Pondok Pesantren adalah Lembaga Pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, menghayati, mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedomman perilaku sehari-hari. (Dhofier,1994)

Seperti apa si kehidupan di Pondok Pesantren?

Apakah disaana penuh dengan ketegangan?

Itulah pertanyaan yang terus terlintas dikepalaku. Ketika aku memilih kehidupanku yang baru ini. Yang berbeda dari kehidupanku sebelumnya,disana aku harus melakukan semuanya sendiri dari mencuci baju sendiri,bangun pagi sekali,dan tidur larut malam. Tapi semua itu ada manfaatnya.

Perkenalkan Namaku Mina.Aku masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Aku anak Pertama dari 2 bersaudara.Ayahku seorang Guru di Sekolah Menengah Atas (SMA),dan Ibuku seorang Ibu Rumah Tangga tetapi Ibuku juga membuka Toko Kue dirumah.Aku memiliki seorang adik perempuan,namanya Rania.Umur Rania masih sangat muda,Rania berumur 7tahun,memiliki perbedaan 7 tahun denganku. Tapi,aku masih tetap menyayanginya.

            Aku sekarang berumur 14 tahun,tepat saat aku lulus SMP. Aku mulai berfikir akan melanjutkan kemana,sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Pesantren.Aku memutuskan pergi ke Pesantren karena aku ingin memperbaiki diri sendiri.Aku ingin mempelajari Agama yang selama ini belum aku mengerti.

            Sekarang,Hari pertamaku masuk Pesantren.Sejak berangkat dari Rumah,Aku merasa sangat senang.Namun,aku memiliki beberapa pikiran.

            “Seperti apa teman sekamarku nanti?”

“bagaimana aku mengawali hubungan dengan mereka?mengingat aku tidak mudah berinteraksi dengan orang baru,”batinku.Pikiran seperti itu terlintas didalam kepalaku ini.

Akhirnya,kehidupan baruku ini sudah ada didepan mata. Tak terasa sepanjang perjalanan tadi,Aku hanya memikirkan apa yang harus aku lakukan.Ayah,Ibu,Aku,Rania,semuanya turun dari mobil dan menurunkan barang-barangku.

“Mina,Kamu harus menuruti apa kaya pak Kyai ya nak,”perintah Ibu.

“siap,ibu,”jawabku tegas.

“ya sudah,sekarang kamu pergi cari kamar kamu,’kata Ibu.

“Mina,jangan lupa hubungi kami selalu dan jika terjai sesuatu langsung hubungi    Ayah atau Ibh,”kata Ayah.

“Iya…Ayah sayang,”jawabku.

“Kok cuma ayah yang dibilang sayang ka,Rania kan mau,”kata Rania dengan imut.

“iya…iya…Rania sayang,”kataku menggoda.

“Mina sayang Ayah,Ibu,dan juga Rania,Mina sayang semuanya,”lanjutku.

“Kami juga menyayangiu nak,”jawab Ayah.

“Ya sudah,sekarang kamu masuk cari kamar kamu,”perintah ibu.

“iya,ibu,”jawabku.

“Semuanya aku pergi dulu ya,”kataku dengan melambaikan tangan.

Aku mulai menyusuri koridor demi koridor hingga akhirnya,aku menemukanya.”Aku harap,Aku bias berinteraksi dengan mereka,”batinku.

Sepanjang perjalanan,Aku selalu menundukkan kepala dan tidak pernah menyapa orang yang melewatiku.Sampai akhirnya,didepan kamar aku sangat gerogi,akhirnya aku memberanikan diri membuka pintu.

“Selamat siang semuanya,Namaku Mina.”salamku dengan menutup mata.

Kwakk….kwakk….kwakkk….(suara burung gagak karena tidak ada orang yang merespon)

            “Apakah aku salah kamar?kenapa tidak ada orang disini?”batinku

            “oy…kamu salamnya kesiapa?”Tanya seseorang dari belakang.

            “ehhh..siapa kamu?”tanyaku.

            “Aku Atisya,ahh..pasti kamu Mina kan?”tanyanya lagi.

            “iya,bagaimana kamu tahu?”tanyaku balik.

“itu…”jawab Atisya dengan menunjukkan  daftar nama.Aku menoleh,dan berkata “ahh…iyaa,”dengan tersenyum.

“oy…kalian,”teriak seorang wanita dari jauh.

“siapa lagi dia?”tanyaku.

“nanti juga kamu tahu,”jawabnya dengans enyuman manis.

“ayo kita masuk,”kata wanita yang berteriak tadi,dan menyeretku serta Atisya.

Aku pun bingung dengan situasi ini,”Kenapa sifat anaknya aneh sekali?Emanh di Pesantren boleh berteriak-teriak?”batinku.

“salam kenal semuanya,namaku Sina,”kata seseorang anak perempuan yang berteriak tadi.

“Salam kenal semuanya,Namaku Atisya,”kata seseorang yang mengejutkanku dari belakang tadi.

Hening seketika…….

            “oy…Namamu?”Tanya Sina dengan mengejutkanku.

            “ehh…iya..Salam kenal semuanya,Namaku Mina,”jawabku.

            “ya…kita sudah saling mengenal,sekarang kita beres-beres saja dulu,”kata Atisya.

            Tak lama kemudian,Adzan Dzuhur berkumandang.Kami bertiga bergegas mengambil mukena kami dan menuju masjid.

            “Ayo,kita berangkat,”katamu.

            “Ayo…”jawab sina dan Atisya bersamaan.

            Sampai dimasjid orang-orang mulai berdatangan,kini kami bertiga bergegas mengambil air wudhlu.Kemudian kami menjalankan ibadah Sholat Dzuhur,setelah selesai kami kembali ke asrama kami.Kemudian,kami disuruh berkumpul,dan diberitahukan tentang peraturan-peraturan yang harus ditepati setiap santri.Aku mulai merasa aneh kepada Atisya,kenapa dia tampak tidak senang berada disini.Tapi,jika Sani membuat lelucon pasti dia tertawa. Tapi,ketika Atisya ditanya apakah dia mmemiliki masalah pasti selalu menjawab bahwa dia baik-baik saja.

            Ketika kami selesai melakukan pengkajian pada jam 22.00.Selama pengkajian berlangsung,Atisya seperti tidak menkmati Pengkajiannya,Sedangkan Sina dia seperti anak yang sedang mengantuk,dan ingin sekali tidur.

            “Oyy…Somi,lama tidak bertemu,”teriak Sani.Sontak aku,dan Atisya terkejut dengan cara bicara Sani yang suka berteriak-teriak.Padahal dia sudah pernah ditegur oleh Nyai agar berperilaku lebih halus sedikit.Mata kami terbelalak karena melihat sepasang mata yang sedang melihat kelakuan somi yang selalu berteriak-teriak,dan seperti anak yang tidak punya etika sopan santun.Matanya menunjukkan bahwa kami harus segera bubar,Kami langsung lari tergopoh-gopoh.Aku,dan Atisya yang pertama sampai didepan kamar,ketika Sani tiba didepan kamar kami semua terjatuh,Karena dia terpeleset air didepan kamar kami.Aku,dan Atisya yang didepannya terjatuh,terdorong oleh Sani.Kemudian,kami bergegas masuk kamar,dan tiba-tiba kami tertawa terbahak-bahak.Mengingat kejadian itu sangatlah lucu dihari pertama kami masuk Pondok Pesantren.

            Keesokkan malamnya,ketika kami disuruh pergi untuk tidur,Sani menyuruh kami untuk begadang.

            “Ayolah,kita bercerita-cerita,”perintah Sina.

            “Ini sudah malam Sin,Aku sudah mengantuk,”jawabku.

“Bagaimana denganmu tis?”tanya Sina.

“Aku..hm…ingin tidur saja,”jawab Atisya tergagap-gagap.

“yah…yah…kalau kaya gini aku harus bicara sama siapa dong?”katanya seorang diri.

kwakk…kwakk….kwakk….(suara burung gagak karena tidak ada yang merespon)

“Wah…. Atisya!Mina!Kalian!!!!!!”teriak Sina.Tiba-tiba seseorang membuka pintu,dan Sina seketika terdiam.

“Ini sudah malam Sina,kenapa belum tidur?”tanya Nyai.

“Iyaa…Nyai ini saya mau tidur,”jawab Sina dan bergegas tidur.

Mendengar hak tersebut,Aku ingin tertawa,namun aku menhannya dan berpura-pura  tidak mengetahuinya.Aku sengaja ingin pergi ke Pesantren,sebenarnya benar gak sih,omongan orang-orang kalau dipesanten itu kehidupannya penuh dengan ketegangan,namun tenang.Tapi,yang baru aku alami ini seperti kehidupanku sebelumnya,ketika aku belum masuk ke Pondok Pesantren.Dan itu berbeda sekali dengan perkataan orang-orang diluar sana.Sinalah yang selalu membuat tawaku dan Atisya setiap hari.Padahal kami baru kenal beberapa hari yang lalu,Sina selalu mudah berinteraksi dengan orang-orang yang baru dia kenal.Itulah yang membuatku nyaman dengannya.Sedangkan,Aku sulit untuk berinteraksi dengan orang baru,namun semenjak aku mengenal lingkungan ini,aku mulai memahami pentingnya berinteraksi dengan orang lain.Sina selalu berbicara dengan gayanya yang super konyol,mungkin Dia masih terbawa suasananya dengan teman-temannya sewaktu SMP.Tapi,itulas Sina,orang yang baik,konyol,tidak peduli apa yang orang bicarakan tentang dirinya.Anehnya,kenapa orang seperti dia mau mausk ke Pondok Pesantren  yang penuh dengan ketegangan.

Sedangkan Atisya ,Dia baik orangnya terkadang dia juga membuat hal lucu.Tapi,Ada yang aneh dari Atisya dia terkadang selalu diam dan seperti orang yang selalu memendam perasaannya sendiri.”Apakah dia ada masalah dengan orang lain?”batinku.Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 00.00.Aku pun terlelap dalam tidur,belum lama aku tertidur alarmpun berbunyi pukul 03.00 pagi.Aku mematikannya,dan terbangun,saat aku membuka mataku,Aku terkejut dengan rambut Atisya yang panjang yang kukira Kuntilanak masuk Pondok Pesantren.Atisya tertawa terbahak-bahak karena raut wajahku yang lucu ketika terkejut.Dan,Sani masih tertidur pulas,Aku,dan Atisya mencoba untuk membangunkan Sani.Namun,Sani masih terlelap dalam tidur.Satu hal yang harus kalian tahu adalah bahwa Sani orangnya sulit sekali untuk bangun.

Seseorang mengetuk pintu dari luar,Aku membukanya.

“Kenapa kalian masih disini?” tanya Nyai.

“/Kami sulit membangunkan Sani Nyai,”jawabku.

“Atisya,Mina,kalian sekarang ke Masjid,”perintah Nyai.

“Baik bu,”jawab kami serempak.

“Sani,bangun!”perintah Nyai. Mendengar suara Nyai,Sani langsung bangun.

“iya Nyai,”jawab Sani tegas.

“Cepat kamu,pergi ke Masjid dan ambil wudhlu,”perintah Nyai lagi.

“Iya,Nyai,”jawab Sani,dan bergegas ke Masjid.

Ketika menuju ke Masjid Sani bergegas lari dan mengejar Kami,namun ketika dia lari dengan cepat dia tidak melihat tiang didepannya dan menabraknya,seingga jidatnya terluka sedikit.

            Ketika Siang tiba,Sani disuruh meghadap ke Nyai.Aku,dan Atisya berada di kamar.

            “Atisya,Apakah kamu memilki masalah selama ini?”tanyaku penasaran.

            “iy…iyaa..”jawabnya tergagap.

            “Ceritalah kepada kami,siapa tahu kami bias membantu,”kataku.

“Sebenarnya,Aku disini karena keinginan orang tuaku,bukan keinginanku sendiri,”kata Sina.

“Tapi beberapa hari ini,Aku sadar kalau di Pesantren tidak dengan suasan tegang,itulah alasanku bisa bertahan disini,dan bahagia bersama kalian disni.Pikiranku,dan Pikiran orang-orang yang diluar Pondok Pesantren,sangatlah berbeda dengan yang kualami ini,”lanjut Atisya.

“memang seperti itu,aku pun merasa senang,tapi apa kamu akan pergi dari Pondok Pesantren ini?”tanyaku.

“Sulit untuk meninggalkan kalian di Pondok Pesantren ini,Aku juga bahagia kalian menjadi sahabat terbaikku,Kalian yang selalu mebuatku tertawa dengan tingkah kalian ‘yang konyol,”kata Atisya.

Jangan sampai kita terpisah,terutama Sina,Sina yang selalu membuat kita tertawa dengan tingkahnya-tingkahnya yang lucu,itulah yang membuat kita nyaman,kasih sayang yang kita bagikan ke orang lain itulah yang membuat kita selalu bahagia disini,”

“Kalian membicarakanku?”tanya Sina dengan mengejutkan kami yang entah dari mana datangnya orang ini.

“Tidak,”jawab kami serempak

“Bagaimana sekarang kamu setelah di panggil oleh Nyai?”tanya Atisya.

“Tidak apa-apa,lagian Aku ini anaknya Nayi kali,”jawab Sina dengan Santainya.

“Whatt!!!!!!!!!!!!!”teriakku,dan Atisya karena terkejut.

            Begitulah hari-hariku di Pondok Pesantren dengan 2 sahabtaku,Sina,dan Atisya.Kehidupanku di Pondok Pesantren sangatlah bahagia,tidak seperti yang orang-orang katakana yang penuh dengan ketegangan.Kami hidup di Pondok Pesantren dengan kekonyolan yang selalu Sina lakukan yang membuat kami tertawa.Itulah hidupku dengan 2 sahabtkau yang tak sesuai angan-angan orang diluar sana.

Penulis : ISK

TAK SESUAI ANGAN

Navigasi pos