaku langsung menemuinya. Tidak lama setelah Ayah dan Ibu berbicara dengan Abah Pengasuh Pondok Pesantren, mereka berpamitan.

“Ayah sama Ibu pulang dulu ya, kamu baik – baik disini. Resapi semua materi yang diberikan di Pesantren ini. Maaf Ayah sama Ibu tidak bisa lama – lama menemani kamu disini,” kata  Ayahku.

Aku hanya membisu tidak bisa berkata apa – apa. Rasanya aku ingin menangis sekencang – kencangnya.

“Kamu tidak usah sedih, Ayah yakin suatu saat kamu akan betah di Pesantren hingga akhirnya kamu tidak mau pulang ke rumah. Ayah tahu memang sekarang ini masih berat bagimu,” ujarnya.

“Tapi Risa mohon sama Ayah dan Ibu jangan pulang sekarang. Temani Risa disini setidaknya 1 jam saja,” pintaku.

“Tidak bisa sayang, kami harus pulang sekarang, ini sudah aturan di Pesanten ini,” jawab Ibu halus.

“Tapi Ibu…” kataku merengek.

“Sudah sekarang kamu masuk ke asramamu, maaf Ayah dan Ibu tidak bisa menemanimu ke sana. Kami pamit dulu. Doa kami selalu menyertaimu, Nak,” Kata Ayahku.

“Baiklah, Yah,” kataku sambil memeluk mereka berdua.

Setelah aku berpamitan dengan orang tuaku, aku diantar oleh salah satu pengurus Pesantren menuju asramaku. Disana sudah banyak santri baru yang telah menempatkan diri di asrama. Mungkin tidak hanya aku yang sedih ketika harus berpisah dengan orang tua, banyak santri baru yang merasakan apa yang sedang aku rasakan. Memang berat harus berpisah dengan mereka. Hari ini kegiatan Pesantren masih libur dan akan dimulai besok. Aku dan santri lainnya langsung istirahat karena kami sampai di Pesantren pada malam hari.

Kring… kring… kring… bunyi bel terdengar di telingaku. Tepat pukul 03:00 bel itu berbunyi. Bel itu setiap hari berbunyi untuk membangunkan para santri. Para santri langsung mengambil wudhu dan menjalankan sholat tahajud. Para santri diwajibkan untuk melaksankan sholat tahajud. Setelah selesai sholat tahajud, kami mulai ngaji bersama Abah Zaenal, sambil menunggu adzan subuh. Namun, aku tidak memperhatikan materi apa yang beliau sampaikan. Mataku rasanya ingin terpejam saja. Baru satu hari saja aku tidak kuat lalu bagaimana jika setiap hari harus seperti ini, aku tidak bisa membayangkannya. Adzan subuh telah bekumandang dan kami melaksanakan sholat berjamaah. Setelah selesai, para santri langsung kembali ke asrama. Bukan untuk tidur kembali melainkan bersiap untuk mandi. Karena jika tidak cepat – cepat mandi pasti akan mengalami antrean yang cukup panjang. Begitu pula dengan makan, kadang santri yang terlambat mengambil makan biasanya tidak kebagian makan. Mungkin ada santri iseng yang mengambil jatah makan santri lain. Setelah mandi dan makan aku harus mengikuti pelajaran yang ada di Pesantren Al Hikmah. Di Pesantrenku, para santri diwajibkan untuk menghafalkan Al Quran karena Al Quran merupakan salah satu syafa’at di akhirat.

Satu minggu telah berlalu, namun aku belum sepenuhnya menikmati menjadi seorang santri. Rasanya aku ingin kabur dari Pesantren. Aku sudah tidak betah berada disini. Aku rindu dengan Ayah dan Ibu. Aku ingin menelpon mereka agar rindu ini sedikit terbayar. Namun apa daya, di Pesantren tidak diperbolehkan memegang handphone. Malam ini adalah malam jumat dan esok kegiatan Pesantren libur. Aku berencana untuk tidur sedikit terlambat karena aku ingin mempelajari kembali materi yang disampaikan pada siang tadi. Ketika aku sedang membaca bukuku, tanpa aku sadari air mata ini menetes. Entah apa yang sedang aku rasakan yang pasti aku hanya ingin bertemu orang tuaku dan menceritakan semua suka dukaku selama disini. Salah satu teman asramaku yang bernama Febri melihat aku meneteskan air mata. Ia merupakan kakak kelasku. Aku biasa memanggilnya Teteh Feb. Dia sangat dekat denganku. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mendekatiku.

“Risa, kenapa kamu menangis?” Tanya Febri penasaran.

“Aku tidak apa – apa, Teh,” jawabku pelan.

“Tidak usah bohong! Ayo cerita siapa tahu aku bisa membantumu,” katanya.

“Aku ingin pulang, Teh,” ujarku.

“Kenapa kamu ingin pulang? Ujarnya penasaran.

“Aku tidak betah disini, aku bosen dengan semua kegiatan disini. Aku sangat rindu Ayah dan Ibuku, Teh,” jawabku dengan sedikit menangis.

“Kenapa kamu bilang tidak betah? kamu bukan tidak betah tapi belum betah. itu artinya beda lho ya. Aku paham kok yang kamu rasakan, kamu sedang beradaptasi dengan lingkungan Pesantren jadi wajar jika kamu merasakan hal seperti itu. Begitu pula dengan aku, aku dulu juga merasakan apa yang kamu rasakan kok, Ris. Rasanya baru 1 minggu saja sudah berat banget, tapi aku jalani dengan ikhlas dan hasilnya Alhamdulillah aku betah di Pesantren ini dan aku sangat menikmati semua materi pelajaran yang ada disini. Alhamdulillah juga dulu belum ada 1 tahun aku masuk Pesantren aku sudah khatam Al Quran. Itu semua karena Allah dan aku jalani dengan ikhlas. Sudah jangan sedih, mulai sekarang kamu belajar ikhlas dan jalani ini semua karena Allah pasti hasilnya akan memuaskan,” katanya menasehatiku.

Aku membisu tidak bisa berkata apa – apa.

“Sudah mendingan kita tidur saja, ini sudah larut malam,” ujarnya.

“Baiklah, Teh,” jawabku sedikit tersenyum.

Akhirnya aku tidur dan aku menyadari bahwa masih ada hari esok. Sang surya telah menampakan sinarnya, aku bergegas melakukan aktivitasku hari ini. Aku mulai memikirkan nasehat Teteh Feb, apa yang ia katakana memang ada benarnya juga. Tanpa berpikir panjang aku mulai hari ini menjalankan semua kegiatanku dengan ikhlas dan karena Allah Swt.

            Satu bulan telah terlewati, aku sekarang benar – benar telah merasakan perubahan pada diriku. Aku sudah merasakan betah di pondok dan Alhamdulillah hafalanku telah bertambah, kini aku sudah memasuki juz 5. Memang 5 juz masih terbilang sedikit, namun bagi saya menghafalkan 5 juz dalam 1 bulan merupakan hal yang luar biasa. Semua ini merupakan atas izin Allah Swt.

            Ulangan Tengah Semester akan segera belangsung. Aku harus mempersiapkannya sebaik mungkin. Aku belajar dengan giat dan tidak lupa dengan kewajibanku di Pesantren. Aku sangat semangat mengikuti UTS ini. Hingga akhirnya UTS telah berlalu dan pembagian rapor akan dibagikan akhir pekan ini. Aku sudah tidak sabar melihat nilaiku. Aku berharap usaha tidak mengkhianati hasil. Dan akhirnya, hari yang dinanti – nanti telah tiba, aku dinyatakan mendapat peringkat satu dan mendapatkan beasiswa. Aku sangat senang mendengar hal ini. Alhamdulillah aku mendapat beasiswa, mungkin ini ganti dari beasiswa yang dulu aku tolak. Benar kata Ibu, beasiswa akan aku dapatkan kembali. Liburan Tengah Semester kurang lebih 3 minggu dan aku berencana pulang ke rumah tanpa aku memberitahu Ayah dan Ibu karena aku ingin memberikan kepada mereka.

            Pada awalnya, bagiku hidup di Pesantren sangatlah berat. Di Pesantren memang banyak aturan dan batasan yang membuat aku tidak bergerak bebas, seolah  berada di penjara. Namun, Pesantren bukan penjara tempat para tahanan. Melainkan Pesantren merupakan Penjara suci karena Pesantren merupakan tempat yang hanya orang – orang terpilih dan kuat yang bisa bertahan. Jika kita jalani dengan ikhlas semua yang kita harapkan akan membuahkan hasil. Percayalah pada Allah maka keajaiban akan terjadi pada kehidupan kita.

Penulis : LFI

Dahsyatnya Keikhlasan

Navigasi pos