Sepasang burung melayang berkelok kesana kemari menyusun sangkar untuk mempersiapkan kehadiran si buah hati,berputar putar tinggi dilangit yang cerah,membuat pemandanganya semakin terlihat indah,suaranya melengking bagaikan keluhan panjang.

Di bagian langit lain,terlihat jelas seekor burung jalak sedang bertaruh nyawa,dia terbang bagai batu lepas dari ketapel sambil menjerit sejadi jadinya.

Suasana pagi seperti itu bisa terpampang jelas di atas halaman rumah beni.seorang bocah berusia 14 tahun yang duduk di bangku kelas 3 SMP.seperti biasa,pagi itu ia Nampak bolak balik mencari seragamnya yang mempunyai ciri khas berwarna putih biru itu. Dibantu oleh 6 pembantunya,namun seragam itu belum juga bisa ditemukan,dengan lagak malunya beni teringat satu hal,dengan sigap ia langsung membuka tasnya yang berwarna merah bertulisan “ONE DIRECTION” itu. Ia lantas berteriak “aku menemukanya!!!” sambil mengangkat seragamnya.ini bukan pertama kalinya ia meinggalkan seragamnya terselip dalam tas seusai melakukan kegiatan olahraga di sekolah. Dengan bergegas 6 pembantunya langsung menyiapkan semua perlengkapan beni,mulai dari sarapan,menyiapkan seragam,menyemir sepatu,dan lain sebagainya. Sudah menjadi tradisi,apabila beni hanya duduk tenang sembari bermain gadget saaat semua orang sibuk mengurus dirinya.

Jam jam di hari pagi adalah jamnya semua orang sibuk,namun hal itu tidak pernah berlaku untuk bocah ini. Maklum,sejak kecil semua kebutuhanya sudah terlengkapi,ia selalu hidup dalam kemewahan dan selalu dimanja oleh orang sekiatrnya,baginya uang merupakan segalanya.orang tuanya selalu memberikan segalanya demi kebahagiaan beni.apalagi sejak ia hidup dirumah hanya ditemani oleh 6 pembantu dan 2 supirnya,tidak ada yang bisa mengawasinya,ia selalu hidup dengan peraturanya sendiri,ia adalah raja di dalam istanahnya.

Gedung bertingkat yang dicat dengan warna orange bercorak kuning yang memliki gerbang tinggi berwarna kuning ke emasan itu sudah mulai diramaikan oleh peghuninya. Gedung yang menjadi sekolah terfavorit di ibu kota itu adalah rumah kedua untuk beni.ia tengah menempuh pendidikan di kelas 2 SMP.

Semua mata tertuju pada mobil yang berhenti di depan gerbang sekolah,mobil mewah berplat nomor “B 3 NI” itu mampu membuat semua orang yang melihatnya kagum,terlihat seorang anak turun dari mobil itu memakai jaket berwarna merah dengan harganya yang tak main main.

Bagi siswa yang bersekolah di JHSOT Jakarta hal yang baru,beni memang terkenal dengan gayanya yang selalu membuat orag yang melihatnya ingin berada di posisinya,rupanya status social beni memang tidak bisa diragukan.

Ayahnya adalah pemilik PT.O tabemashu  di hirosima,Jepang,sedangkan ibunya adalah seorang  manager di perusahaan milik kakeknya. Dia adalah anak tunggal dari keluarganya yang bergelimpang harta itu. Maka bukan hal yang aneh lagi,jika disetiap minggunya ada saja barang yang memiliki harga fantastic telah dibeli olehnya.

Namun memang benar apa yang dikatakan oleh banyak orang,bahwa tidak ada manusia yang hidupnya sempurna,bocah berkulit putih yang memiliki mata sipit ini,tidak bisa merasakan bahagia selayaknya anak anak seusianya. Ia tidak penah merasakan rasanya hidup dengan kedua orang tua,dari usia 5 tahun orang tuanya sibuk bekerja,sehingga tidak ada yang bisa mengawasinya langsung.pantas saja,jika ia tidak bisa bersekolah dengan baik,bahkan untuk menaati peraturan sekolahpun dia tidak bisa.

Banyak kasus yang sudah pernah ia alami di sekolah,tidak sedikit juga hukuman yang pernah diberikan oleh gurunya,namun memang sudah menjadi wataknya,beni tidak pernah merasa kapok dan tidak pernah ada perubahan.

Sudah banyak laporan yang diterima gurunya disekolah mengenai kasus kasus beni.

Hingga pertemuan panas mengumpulkan wali kelas,guru BK dan kepala sekolah.hasil dari pertemuan itu menjadi keputusan hidup dan mati beni disekolah,apalagi 1 minggu yang akan dating adalah penentuan hasil akhir tahun.

Wali kelas mengundang orang tua beni ke sekolah,namun alasan yang sama selalu diterima oleh pihak sekolah dari orang tua beni,mereka sibuk bekerja sampai melupakan kewajibanya sebagai orang tua.

Namun kali ini pihak sekolah memaksa,ada hal penting yang harus dibahas,dengan rasa penasaran,ibu sinta (ibu beni) bersdia untuk dating ke sekolah besok pagi.

Pagi  yang seharusnya cerah,kini menjadi suram untuk beni. Kedatanganya ke sekolah bersama ibunya,ternyata adalah hari terakhir dia bersekolah.

Sulit untuk dipercaya,namun memang inilah kenyataanya. Seemua orang memiliki rencana,Tuhan juga mempunyai rencana.namun apa yang kita rencanakan belum tentu sama dengan apa yang tuhan rencanakan. Dan ternyata ini adalah rencana yang telah digariskan oleh tuhan untuk beni.

Sepulang dari sekolah,mobil yang dikendarai oleh ibunya tiba tiba berhenti di sebuah taman.

Tidak banyak percakapan yang mereka bicarakan saat berada di perjalanan,begitu pula saat mereka berada di taman,ibunya hany terdiam,tak kuat membendung air mata yang dia tahan.

Kecewa,sedih,dan penuh penyesalan,itu yang ia rasakan

“pyarrrrrrr!!!!!!!” tamparan itu adalah bentuk emosi dari ibunya yang sangat kecewa dengan apa yang telah anaknya lakukan

“ibu sudah memberikan segalanya untukmu,apa yang kamu mau,semua telah ibu turuti,fasilitasmu juga sudah lebih dari cukup,segalanya,segalanya kamu sudah punya!! Tapi apa yang telah kamu berikan untuk ibu? Apa yang akan ibu katakana kepada ayahmu?!” kalimat yang diucapakan begitu menghancurkan perasaan beni,namun semua yang ibunya katakana adalah sebuah kebenaeran yang memang harus ia terima. Ia tidak bisa mengelak,ia tidak bisa membantah,ia sangat paham dengan apa yang ibunya rasakan.

Namun,suasana itu menjadi panas saat ibunya melontarkan “kamu anak yang tidak berguna!!!”.

Beni terdiam,emosi yang selama ini ia tahan,seketika meledak

“kataakan sekali lagi jika aku tidak berguna untuk ibu,apa yang telah ibu berikan untuku?semua hanya uang,uang dan uang,tidak pernah ada kasih ,apa ibu telah menjadi ibu yang baik untuku?apa ibu sudah memenuhi kewajiban ibu sebagai orang tua? Siapa yang bisa menemaniku selama ini,apa semua ini hanya salahku?”

Seketika suasana kembali hening,tidak ada yang berani memulai pembicaraan,apa yang dikatakan oleh keduanya memang benar adanya.

Tiba tiba sebuah pelukan hangat yang dirindukan oleh beni,kini bisa ia rasakan kembali.

Ibunya memeluk dengan erat,dan meminta maaf dengn apa yang selama ini ibunya lakukan.

Pergantian musim di bulan Desember merupakan musim yang sangat ditunggu tunggu oleh penghuni negri sakura terebut,namun musim salju ini seketika terasa sangat panas saat kawa mendngar kabar dari sang istri bahwa anaknya telah di drop out dari sekolah.

Rasa hancur yang tengah ia rasakan bagaikan bola salju dimasukan kedalam api.

Tidak banyak pikir,kawa langsung pulang ke Indonesia untuk menindak lanjuti nasib anaknya.

Rembulan bersinar dengan begitu terangnya,bintang bintang ikut serta menghiasi langit,menemani rembulan.malam yang indah yang tengah di nimati oleh banyak orang.

Namun berbeda dengan malamnya keluarga beni,kali ini mereka berkumpul.sebenarnya ini adalah moment yang paling dirindukan oleh beni.

Tapi bukan situasi ini yang beni rindukan,berkumpul,hening,tidak ada yang berani memulai pembicaraan,hanya ada rasa kekecewaan yang menyelimuti benak mereka masing-masing.

Emosi sudah tidak dibutuhkan di situasi seperti ini,yang sedang mereka pikirkan adalah jalan keluar dari permasalahan ini,bagaimana nasib selanjutnya dari beni.

“bagaimana jika kamu ayah pindahkan ke pesantren?” ayahnya memulai pembicaraan dengan kalimat yang membuat semuanya terkejut

“tidakkk!! Beni tidak setuju dengan pilihan ayah,beni ingin tetap bersekolah,bukan tinggal di pesantren” bantah beni dengan nada bicara tinggi,menandakan bahwa ia menolak mentah mentah tawaran ayahnya

“di pesantren juga ada sekolahnya sayang,disana kamu bakal sekolah sambil mengaji,banyak pengalaman yang bisa km rasakan di pesantren” ibunya menenangkan keadaan yang sempat panas

“mau tidak mau,ayah akan memindahkan kamu ke pondok pesantren teman ayah,betah tidak betah kamu harus betah,kamu yang berulah,kamu juga yang harus menrima resikonya”

“tapi ayah,disini juga masih bayak sekolah yang bisa beni tempati”

“tapi kamu harus berubah,kamu ngga bisa kaya gini terus,nanti di pesantren,kamu akan mendapatkan banyak pelajaran,yang bisa bikin kamu sadar,kalo kamu mau disini terus,selamanya kamu juga bakal kaya gini terus beni!!!” sahut ayahnya dengan nada bicara tinggi,kini ayahnya sedang berada di puncak  emosi,tidak ada yang berani membantah lagi.

Semuanya terdiam,pertanda bahwa semua sudah setuju dengan keputusan ayah.

Ibunya merasakan betul apa yang tengah buah hatinya rasakan,ia menenangkan beni dengan segala cara,supaya anaknya bisa ikhlas dengan keputusan yang telah ayahnya buat.

Dinginya malam mewakili dinginya pembicaraan beni dengan ibunya,rasa malu karna gagal dalam mendidik anak,sangat disesali oleh sinta,ia sangat menyesal dengan apa yang terjadi saat ini. Ini semua bukan sepenuhnya salah beni,seharusnya ia tidak perlu bekerja sampai melalaikan kewajibanya menjadi seorang ibu.

Namun kini nasi sudah menjadi bubur.

Matahri mulai menyorot lubang lubang jendela kamar beni,cahayanya menyorot menembus gorden tebal kamarnya,pertanda bahwa hari sudah mulai pagi. Tidak bisa dipercaya bahwa ini adalah hari terakhir dirumah,karna siang ini,ayahnya akan mengantar beni ke pesantren.

Sulit untuk dipercaya,namun memang ini kenyataan yang harus diterima oleh beni.

“Cepat mandi,ayah sudah menunggu dibawah untuk sarapan”.

Angin tenggara bertiup,terlihat dari jendela kamar pucuk pucuk pohon bergoyang,daun kuning keemasan dan ranting kecil berjatuhan.

Tiba saatnya aku meninggalkan istanah yang sudah 14 tahun aku tempati,kehidupan baru dipesantren akan kutempuh mulai saat ini

Tidak banyak hal yang kami obrolkan selama diperjalanan,aku menikmati pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Mataku sudah terbiasa melihat gedung gedung tinggi di ibu kota,kini untuk pertama kalinya aku merasakan segarnta oksigen yang dihasilkan oleh pohon pohon pinus ditepi jalan.

Sesampainya di pondok pesantren,aku benar benar merasakan hawa sejuk yang ada.

Sangat berbeda dengan tempat tinggalku,sama sekali tidak bergedung,bahkan hanya sekedar rumah kepang dan bambu yang membuat siapapun yang datang akan merasakan jatuh cinta kepada tempat ini.

Penulis : FAL

Istana Bambu

Navigasi pos