Nama ku Asyifa Khasanah, aku bersekolah di SMPIT permanah, aku duduk di bangku kelas VIII, aku anak  pertama dari 2 bersaudara, adikku bernama Haikal Ramadhan, Haikal kini masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dia  bersekolah di SDIT Permanah, duduk di bangku kelas 3. Kita berasal dari keluarga yang berada, ayah ku kerja sebagai Direktur Utama di perusahaannya, ibu ku seorang designer, ibuku membuka usaha dirumah, dengan alasan agar aku dan adikku dapat terpantau oleh ibu. Aku dan adikku sangat di manja oleh kedua orang tua ku, semua kebutuhan dan keinginan kita selalu di penuhi, kita tidak hanya di manja oleh mereka kita juga di didik tentang agama, di setiap malamnya kita wajib tadarusan Al-Quran sesibuk apapun itu, aku sangat bersyukur mempunyai orang tua seperti mereka yang sangat menyangiku dan adikku.

            Libur Akhir kenaikan kelas lalu, aku berkumpul dengan teman teman SDIT ku, kita berkumpul di sebuah tempat makan, mereka bercerita tentang asyiknya tinggal di Pondok Pesantren, 80% dari teman-teman ku dulu semuanya melanjutkan sekolah sekaligus pondok pesantren, dari dulu teman-teman ku dan aku membayangkan untuk tinggal di sebuah pondok pesantre, tapi aku dan 20% teman-temanku yang tidak jadi  melanjutkan ke pesantren. Setelah berkumpul tadi, disaat aku pulang aku bilang ke Ibuku yang tadi menjemputku “bu, tadi waktu kumpul teman-temanku membahas tentang asyiknya mereka di pondok pesantren bu, aku jadi pengin pindah ke pondok pesantren bu” “kak, kamu mondoknya nanti ya di saat kuliah saja, sekarang ibu belum ikhlas untuk melepas kamu” jawab ibu. “yah ibu, aku kan juga pengin mandiri bu, aku pengin seperti mereka” syifa ngedumel. “sudah sudah nanti di bahas di rumah saja, waktu Ayah pulang” jawab Ibu. Malam harinya  aku menemui Ayah, Ibu dan Haikal di ruang tengah “Ayah, Ibu, hay dek” sapa syifa. “bu, bagaimana yang tadi syifa cerita?” syifa mengingatkan yang tadi dikatakan waktu pulang, “oh iya, ya sudah coba kamu tanya ke Ayah” jawab Ibu, Ibu di dalam hatinya juga tidak tega jika keinginan anaknya tidak di penuhi, toh itu juga untuk melatih Syifa mandiri. “iya, ada apa nih?” tanya Ayah, “gini yah,tadikan Syifa kumpul sama teman-teman SDIT Syifa, lah mereka membahas tentang di pondok pesantren, mereka kan tinggal di Pondok Pesantren, lah Syifa dari dulu minta untuk tinggal di pondok pesantren sama Ayah Ibu tidak di izinkan, sekarang Syifa kan sudah mulai remaja yah, syifa juga ingin berlatih mandiri seperti teman-teman Syifa” jelas ku kepada Ayah. “emm, bagaimana yah, apa kamu sudah yakin untuk tinggal di Pondok Pesantren? Hidup di Pondok Pesantren tidak seenak yang kamu bayangkan dan yang kamu dengar dari cerita teman-teman mu sendiri, pasti ada lika liku, suka dukanya” jawab Ayah. “Syifa siap yah, Syifa siap tinggal di Pesantren, jika di izinkan” jawab ku. “kamu mondoknya di saat masuk SMA saja ya,soalnya jika sekarang sudah telat kak, liburan tinggal  dua minggu lagi,juga belum mengurus surat pindah sekolahmu, mendaftarkan kamu ke pondok pesantren dan sekolah baru, itu membutuhkan waktu yang panjang ka, kamu ga marah kan kalo di saat SMA saja masuk pondok?” tanya Ayah. Aku tertunduk dan sedikit merengut “lah, kalo nunggu SMA lama yah, masih 1 tahun lagi, emm tapi ya sudah lah, gapapa tapi ayah ibu mengizinkan kan Syifa mondok?” “insyaallah mengizinkan ka” jawab serentak Ayah dan Ibu. “hey dek, udah malem tidur” (sambil menyolek Haikal yang sedang serius menonton tv) “ah Kakak, ganggu aja, udah sana tidur dulu”  jawab Haikal sambil marah. “ya udah bu,yah Syifa ke kamar ya”, “iya sayang,jangan lupa bersih bersih dulu ya” jawab Ibu. Setelah aku bersih-bersih diri, aku langsung masuk kamar dan tiduran, aku memikirkan apa yang di katakan ayah tadi, memang teman-temanku selalu menceritakan asyiknya  hidup di pondok pesantren “ah sudah lah,mungkin ayah hanya alasan berbicara seperti itu” (dalam hati aku berkata seperti itu) lalu aku tidur.

            Hari masuk sekolah pun tiba, aku dan adikku hari ini masuk sekolah, aku berangkat bersama Ayah,  seperti biasa. Sesampainya di sekolah, hari pertama sekolah ku masih kosong, dan hari hari berikutnya sudah pelajaran seperti biasa.  Semester akhir telah menghampiri ku, aku di sibukan dengan latihan latihan soal Ujian Nasional dan Ujian-Ujian lainnya, dan ujian praktrek,sampai berakhirnya Ujian Nasional. Dan setelah itu aku ke sekolah hanya untuk melihat sekolah sekolah menengah akhir/kejuruan untuk sosialisasi. Aku tidak tertarik sama sekali. Malam harinya aku menemui Ayah dan Ibu ku untuk membahas kelanjutan ku. “kak, sini Ayah dan Ibu sudah mencarikan pondok untukmu, Pondok Pesantren Darul Iman Pondok pesantren dan rumah berjarak  kurang lebih 60 Km ,kamu mau? Untuk sekolah, kamu melanjutkan ke SMA yang berada di pondok pesantren itu ya, terus kamu pulang ke rumah mungkin 3 bulan sekali,jika itu tidak ada kegiatan di pondok”Ayah langsung menjelaskan tentang pPondok Pesantren itu. “yeay makasih Ayah, Ibu iya gapapa yah Syifa setuju dengan yang tadi Ayah katakan, kenapa Ayah dan Ibu mencarikan pondok pesantren yang  lumayan dekat dengan rumah yah, bu?” tanyaku ke Ayah dan Ibu “gini kak, Ayah dan Ibu juga ingin memantau kamu,  jadi Ayah dan Ibu mencarikan Pondok Pesantren terdekat dulu” jawab Ayah. “ooh iya yah,terimakasih yah,Syifa sayang Ayah, Ibu” (sambil memeluk Ayah Ibu). “iya sayang, besok kita ke pondok ya, untuk mengurus semuanya ya, ya sudah sana masuk kamar tidur” lanjut Ayah. “iya yah,siap” jawab bahagia Syifa sambil masuk kamar. “Syifa bahagia banget ya bu, semoga dia betah di sana, Ayah belum 100% melepas Syifa, nanti rumah kita jadi sepi,Cuma sama Haikal” lanjut cerita Ayah dengan Ibu. “iya ya yah, gapapa lah, ini juga untuk melatih Syifa.” Jawab ibu.

            Keesokan harinya ak dan keluarga pergi meunuju Pondok. Di saat aku masuk gerbang Pondok Pesantren aku merasa senang. Setelah aku dan keluargaku selesai mengurus keperluanku aku dan keluarga keliling pondok. Dan akhirnya kita kembali ke rumah. Sampai hari perpisahan sekolah dan  pengumuman Ujian Nasional  tiba, aku mendapat peringkat 1 untuk nilai Ujian Nasional tingkat sekolah(alhamdulillah). Dan 2 minggu berikutnya aku mendaftar SMA di pondok, dan alhamdulillah aku juga di terima di SMA pondok. Berikutnya 2 minggu ke depan aku mulai pindah ke Pondok Pesantren. Aku di antar oleh ayah ibu dan haikal. Sesampainya di pondok aku di serahkan kepada  pihak pondok. Dan akhirnya  Ayah,Ibu dan Haikal pamit. “kak, Ayah, Ibu dan Haikal pamit ya, kamu yang betah di sini, semoga jadi mandiri, jadi lebih baik lagi ya ahlak dan agamanya” pamit Ayah. “iya yah, doakan syifa terus ya yah, bu, kal, Syifa sayang kalian” sedikit aku meneteskan ir mata di hadapan mereka. “iya kak,doa Ibu selalu mengiringimu” jawab Ibu sambil memeluk aku. “dek,kamu baik-baik  ya, jagain ibu, jangan nakal, jadi anak yang makin pinter, jangan rindu kakak ya” ledek aku ke Haikal.

            Hari pertama aku di pondok, aku memperkenalkan diri ke teman teman pondokku, mereka sangat baik dalam menerimaku dan ada juga Santri yang tidak menyukai ku entah karena apa, sore harinya aku mulai merasakan perbedannya, aku mengantri mandi dan aku harus irit air  dan menunggu teman mandi itu lama, selepas ashar aku tadarusan di masjid sampai menjelang maghrib, sehabis maghrib aku dan teman-teman makan malam, ya suasana makan menurutku biasa saja, soalnya selama aku sekolah di Islam Terpadu aku sudah terbiasa untuk mengantri. Aku merasa sangat senang di tengah makan malam tercipta canda tawa,lalu kami mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat isya. Setelah itu kami kembali ke kamar, di kamar aku menemukan hal baru, tempat tidurnya kecil,tidak seperti di kamarku,kipas angin pun di tengah-tengah antara tempat tidur satu dengan tempat tidur satunya, dan aku sekarang tidak di perbolehkan membawa HP dan HP ku ku tinggal di rumah. Malam pertama masih sangat asing bagiku,tapi aku senang,jam 1 malam aku di bangunkan untuk melaksanakan sholat tahajud.

            Hari pertama aku masuk sekolah baru,teman baru dan yang jelas pengalaman baru, aku tadi pagi sehabis subuh langsung ke kamar mandi untuk mandi dan mencuci pakaian sendiri,sebenarnya ada laundry tetapi aku belajar irit dan agar terbiasa,jadi lumayan tidak antri untuk mandi,setelah itu aku menyiapkan buku-buku sekolah, lalu jam 6 pagi kita sarapan bersama,dan setelah itu kami istirahat sebentar dan sehabis itu berangkat sekolah. Ya di sekolah pertama untuk kelas X melaksanakan MPLS(Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Ya di situ kami saling berkenalan dan mulai berinteraksi satu dengan yang lain.  Sore harinya aku dan teman-teman pulang ke pondok,terus kita langsung makan siang menjelang sore,sehabis itu kita mulai mengantri mandi lagi, dan sehabis ashar kita langsung ke masjid untuk mendapatkan kajian dari pengurus pondok kami yaitu ustadz hafid sampai akan datangnya maghrib,dan tadarusan di ganti malam hari. 1 bulan aku di pondok aku mulai muncul bentol bentol di tubuhku, aku dan merasakan tubuhku semakin kurus, ya mungkin karena faktor aku sekolah pulang sore dan malamnya aku harus berkegiatan di pondok. Aku ke uks pondok, untuk meminta obat gatal, dan pengurus pondok memberi ku obat penyembuh gatal-gatal , seminggu berlalu tapi bentol-bentol ku belum sembuh, akhirnya pihak pondok membawa ku ke klinik. Setelah di bawa ke klinik aku suruh kembali ke kamar untuk istirahat badan ku rasanya panas, pegel akibat bentol bentol itu, di saat itu aku merasa sedih di saat aku sakit seperti ini tidak ada ibu yang merawatku, Ibu yang sering memperhatikan ku setiap saat, kini aku harus melatih untuk mandiri dan ini keputusanku sendiri untuk ke pondok, teman-teman sekamarku untung peduli dengan ku dan membantuku selama aku sakit. 3 hari bentol bentol mulai menghilang aku kembali ke aktifitas seperti semula lagi. Aku dan teman teman di pondok akan di ajarkan tentang berbagai macam kitab seperti kitab Al-Ajurumiyah, Kitab Amtsailah At-tashirifiyah, Kitab Mustholah Al-hadist, Kitab Arba’in Nawawi, Kitab At-taqrib, Kitab Aqidatul Awam, Kitab Ta’limul Muta’alim. Bukan hanya itu  Fasholatan, Al Jurumiyah, Al Umrithy, Alfiyah, Fathul Wahab, Al Mahali, Al Bukhori, Ihya, Tafsir, dan itu akan di lewati oleh ku selama 3 tahun kedepan. Aku mulai sedikit mulai kesulitan dalam pembelajaran kitab-kitab tersebut,aku  harus memulai untuk latihan,dan hasil masalah belakangan untuk bagus tidaknya masalah nanti. Saat tes muhafadoh aku gugup,karena sekali kesalahan saat muhafadoh akan di ulangi lagi. Di sini aku mulai merrasa kesulitan,dan benar hasil tes ku yang pertama kali gagal dan harus mengulang kembali.

            1 tahun berlalu,sampai saat ini aku sering sakit, entah itu sakit bentol-bentol lagi atau penyakit lainnya,ya mungkin karena tubuhku belum bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku sekarang sudah kelas XI,aku sudah terbiasa dengan yang namanya muhafadoh. Pagi hari aku berangkat sekolah tapi aku kesiangan,karena aku sehabis subuh ketiduran lagi dan harus mengantri mandi, aku berangkat dengan tergesa-gesa bawaan buku ku hari ini sangat banyak,dari buku paket,kamus bahasa inggris,dan arab,buku paket dan kamus aku jinjing di saat aku berlari untuk menuju sekolah  aku  tidak sengaja menubruk santri ikhwan yang sama sedang tergesa-gesa “aduh sakit,yah jatuh” aku tersenggol dan buku-buku terjatuh. Bukan hanya buku ku saja tapi buku seorang santri itupun jatuh “maaf ukhti, aku ga sengaja” permintaan maaf laki-laki itu bersamaan dengan aku mengambil buku yang jatuh dan dia pun sama. Astagfirullah aku memandang matanya,rasanya aku gugup karena baru pertama kali aku memandang mata seorang anak laki-laki. Aku langsung sadar kalo aku hampir telat “aduh maaf ya,aku pergi dulu” pamit ku sambil berlari. Laki-laki itu pun menyadari bahwa dirinya hampir telat. Sesampainya di kelas aku langsung duduk di samping partner ku di pondok dan di sekolah yaitu Habibah, Habibah anaknya sangat baik kepadaku,  dia  sangat perhatian saat aku sakit.  dan selang beberapa menit pelajaran di mulai, saat aku pulang sekolah bersama habibah aku berkata “aduh Ibah, aku tadi tabrakan sama orang” “hah?tabrakan gimana si? Aduh bisanya.” Jawab Habibah. “aduh, bukan tabrakan gitu, senggolan, dengan santri ihkwan tadi, aku malu, dan tadi aku gugup sehingga buku paketku ketuker makanya tadi aku minta buku paketnya barengan sama kamu” lanjutku. “siapa si santri ikhwannya?kamu kenal?aduh parah,buku paket sampai ketuker” tanya habibah. “aku ga kenal, tapi dia jurusan mipa bib, soalnya ini yang ketuker buku paket biologi ini gimana ngembaliinnya?” lanjutku “jalan satu-satunya kamu harus nunggu santri ikhwan itu di depan pintu gerbang anak mipa,nanti aku temenin,siapa tau aku kenal anaknya”saran Habibah. Akhirnya aku  menunggu santri tadi, untuk menukar bukunya, “eeh bib,itu anaknya yang sedang berjalan di pinggir taman itu yang sendirian” aku sambil menujukan ke arah taman. “oalah itu,itu Fahri syif,dulu dia se SMP denganku,ayo kita samper ke sana” ajak Habibah sambil menarik ku menuju arah taman. “Fahri,sini” Habibah memanggil Fahri sambil berjalan. “iya ada apa bib?” jawab Fahri sambil sedikit melirik Syifa “sepertinya aku pernah melihat wanita itu,  oh iya diakan yang tadi pagi tabrakan dengan ku di pondok”(Fahri berkata dalam hati). “ini kenalkan Syifa temanku, dia tadi bukunya tertukar sama kamau katanya” kata Habibah sambil mengenalkan Syifa. “oalah iya ini bukunya tadi tertukar, niatnya aku mau mengembalikan ke pondok pesantren, aku mau menitipkan ke sekertariat, eh tapi alhamdulillah ketemu di sini,ini bukunya” jawab Fahri sambil mengembalikan buku Syifa. “iya,maaf ya Fahri, tadi aku salah mengambil buku, terimakasih” jawabku dengan gugup. “jangan gugup gitu dong syif,santai aja” ledek Habibah. “ih apaan si bib,engga gugup ko,ayo lah kembali ke pondok” jawabku sambil menarik tangan habibah. Fahri tersenyum “kita pulang bareng aja yuk” ajak Fahri ke Syifa dan habibah untuk kembali ke pondok bersama. “ayo, ayo dong Fa jangan malu-malu” ledek Habibah. “ih ga usah ngeledek gitu lah” jawabku sambil sedikit merengut. “iya iya deh maaf udah dong jangan gitu,heheh” jawab Habibah sambil merayuku. Akhirnya aku, Habibah dan Fahri pulang bersama ke pondok. Aku baru tahu kalo laki-laki di pisahkan hanya saat di pondok. Saat sepulang sekolah bisa pulang bersama dan bercerita. Tapi sebenarnya bagaimana sifat santri tersebut mau bergaul dengan lawan jenis atau bagaimana. Tapi fahri dan habibah kan sudah berteman lama wajar lah kalo mereka seneng saat ketemu,meski se pondok pesantren tapikan mereka selalu di pisahkan. Hari hari berikutnya aku sering melihat Fahri entah di sekolah atau pun saat kegiatan kajian bersama. Fahri sering menyapaku,dan aku pun pernah pulang bersama.

            Libur Kenaikan Kelas tiba,aku akan kembali ke rumah, disaat aku akan pulang di gerbang Fahri melihat ku dan menghampiriku, “Syif,aku boleh meminta nomer telephone mu, hanya untuk aku di simpan,dan sedikit aku ingin bercerita dan sharing,” kata Fahri. “iya iya, ini nomerku 08123********,ya sudah ya,aku sudah di tunggu Ayahku di depan, Asalamu’alaikum far,daaahhhhh” pamit ku ke fahri. “iya Syif,hati hati di jalan ya,”  jawab Fahri. Sesampainya aku di rumah aku langsung mebaringkan badanku ke atas tempat tidurku,aku kembali lagi ke zona nyamanku selama 15 tahun. Malamnya aku makan malam bersama keluarga,aku dimasakan makanan kesukaanku oleh ibu ku yaitu soto ayam. Aku bahagia bisa berkumpul dengan keluarga, di tengah makan malam aku bercerita keluh kesah dan bahagia ku di Pondok Pesantren,dari aku sakit bentol-bentol dan hal kecil yang tidak penting. Sehabis makan malam aku dan keluarga kumpul di ruang tengah untuk menonton tv dan bercerita,  tidak terasa aku bercerita sampai jam 10 malam, sampai adikku ketiduran, lalu aku bersih-bersih dan masuk kamar. Di saat aku membuka HP ku, ternyata ada pesan dari Fahri, lalu aku membalasnya, dan kita asik chating hingga larut malam sampai aku ketiduran, paginya aku di ajak liburan oleh keluarga. Di mobil pun aku sibuk chatingan dengan Fahri,sesampainya di tempat wisata kita menikmati keindahan wisata yang di suguhkan.

            3 minggu liburanku telah ku lewati di rumah bersama keluargaku,dan akhirnya aku harus kembali ke Pondok Pesantren,meski liburanku masih 1 minggu lagi aku harus sudah di Pondok Pesantren karena itu sudah aturan. 1 minggu liburanku aku isi dengan hafalan kitab-kitab dan muhafadoh dan kajian kajian dari Ustadz Hafid. Esok harinya aku pergi bersekolah dan seperti biasanya aku berangkat dengan Habibah ,dan lagi-lagi di jalan  aku melihat Fahri dan akhirnya kita berangkat bersama, dan kita saling bercerita dan akhirnya kita berpisah di pintu gerbang. Pulang sekolah tiba, tiba-tiba salah satu teman kelasku bilang ada yang mencariku “Syifa, di depan kelas ada yang meunggumu” “siapa yang mencariku? Oh iya oke terimakasih” jawabku. “ngga tau siapa,setahu ku dia anak XII Ips” jawab temanku. Lalu aku dan Habibah  menghampiri orang yang mencariku. “hey,kamu yang namanya Syifa?” tiba-tiba ada siswa langsung memanggil namaku dengan tidak sopan. “iya aku sendiri, maaf siapa? Dan ada apa?” jawabku dengan santai. “aku Hana, kekasihnya Fahri, tolong ya jaga jarak dengan Fahri, ga usah dekat-dekat dengan Fahri, ga usah keganjenan” siswa itu langsung memarahi ku dan langsung pergi. “sudah lah syif,jangan di pikir,itu sebenarnya bukan kekasihnya, hanya mantannya saja, setahuku dia masih suka sama Fahri, mereka sudah lama putus ko,awal masuk SMA  sudah putus,”jelas Habibah sambil menghiburku  yang sedikit merasa sedih. Lalu aku kembali ke pondok.  Sebenarnya aku merasa sedih, apa salahku, aku merasa aku tidak dekat Fahri. Ini membuatku kepikiran terus, aku sedih.ternayata di saat tadi Hana mengomel kepada ku, ada santri yang tidak suka kepada ku, dan mereka saling kompromi untuk menghancurkanku, di setiap harinya aku selalu di ejek dengan sebutan Pelakor oleh santri yang membenci ku, dan itu berlangsung sangat lama dan membuat diri ku sedih hati ku hancur.

            Semester Akhir atau Semester 6 menghampiriku,aku sudah mulai lupa dengan masalah Fahri, Fahri sebenarnya sudah meminta maaf dan menjelaskan semuanya kepadaku, aku sudah memaafkannya dan percaya tapi rasa sedih masih menghampiriku. Tetapi aku kini sedang fokus dengan Ujian-Ujian yang akan aku hadapi dan alhamdulillah aku bisa masuk seleksi SNMPTN,dan untuk mendaftar sekolah melalui SNMPTN aku mengambil Universitas Islam. Ujian Nasional tiba menghampiriku,setelah Ujian Nasional selesai, aku memilih untuk pulang ke rumah, untuk menenangkan hati dan fikiran yang sudah menampung  1000  ceritaku selama satu  Semester. Sesampainya di rumah aku langsung beristirahat di kamar,aku menangis sepuasnya untuk menghilangkan bebanku, entah itu beban pikiran tugas ku di pondok,di sekolah dan salah satu masalah Fahri itu. Fahri menelfon ku dan meminta maaf lagi dan meminta untukku agar aku tidak memikirkannya. Siang harinya ibu memanggilku “kak, itu ada Habibah dan temanmu main, sudah di ruang tamu, sana temui” perintah ibu. “hah habibah ke sini? Ada apa ya, kok ga mengabri ku terlebih dahulu ya,terimakasih bu,iya bu” jawabku sambil berjalan menuju ruang tamu, aku terkejut melihat Fahri ke sini. “eh Habibah, Fahri,maaf ya nunggu lama” aku sambil bersalaman dengan mereka. “ini syif, disini aku mau nemenin Fahri buat ngejelasin tentang masalah itu”  habibah menjelaskan tujuannya. “ah masalah apa si Fah,aku udah lupa ko,itu juga udah lama, maaf ya kalo beberapa bulan lalu aku seperti menghindar kamu, aku Cuma mau fokus ke Ujian ko, santai aja”jawabku sambil melihat Fahri. “aku merasa kamu beda karena masalah waktu Hana menghampirimu kala itu, maaf aku berperangsangka buruk ke kamu” jawab Fahri. Dan Fahri ternyata sama lolos SNMPTN se Universitas denganku, aku merasa senang ada teman dari satu pondok, dan Habibah lebih memilih di melanjutkan ke Semarang untuk mengambil jurusan Pendidikan. Akhirnya mereka kembali bercandaan.

            Minggu berikutnya aku kembali ke Pondok Pesantren, untuk menyelesaikan Muhafadohku. Dan aku mempunyai tugas untuk membantu Ustadzah untuk mengajar ngaji anak-anak.  Dan keesokan harinya aku ke Sekolah untuk melihat aku lolos SNMPTN atau tidak. Dan alhamdulillah tidak ada usaha yang mengkhianati hasil, aku berhasil lolos SNMPTN dan aku di terima di Universitas Islam. Aku langsung menelfon orang tua ku untuk mengabari aku lolos SNMPTN. Alhamdulillah aku sekarang boleh membawa HP ke Pondok Pesantren,karena aku telah lulus semua ujian pondok maupun sekolah,dan tinggal menunggu hasil Ujian Nasional. Ya memang di Pondok Pesantren ini berbeda dengan yang Pondok lain,meski santri itu sudah SMA,santri tetap dilarang membawa HP ke Pondok.

Alhamdulillah aku kini sudah resmi menjadi mahasiswa, dan aku masih menjadi Santri di Pondok Pesantrenku, ya karena jarak dari pondok ke Kampus hanya memakan waktu 15 menit, aku se Fakultas dengan Fahri yaitu Jurusan Bahasa Arab,aku dan Fahri kini semakin dekat. Setiap paginya aku berangkat ke kampus dari pondok mengendarai Motor, bersama Fahri, kita lakukan itu setiap hari dan sampai kita lulus kuliah. Setelah aku lulus,aku keluar dari Pondok Pesantren dan kembali ke rumah. 2 bulan kemudian   Sekolah di Pondok ku membutuhkan tenaga kerja pengajar Bahasa Arab untuk di tingkat SMP maupun SMA dan MA. Aku melamar pekerjaan di SMA tersebut,  sedangkan Fahri mendaftarkan di MA. 3 minggu kita menunggu keputusan dan Alhamdulillah aku dan Fahri di terima untuk bekerja di Sekolah itu. Dan minggu depan aku dan Fahri mulai mengajar di sekolah. Bukan hanya mengajar di sekolah, aku dan Fahri juga masih mengajar ngaji di pondok tersebut. Karena Pondok Pesantren itu yang merubah kita.

Penulis : SKN

Aku Ingin Belajar Mandiri di Pesantren

Navigasi pos