Rina gadis desa si penyuka senja dia lahir  dari keluarga sederhana. Semasanya hidupnya dia tak pernah menginjakan kaki di luar  ranah Purbalingga. Di masa kecilnya dia hanya membantu orang tuanya berdagang menjual berbagai jenis kue-kue sederhana. Dia tinggal di desa terpencil di sebuah kecamatan di Kejobong yaitu di desa Krenceng.

  Usianya baru menginjak 15 tahun namun, ambisi untuk mengejar mimpinya begitu besar. Dia selalu mendapat ranking tinggi di kelasnya, presatasinya tak pernah turun. Walau terlahir dari keluarga sederhana, Rina pandai mensyukuri apa yang dia punya, dia tak pernah mengeluh bahkan minder dengan keadaannya. Dia wanita sholehah, rajin beribadah,mengaji bahkan mengajari di salah satu TPQ didesanya tanpa mengharapkan imbalan.

  Pada saat Rina lulus MTs, sebenarnya dia sudah bersepakat dengan temannya Santi untuk masuk di SMA bersama sama. Namun, ibunya tak setuju,ibunya ingin Rina memperdalam  ilmu agama, dan masuk di salah satu  pondok pesantren di Jawa Timur.

   “Bu mengapa Rina tak dibolehkan masuk SMA?,” tanya Rina saat sedang membuat kue didapur.

    “Masuk pesantren  itu lebih baik. Lagian di SMA untuk biaya transportasi saja sudah mahal, belum lagi untuk jarak dari rumah  ke kota tak cukup satu setengah jam , sudahlah Rina kamu akan  tetap masuk pesantren bersama Bibi Tuty  tak usah banyak biacara lagi,” Rina terdiam,bingung,pasrah , sekaligus sedih. Batinnya tak karuan, ingin mengadu, tapi tak bisa.

   Di kala senja Rina sering melamun, membayangkan betapa indahnya bersekolah di SMA nanti, namun semua harapan dan cita-citanya telah sirna.

   Akhirnya, 2 minggu kemudian Rina memutuskan untuk  menuruti apa  kata ibunya. Keputusan itu diambil setengah hati. Mau tidak mau,suka tidak suka dia harus tetap berangkat,apapun alasannya Rina tahu ibunya takkan  mengerti.

  Sebelum berangkat Rina menitip surat untuk temannya Santi. “Bu tolong  jika Santi mencari Rina sampaikan surat ini,” ujar Rina sembari  menyodorkan surat yang di buatnya kemarin malam. “Rina berangkat bu, ibu jaga diri ya,Rina pamit,” ibunya hanya mengangguk pelan, air matanya jatuh.

   Tepat pukul 7 malam  Rina berangkat bersama ayahnya ke terminal. Bus sudah menunggu, barang  bawaan Rina banyak sekali, koper,tas gendong dan gardus gardus berisi pakaian dan juga makanan untuk di bus 2 hari kedepan. “Biamillah nak,”ayahnya lembut berkata sembari memegang tangan kanan Rina.

   2 hari perjalanan, cukup melelahkan  untuk Rina dan juga ayahnya. Mereka sampai di pesantren sekitar  jam 8 pagi. Sambutan hangat dari para ustadzah di pesantren membuat kesan indah bagi Rina, dia mulai berpikir sepertinya semua akan  berjalan  baik.

   “masalah  biaya  biar  saya dan  Mas Pras yang urus,bapak tak usah khawatirkan apapun”, ucap Bi Tuty kepada ayah Rina. Ayah Rina langsung  pulang  setelah semua urusan selesai. “jaga diri nak,bapak ibu selalu mendo’akan  yang  terbaik  untukmu”, ucap ayah Rina sembari mengusap kepala dan  memeluk Rina.

   Pukul 10 selepas sholat Dhuha  para santri di kumpulkan di aula pesantren untuk mendapatkan pengarahan. Mereka hanya di berikan waktu 30 menit saja untuk menata kamar dan barang bawaan mereka. “satu  kamar berisi 5 orang santri kalian bisa melihat daftar nama dan kamar kalian pada mading dekat masjid. Ingat waktu kalian  hanya 30 menit manfaatkan waktu sebaik mungkin, pukul 10.30 kalian  harus sudah berada disini dengan barisan  yang  rapi”,  tegas ustadzah  Zahra dengan melotot kesana kemari. Dia memang  salah satu  ustadzah  paling ditakuti karna fisiknya yang tinggi besar dan wajahnya yang sadis, walau namanya yang terdengar indah.

     Rina,Anin,Fahda,Tanti dan Lilis mereka  satu kamar dengan asal tempat yang berbeda. Anin dia asli dari Jawa Timur, Tanti dari Jakarta,Fahda dari Solo,dan Lilis dia Bandung. Meski latar tempat mereka yang berbeda namun, latar belakang mereka berada di pesanten adalah sama yaitu ‘keterpaksaan’.

   “nin  yang bener dong, tuh bawah  sono pegangin”, Tanti dengan logat Betawinya berbicara pada Anin. Mereka bersama-sama membawa lemari pakaian berukuran cukup besar untuk di leatakn dikamar.

   Sementara Rina Fahda dan Lilis menunggu dikamar  sembari  menata barang bawaan mereka.

“kalian kenapa masuk pesantren?Lilis mah sebenernya males, kalau  ngga karena ibu Lilis aja dah kabur dari rumah”,  ucap Lilis saat sedang  membuka tas gendongnya dan mengeluarkan baju

  “gua udah sempet  kabur,tapi tetep aja dicari dan  ketemu langsung aja gua diseret sama babeh buat di bawa ke penjara suci ini”, ucap Tanti tiba-tiba saat baru  sampai di pintu kamar. “ gantian lu yang mindahin lis,da,rin, cape banget gua”,  Tanti  langsung membaringkan  tubuhnya di kasur disusul dengan Anin. “nek aku si hampir sama kaya Tanti, nek ngga karena ibu aja aku ngga akan mau. Tapi ngga separah kamu,sampe kabur”, Anin berkata sambil menengok  ke arah Tanti. “kalo kalian?” tanya Lilis sambil menatap ke arah Rina dan Fahda. “aku kalo bapak  ndak  maksa aku juga ndak  akan sampai disini. Aku dah daftar SMA padahal dah keterima tinggal masuke tok malahan dilarang sama bapak akhirnya berakhir disini, ndak bisa punya kisah cinta anak SMA”, ucap Fahda, wajahnya kelihatan murung. “aku juga sama kaya Fahda,aku akan masuk SMA sama temenku, tapi ibu melarangku dengan alasan jarak dari rumahku ke SMA yang berada dikota sangat jauh ,belum lagi biaya transportasi yaang mahal”, “sebenarnya latar belakang kita di penjara suci ini sama ‘keterpaksaan’ “, mereka semua tertawa,lupa kalau ustadzah Zahra memberi waktu  hanya 30 menit.

  “apa yang kalian lakukan?! Enak tertawa seperti itu memangnya sudah beres kamar kalian? Waktunya hanya tinggal 10 menit dan baju  kalian belum di tata satupun di lemari itu?!” semua terkejut, tak ada yang mengetahui  jika ustadzah Zahra berkeliling untuk mengecek  keadaan  kamar. Seketika mulut mereka bungkam, dan bergegas untuk kembali mengerjakan tugasmereka..

  10 menit berlalu, mereka belum selesai membereskan kamar, dan alhasil mereka terlambat. “apa yang  kalian lakukan? Mengapa bisa terlambat? Kalian tahu bukan waktunya sudah habis mengapa kalian  tak langsung bergegas kesini  saat waktu  habis? Baru hari pertama masuk saja kalian sudah melanggar peraturan, bagaimana jika 3 tahun kedepan hah?!” ustadzah  Zahra  membentak mereka, wajahnya terlihat semakin sadis, tatapannya tajam  menerkam bagai harimau kelaparan menncari mangsa. “ma-ma-maafkan kami ustadzah” Tanti memberanikan diri untuk bicara walau terbata-bata. Mereka menjadi pusat perhatian di antara para santri, wajah mereka pucat seakan  tak  punya nyawa.

  “kalian lihat?! Mereka ini contoh yang tidak baik,jangan sekali kali kalian mencontoh  mereka,peringatan  pertama mereka akan kena hukum, jika sudah 3 kali maka mereka akan di keluarkan dari sini dan tak akan bisa masuk sekolah manapun!”, tak hanya matanya namun,perkataannya  juga amat  kejam  menyayat  hati.  “kalian bisa kembali ke kamar kalian masing-masing sambil menunggu waktu sholat dhuhur datang, kecuali kalian berlima akan mendapat hukuman atas pelanggaran ini”, tambah ustadzah Zahra. Para santri meninggalkan aula dan bergegas menuju kamar.

   “ayo ikuti saya!”, mereka mengikuti ustadzah zahra dengan langkah patah patah, lemas tak kuruan. “kalian  pegang telinga teman di samping kalian”, mereka hanya bertatapan satu sama

lain. “ayo cepat  tunggu apa lagi!” mereka menuruti apa kata ustadzah Zahra. Rina memegang telinga Tanti ,Tanti memegang telinga Fahda,Fahda memegang telinga Anin,Anin memegang telinga Lilis,Lilis memegang telinga Rina,dan telinga Lilis di pegang oleh ustadzah Zahra. “jewer telinga teman mu sekuat mungkin,apa yang saya lakukan kepada kamu  lakukanlah kepada teman mu! Rasa sakit yang kamu  rasakan  biarkan  temanmu merasakan  juga. Mengerti !”, ucap ustadzah Zahra kepada Lillis. “mengerti ustadzah”, apa boleh buat mereka menurut, jika tidak mereka akan diberi hukuman yang  lebih berat pastinya. “aaaa…”,teriak Lilis saat ustadzah Zahra memutar telingnya Lilis tanpa basa basi memutar telinga Rina dan begitu pula seterusnya. Itu berlangsung lama bayangkan saja sejak pukul 11.00 sampai 12.00 saat matahari sedang terik teriknya mereka berdiri ditengah lapangan di saksian oleh santri junior maupun senior,betapa malunya mereka.

  Saat adzan dhuhur berkumandang barulah hukuman itu berhenti. Ustadzah Zahra memerintahkan mereka untuk segera bersiap siap untuk sholat. “sudah  hentikan, kalian kembali ke kamar dan bersiap untuk sholat dhuhur jangan sampai terlambat lagi!”, jelas Ustadzah Zahra

“gila lu rin telinga gua sampe merah banget gini ya ampun  sakit banget disenggol dikit aja sakit”,Tanti menyalahkan Rina karena mengira Rina menjewer telinganya begitu keras,padahal semua merasakan  hal yang sama.”aku  juga sakit Tanti ngga cuma kamu aja, kita semua sama sama sakitnya”,timpal Rina. “kalian  mah beruntung dari pada aku, Ustadzah  Zahra begitu keras memutar telingaku  rasanya telingaku budeg”, Lilis tak mau kalah,karena memang dia yang mungkin merasakan paling sakit karena kekuatan ekstra dari Ustadzah Zahra. “sudah jangan saling  menyalahkan,kita semua merasakan sakit yang sama. Ayo cepat  jangan sampai terlambat lagi”, ujar Fahda mengingatkan. Di masjid sudah ramai santri untuk sholat dhuhur. Saat mereka sampai di masjid santri melihat mereka dengan tatapan  mengejek, tak jarang ada santri tertawa saat wudhu  melihat  telinga mereka memerah bagaikan digigit ratusan semut.

  Setelah sholat dhuhur selesai santri di persilahkan untuk makan. Rina bertemu dengan Bibi Tuty di sela sela makan. “Rina kamu baik baik saja? Bagaimana hukuman tadi apakah kamu  menyesal?”, ucap Bibi Tuty dengan memasang muka mengejek. “Oh Bibi,ehh maksud saya Ustadzah Tuti, emmm menyesal sakali us, saya tidak akan pernah mengulanginya lagi,hehe”,ucap Rina sambil tersenyum malu. “bagus kalau kamu  menyesal, ayo  makan yang banyak” ucap Ustadzah Tuti sembari mengelus kepala Rina.

  Selepas sholat ashar, Rina dan teman satu kamarnya kembali ke asrama membereskan kamar lalu mandi. Rina melihat langit yang mulai gelap dan Rina berkata dalam hati “wahai senja bisakah  kamu  menunjukan siapa dia?”. Rina teringat seseorang, seseorang  yang  muncul dipikirannya saat dia melihat senja, sosok laki-laki yang bahkan dia tak tahu siapa namanya,bagaimana wajah aslinya, dia hanya tahu, badannya tinggi besar sebatas itu saja,dia hadir dikala senja disetiap Rina bermimpi.

  Rina selalu tidak berusaha mengingatnya, namun, saat senja datang dia selalu datang terbayang oleh fikiran. Itu sudah  berlangsung cukup lama, 3 bulan berturut-turut saat Rina tidur dan bermimpi, laki-laki itu selalu datang,anehnya selalu dikala senja. Terkadang dia datang sendiri terkadang dia datang dengan  wanita berjilbab yang selalu memegang erat tangannya. Sekeras apapun Rina melupakan  itu takkan berhasil.

*

  Rina melewati hari-hari di pesantren dengan baik,semua berjalan lancar,Rina mulai terbiasa dengan rutinitas di pesantren. Karena Rina terbiasa bangun tengah malam saat dirumah,sehingga dia mudah beradaptasi dengan suasana pesantren. Tidak seperti teman-teman satu kamarnya yang kewalahan dan banyak protes dengan peraturan pesantren yang ketat.

  Saat itu tepat pukul 10 pagi, para santri dikumpulkan di aula untuk mendapatkan ceramah dari salah satu Ustadz ternama yaitu Ustadz Abdul Sholeh. “Assalamu’alaikum wr.wb ukhti, bagaimana kabar ukhti ukhti sholehah di aula ini?”, ucap Ustadz Abdul dengan penuh semangat. “Walaikumsalam wr.wb, alhamdulillah luar biasa tetap semangat dahsyat allahu akbar!!”, jawab para santri penuh semangat.

  Rina yang duduk paling depan tak menghiraukan sapaan dari Ustadz. Pandangannya jatuh pada sosok laki-laki yang duduk disamping panggung dan sibuk dengan laptopnya. Wajahnya bercahaya,memakai peci,dengan tubuh tinggi besar,baju koko berwarna merah maroon,di padukan dengan celana hitam dan sepatu sneakers bertali berwarna senada dengan bajunya.

  Rina berfikir keras sekali, siapa dia? Mengapa aku seperti mengenalnya? Mengapa aku seperti pernah bertemu dengannya. Tidak, bukan pernah bahkan sering. Mengapa jantung ini berdebar? Mengapa seketika tubuhku membeku,berkeringat dingin. Siapa sebenarnya dia? Rina tak konsentrasi dengan apa yang dibicarakan oleh Ustadz Abdul. Pikirannya tertuju pada lelaki itu,lelaki berbaju maroon.

   Lalu,pada sebuah kesempatan lelaki itu bicara di persilahkan oleh Ustadz Abdul. “Assalamu’alaikum wr.wb” “Wa’alaikumsalam wr.wb” menjawab salamnya saja bibirnya bergetar,hatinya tak karuan. “perkenalkan saya Muhammad Alif Fikri, saya anak dari Ustadz Abdul,usia saya 17 tahun, saya juga bersekolah di pesantren ini di asrama laki-laki. Sekian mungkin itu saja, wassalamu’alaikum wr.wb”, di akhir kalimatnya dia memberi senyum teramat manis Rina terkagum jantungnya terasa mau copot,benar-benar baru pertama kali Rina merasakan itu.

  Sampai malam ketika Rina mau tidur,dia selalu mengingatnya,bahkan saat ingin makan,ingin mandi,dalam aktivitas apapun Rina mengingatnya. Siapa dia mengapa dia sangat familiar? Yang semakin membuat Rina penasaran adalah mengapa di hari pertama Rina bertemu Alif,seketika mimpinya berubah. Lelaki itu yang dulunya hanya datang sendiri,atau bersama satu perempuan saja, kini dia datang bertiga, lelaki itu, dengan 2 sosok perempuan. Perempuan itu sama-sama berjilbab, yang membedakan yang satu terlihat lebih tua,seperti seorang Ibu dengan anak perempuannya.

  Malam itu sehabis sholat tahajud Rina membaca Al-Qur’an tak seperti biasanya, Rina merasa ngantuk dan tak sengaja tertidur di beralaskan sajadah. Mimpi itu datang, kali ini benar-benar jelas, lelaki itu bersama 2 wanita. Rina bisa melihat dengan jelas, lelaki itu adalah Alif, ya tentu saja selama ini Rina berfikir Alif adalah orang sangat dia kenal. Ternyata dialah sosok laki-laki yang selama ini besarang dimimpi Rina. Alif menggandeng 2 wanita siapakah itu? Entahlah sebelum Rina melihat jelas 2 sosok wanita itu ia telah bangun “Astaghfirulloh”, reaksi Rina saat terbangun dari tidurnya. Rina sempat berfikir apa yang barusan terjadi,apa yang barusan dia mimpikan. Rina tersadar,dia berfikir mengapa Alif? Dan siapa 2 wanita itu?

  Adzan subuh berkumandang, Rina langsung mengambil kembali air wudhu dan bergegas ke masjid. Sepanjang hari selama Rina berada di pesantren ia selalu mengharapkan dapat bertemu kembali dengan Alif.

  Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun berlalu. Rina jalani semua itu di pesantren dengan baik. Dia berhasil membuat dirinya yakin bahwa apa yang diinginkan ibunya adalah yang terbaik untuk putrinya. Dia betah berada di pesantren dan bahkan mendapat predikat santri ‘terbaik’ di asrama. Rina rajin, suka menolong, rendah hati,sabar dan fisiknya yang cantik menambah kesempurnaan dirinya. Namun, semua itu tak diraihnya dengan mudah, Rina jatuh bangun di terpa berbagai macam masalah, seperti dituduh banyak mencontek saat hafalan,mencuri uang temannya,bahkan pernah waktu itu dia tuduh mencuri soal untuk ujian kenaikan kelas,semua itu menerpa karena banyak yang iri melihat kecantikan dan kesabaran dari gadis desa ini.

  Rina terbiasa menerima berbagai ejekan dan hujatan yang ditunjukan pada dirinya, beruntung ada Anin,Lilis,Fahda dan Tanti yang selalu berusaha berada di samping Rina baik suka maupun duka.

  Sore itu Rina sengaja mampir ke perpusatakaan untuk membaca buku, ia datang sendirian. Di sela-sela tumpukan buku,ia melihat sosok yang tak asing lagi,Alif ya itu Alif pasti. Mata mereka bertemu seolah-olah Alif  juga memendam sesuatu dalam tatapannya. Rina tak mampu menyembunyikan rasa canggung diwajahnya, dia gugup langsung mengambil buku dan duduk.

  “Assalamu’alaikum” Alif menyapa dan duduk didepan Rina  itu sesuatu yang tak pernah Rina duga. “Wa-wa-wa’alaikum-salam”’ seketika untuk menjawab salam dari Alif saja mulutnya susah sekali mengeluarkan suara. “Kamu Rina kan? Aku sering mendengar tentang kamu, kamu yang banyak sekali mendapat masalah namun, tetap istiqomah. Bolehkah aku mengenalmu lebih dalam? Bisakah kita berteman?” Alif berkata seperti itu dengan senyuman merekah di wajahnya. Membuat Rina salah fokus dengan lesung di kedua pipinya. “subhanallah, ciptaanMu luar biasa Tuhan”, Rina berkata dalam hatinya sendiri benar-benar dia  kagum pada Alif. “ahh aku mungkin tidak sebaik yang kamu katakan. Boleh saja jika kita berteman. Bagaimana kamu tahu namaku?” Rina berusaha terlihat biasa saja didepan Alif, menyembunyikan segala kecanggungan yang ada dalam dirinya. “semua laki-laki di asrama tahu tentang kamu,bahkan kisah-kisahmu yang bia dibilang sangat pilu. Mereka kagum pada keteguhan hatimu, termasuk aku”, lagi lagi Alif melemparkan senyum terbaiknya, Rina tak kuasa “astaghfirullah, mengapa aku tak kuasa melihat senyumnya Tuhan”, Rina berkata dalam hati. “aku belajar semua itu dari pengalaman-pengalaman hidupku. Aku sering diterpa berbagai macam masalah dengan cara itu jika kita berusaha untuk tetap tawakal terhadap takdir Allah, disitu Allah akan menaikan derajat hambaNya di hadapanNya. Aku berusaha yang terbaik yang bisa aku lakukan,semata-mata karena aku mendamba kasih sayang Allah, walau aku sadar selama ini Allah menganugerahkan segala nikmatNya kepadaku, namun,rasanya tak pantas jika aku hanya diam saja menikmati tanpa berbuat kebaikan. Ya begitulah aku percaya apapun yang baik akan kembali pada sesuatu yang baik pula”, Rina tersenyum,Alif tersenyum seakan akan kagum dengan kata-kata Rina. Di kala senja,Alif dan Rina bertemu berbincang satu sama lain.

  Selepas kejadian itu Rina tak pernah bertemu dengan Alif, dan mimpi itu seketika hilang,dia tak pernah muncul kembali. Entah apa sebabnya, namun, Rina tak menghiraukan, ia fokus dengan Ujian yang akan dihadapi 3 bulan kedepan. Ujian ini lisan,jadi,setiap santri akan diuji seberapa dalam ia selama ini menuntu ilmu di pesantren, mendalami islam atau tidak,dan kepribadian mereka akaan dilihat apakah semakin baik di setiap tahun atau malah sebaliknya.

  Rina menjalani ujian tersebut dengan baik, dia bisa pulang ke desa dengan nilai yang akan membuat ibu dan ayah Rina merasa bangga. Rina tersenyum puas dengan semua usaha dan kegigihannya selama ini. Rina berhasil membuktikan pada anak-anak yang mengejeknya menghujatnya dan memfitnahnya, jika sebuah kegigihan hati untuk menjadi lebih baik di jalan Allah, pasti Allah akan mudahkan.

  Perpisahan tentu akan ada, pasti. Rina menjabat tangan para Ustadzah dengan haru,tak hanya Rina Ustadzah pun mengalami hal yang sama mereka semua menangis teringat masa lalu ketika mereka belajar bersama,mengingat bagaimana lelah dan letihnya mereka mengkhatam Al-Qur’an bersama-sama. Santri menjabat tangan satu persatu sambil mengucapkan maaf. Beratus ribu jabat erat.

                                                               *

 Rina sampai didesanya pukul 3 pagi,Rina sengaja tak memberitahu keluarganya bahwa dia pulang. “assalamu’alaikum”, Rina mengetuk pintu dengan senyum mengembang di wajahnya. “wa’alaikumsalam”,dari ujung sana terdengar ibunya menjawab salam Rina. “subhanallah Rina”,seketika ibu Rina menangis memeluk haru tubuh Rina.”alhamdulillah bu,Rina bisa pulang kembali. Ibu sehat? Bagaimana dengan bapak? Apa adik baik baik saja”, Rina terharu, air mata terus membasahi pipinya dan ibunya. “semua baik-baik saja nak,ayo masuk kamu pasti rindu kehangatan rumah.”

 Dikala senja Rina sering teringat Alif, dia mulai hinggap kembali dalam pikirannya. “apakah salah jika aku mengharapkanmu yang baik rupa serta akhaknya” sering sekali Rina mengatakan hal itu pada dirinya sendiri untuk Alif. Rina sering berdo’a agar Alif baik-baik saja, agar dimudahkan segala urusannnya,agar Alif senantiasa diberi kebahagiaan. Segala sesuatu demi kebaikan Alif dia selalu meminta kepada Allah disepertiga malammya.

  3 bulan sudah Rina berada dirumah. Siang itu, Rina sedang membuat kue untuk di jual. Tok tok tok “assalamu’alaikum”, ada seorang laki-laki yang mengetuk pintu rumah Rina. “wa’alaikumsalam”, Rina yang membuka pintu. “Alif? Ustadz Abdul? Bibi Tuty?”, Rina terkejut setengah tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Mereka tersenyum, kedatangan Alif adalah tak lain dan tak bukan untuk melamar Rina.

 Semua penantian,do’a dan mimpi itu terjawab, Rina menemukan seseorang yang akan menjadikan kesempurnaan dalam taatnya kepada Allah. “kau terlihat sangat cantik istriku”, mereka tersenyum sembari memegang sang jabang bayi.

Penulis : FMA

RINA dan ASRAMA SENJA

Navigasi pos