Kisah ini ku mulai ketika ku berada dipondok pesantren ,tepatnya 3 tahun yang lalu. Aku pertama kali menginjakkan kaki dikota orang, ya kota yang cukup terkenal ini memang kota nya para santriwan dan santriwati,sebenarnya ini kisah yang inginku ceritakan sejak lama tapi, aku malu untuk mengungkapkannya. Aku adalah anak tunggal yang mana kedua orang tuaku adalah pekerja swasta dirumah, ayahku seorang pembisnis keramik lantai dan ibuku juga membantu ayahku berjualan,aku tumbuh menjadi anak yang kurang belaian kasih sayang dari kedua orang tuaku,mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, maka dari itu aku bisa dikatakan seorang anak laki-laki yang sulit diatur dan arogan,aku pun bergaul dengan mereka yang tak sebaya dengan usiaku, aku diajak minum-minum,mabok-mabokan bahkan berjudi sampai akhirnya aku terus berkembang menjadi remaja yang selalu membuat onar dan masalah dirumah, tentu hal itu membuat kedua orang tuaku sadar mengapa aku tumbuh menjadi anak yang seenaknya sendiri dan mereka memutuskan untuk memasukkan ku dipondok pesantren, pasti itu membuatku makin geram dan aku tak mau jika harus masuk pondok pesantren, tapi kedua orang tuaku tetap saja bersikeras memasukkan ku disana, ya tentu saja aku tak bisa mengelak kemauan mereka dan akhirnya masuklah aku ke pondok pesantren.

   Menjadi anak yang dulu arogan,seenaknya sendiri,kini aku harus beradaptasi dengan teman-temanku dipondok, ya sulit bagiku tapi aku harus berubah. Seminggu kulalui dengan rasa tak karuan,sebulan kujalani dengan rasa tertekan tetap saja aku tak bisa beradaptasi dengan mereka,sebenarnya aku tidak tahan tinggal disini, lantas terbesit dalam pikiranku bagaimana jika aku kabur dari tempat ini? tapi bagaimana caranya? semua pintu tertutup rapat, jendela kamar mandi dipagari kaca-kaca, tak mungkin aku bisa melarikan diri dari tempat ini, ya sudah mau bagaimana lagi,aku harus tinggal disini walaupun berat rasa ku jalani. Tak terasa dua bulan sudah aku tinggal disini, aku sudah mulai beradaptasi dengan tempat ini, bergaul dengan santriwan lainnya sampai pada suatu malam saat acara pentas seni antar santriwan – santriwati ada suara nyaring yang memanggil namaku dari belakang kursi penonton “ rif, Syarif…dipanggil pak ustadz Roni diruang majelis,” sahut santriwati tadi  “ oya sebentar, nanti aku menemui beliau” jawabku  “ oke rif” jawabnya,  sebenarnnya aku cukup kaget ketika dia tahu nama ku,padahal selama ini kita jarang bertemu bahkan belum pernah berkenalan,tapi kenapa dia tahu namaku? Ah, sudahlah mungkin ini hanya kebetulan,aku bergegas menuju ruang majelis dan langsung menemui pak ustadz Roni,  sesampainya diruang majelis “ Assallamualaikum Ustadz,bapak memanggil saya? Ada perlu apa pak ustadz memanggil saya? “ sahutku,  “ iya sini duduk nak, ada yang ingin bapak bicarakan denganmu” jawab pak ustadz , “ iya pak ,ada apa ya ,kok kelihatannya penting sekali? “ tanyaku, “ begini nak, bapak tau kamu ini dulu anak yang arogan, sangat sulit diatur, tapi akhir-akhir ini kamu sudah berubah pesat nak arif, kamu rajin shalat, rajin mengaji, itu membuat bapak berpikir bapak ingin menjodohkanmu dengan  anak perempuan bapak, Laeli namanya, walaupun  kamu masih 18 tahun tapi tidak salah bapak memilihmu untuk bersanding dengan laeli, kamu bersedia nak?” sahut pak Ustadz, “ ehm..ehm..bagaimana ya pak , saya belum bisa menjawabnya” jawabku, “ ya sudah kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, kamu bisa pikirkan secara matang.” Sahut pak ustadz.

    Mentari pagi tak lama lagi memancarkan semburan cahayanya, adzan subuhpun turut berkumandang , itu tandanya hari sudah mulai pagi, aku bergegas bangun dari tempat tidurku dan sesegera mungkin membangunkan santriwan lainnya untuk menunaikan shalat shubuh berjamaah,aku dan santiwan lainnya berjalan menuju masjid yang letaknya tak jauh dari asrama putra, sesampainya di masjid aku langsung mengambil air wudhu karena shalat akan dimulai sebentar lagi, selesai berwudhu aku beranjak menuju serambi masjid tak lama kemudian pandanganku terkecoh dengan sesosok santriwati yang sudah memakai mukenah putih,sekilas dia nampak mirip dengan wajah ibuku dan aku sadar ternyata dia perempuan yang semalam memanggilku untuk menemui ustadz Roni, dia tersenyum kearahku dan akupun membalas senyumannya, tak lama kemudian khomat bersua dan itu tandanya shalat akan segera dimulai aku langsung bergabung dan menempati saf terdepan, shalat shubuh pun telah usai aku dan santriwan lainnya bergegas menuju asrama untuk bersiap melaksanakan aktivitas seperti biasa, tiba- tiba ada suara yang semalam aku dengar memanggilku dari belakang,dan benar dia yang memanggilku “ rif, sebentar aku mau bicara sama kamu,bisa kan?” tanya santriwati itu, “ oya ada apa? Kita belum kenalan lho? Kamu siapa?’’ tanyaku, “ oya, aku laeli anak ustadz roni, tadi malam ayahku yang berbicara denganmu, ya dia ingin menjodohkan kita berdua, sebenarnya aku ingin menoknya tapi aku tidak berani,” jawab laeli, “ ternyata kamu laeli,anak pak ustadz, ehm..aku juga bingung aku harus jawab apa li,soalnya orang tuaku juga belum aku beritahu masalah ini.” jawabku, “ rif, sebenarnya ayahmu itu teman smp ayahku, dan memang ayahmu sudah setuju kita dijodohkan.” Jawab laeli, “ oya li,makasih infornasinya, kita lanjut nanti saja ya setelah kelas mengaji usai, “ sahutku, “ iya rif, sama – sama.

     Alarm bel kelas berbunyi, itu berarti kelas mengaji akan dimulai, aku langsung saja memasuki kelas dan bersiap mengaji dengan santriwan lainnya, kelas pun dimulai, aku mengambil Al-Qur’an ku dan memulai dengan ta’awudz terlebih dulu, lantunan ayat suci terus kudengar seiringan dengan pikiranku yang menggrambyang dengan kata –kata laeli tentang perjodohan kita berdua,aku terus melamun sampai –sampai ustadz fikri menegurku “Syarif, hei kamu kenapa melamun? Tegur ustzdz fikri, “ Astaghfirullah, iya pak maaf, tidak ada apa – apa pak.”jawabku “ ya sudah lanjutkan membacanya ya rif,” jawab ustadz fikri. Rasa galau ini mengganguku, aku harus bagaimana? Ya sudahlah tak usah kupikirkan terlalu rumit,kalau memang laeli itu jodohku aku terima tapi kalau bukan pasti perjodohan ini pasti gagal itu saja prinsipku. Kelas mengajipun telah usai aku bergegas menuju masjid untuk menunaikan shalat dhuha dengan santriwan lainnya, aku ingin memohon petunjuk dari Allah SWT, kuserahkan hal ini padanya “ Ya Allah, apa yang harus hamba perbuat tentang perjodohan ini,jika memang ini takdir hamba,tolong lancarkanlah, permudahkanlah, Aamiin Ya Rabball ‘alamin”.

      Hari pun silih berganti, dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran juga kesepakatanku dengan laeli aku memutuskan untuk menerima tawaran pak ustadz roni  untuk berta’aruf dengan laeli,tapi harus ada syaratnya yaitu kita menikah jika kita berdua sudah selesai menempuh pendidikan yang kita impikan, dan ustzdz roni pun menyanggupinya, akhirnya kini aku dan laeli sedang menjalani proses ta’aruf bersama. Aku kembali menjalani aktivitas ku sebagai seorang santriwan dipondok pesantren milik ustadz roni ini, aku dan laeli bersepakat untuk menikah di usia matang kami dan sekarang kami  harus menggapai mimpi lebih dulu dan menikah dengan keadaan sukses, kini sudah 3 tahun aku menjadi sanhtriwan dipondok ini, saatnya aku melanjutkan pendidikanku ditingkat yang lebih tinggi, aku memutuskan untuk mendaftar di salah satu universitas negeri islam di kota itu dan mengambil jurusan S1 pendidikan agama islam, alhamdulilah aku lolos dan terdaftar menjadi mahasiswa di universitas tersebut, kini aku sudah menjadi seorang mahasiswa, aku berharap pola pikirku akan lebih dewasa .

       2 bulan berlalu,tiba-tiba handphone ku berdering, langsung saja kuangkat dan ternyata itu suara laeli, lama aku tak mendengar kabar tentangnya,  terakhir yang aku terima dia terdaftar sebagai mahasiswi di Al-Azhar, Qairo University, “Assallamualaikum syarif, apa kabar? “ tanya laeli, “ Alhamdulilah,kabar baik li,kamu gimana kabar? “ tanyaku padanya , “ Alhamdulilah baik rif, aku sekarang sudah menjadi mahasiswi jurusan psikologi,alhamdulilah aku bisa belajar hidup mandiri disini rif.” Jawabnya, “ syukurlah, itulah proses kehidupan yang sesungguhnya li” jawabku, “ iya, benar rif, ya sudah, aku mau melanjutkan aktivitas dulu ya” jawabnya, “ oke li” jawabku. Perjuangan demi perjuangan aku tempuh, pelajaran demi pelajaran aku dapatkan, prose demi proses sudah aku lalui dengan suka maupun duka yang bercampur menjadi satu . tak terasa 5 tahun sudah ku berada di universitas ini , aku bersyukur dapat lulus dengan hasil yang memuaskan dan mendapat predikat cum laude.

       Waktu demi waktu,kulalui dengan penuh rasa bersyukur, sekarang aku sudah bekerja menjadi seorang guru disebuah sekolah menengah atas negeri di kota ini,aku berhasil sukses dan hidup mapan,semua impianku sudah tercapai saatnya aku menepati permintaan ustadz roni menikah dengan laeli yang kebetulan dia juga sudah menjadi psikolog yang cukup terkenal dikota ini, “ laeli, apakah kamu sudah siap menjadi bagian dari hidupku?” tanyaku pada laeli , “ InsyaAllah siap mas arif,” jawabnya, “ baiklah, terimakasih li” jawabku. Sekarang aku dan laeli sudah menjadi pasangan suami istri yang dikarunia 2 orang anak dan aku berhasil mendirikan pondok pesantren dengan upaya jerih payahku, memang aku dan leli memiliki mimpi yang sama ,jika kita sukses nanti ,kita akan membangun sebuah pondok pesantren, dan akhirnya itu semua tercapai berkat kerja keras kita berdua, dan aku menamai pondok pesantren ku dengan nama anak pertamaku yaitu “ Al-Zikra “ pondok pesantren ini aku khususkan untuk anak berusia 10-15 tahun karena aku paham pada usia tersebut anak – anak sedang aktifnya mencari tahu segala macam informasi dan aku akan memberi makanan-makanan ilmu islamiyah kepada mereka.

      Tak terasa sudah lebih 1 tahun pondok pesantren ku ini berdiri, aku besyukur semakin  banyak orang tua yang berminat untuk mendaftarkan anak –anak mereka, aku dan laeli merasa sangat terharu atas pencapaian ini, “ alhamdulilah ya mas kita sudah berhasil menggapai mimpi kita dengan membangun pondok pesantren ini” sahut laeli, “ iya syukurlah ya li, semoga berkah dan amanah kedepannya” jawabku, “ iya mas,” sahutnya. Pengalaman yang pernah kudapatkan dulu saat ku masih menjadi santriwan, kini aku tularkan kepada mereka santriwan –santriwan muda, aku tak hanya mengajarkan bagaimana hidup mandiri saja tapi aku mengajarkan kepada mereka tentang arti kehidupan yang sesungguhnya, aku  juga melatih mereka untuk mengerti tentang makna dan maksud kitab,melatih tata bahasa yang santun juga membimbing pola pemikiran mereka dalam mengembangkan ilmu agama islam, ya aku memberi tajuk “ santri plus sekolah”  aku membuat 6 kelas dalam pondok pesantren ini ada kelas 1 yang nantinya belajar mengenai tulisan arab pegon, ada kelas 2 yang belajar mengenai tashsif tsulasi mujarad 1-6, ada kelas 3 yang belajar mengenai awamil al-jurjani, ada kelas 4 yang akan belajar talimul muta’alim bagi putra dan uyun masail lin’nisa bagi putri,lalu ada kelas 5 yang belajar tentang abi jamroh dan fathul  qorib,dan kelas 6 atau kelas terakhir yang nantinya akan mempelajari bulughul mahrom dan tafsir jalalain.

      Semua aku dapatkan ilmu itu dari para ustadz yang dulu membimbingku saat aku masih menjadi santriwan, aku merasa sangat berterimakasih kepada beliau semua atas apa yang mereka berikan padaku sehingga aku bisa menjadi seperti sekarang ini ,entah bagaimana caranya aku mengucapkan beribu terimakasih kepada mereka, aku hanya bisa berdoa “ Ya Allah lindungilah mereka,limpahkan nikmat serta karuniamu kepada mereka,mereka lah orang- orang yang berjasa sangat besar dalam hidupku “ doaku dalam hati. Aku selalu ingat apa yang dikatakan oleh salah satu ustadz bahwa “ bersyukurlah kamu hari ini,esok dan masa yang akan datang,karena sejatinya orang-orang yang selalu bersyukurlah yang akan mendapat hasilnya” itu kalimat yang selalu aku camkan dalam hidup, kadang aku selau terngiang oleh masa –masa remajaku yang arogan dan penuh nafsu amarah,yang tak pernah bersyukur atas apa yang sudah aku dapat,masa- masa kelam yang menjadi cambuk bagiku untuk terus berubah menuju hijrah yang lebih bermakna, ya, memang pengalaman adalah guru yang terbaik itu yang kujadikan pedoman untuk terus belajar menggali apa saja yang kurang dalam hidupku.

       Hari minggu yang ceria, ditambah matahari tesenyum sembari memancarkan cahaya hangatnya menemaniku, istriku dan anakku serta anak –anak asuhku berolahraga pagi,ya setiap minggu kami rutin utuk mengadakan senam irama,hal ini bertujuan agar tak hanya pikiran saja yang sehat tapi fisikpun juga ikut sehat,karena dalam tubuh yang sehat terdapat fisik yang kuat,aku sangat senang melihat santriwan dan  santriwati menikmati iringan musik senam, mereka tertawa lepas seakan tak ada beban apapun dalam pikiran mereka ,mereka pun larut dalam suasana hangat ini, tak hanya senam saja yang dilakukan kami bersama tetapi ditambah kuis  yang membuat lebih semangat lagi dalam berolah raga, siapa yang hafal 1 juz ayat suci Al-Qur’an setiap seminggu sekali mereka akan mendapat hadiah dari kami para ustadz dan ustadzah dan siapa yang hafal lebih dari 1 juz,maka beasiswa yang mereka dapat ,itu salah satu cara agar anak asuhku tidak bosan dalam menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an. Hari demi hari kita lalui bersama, pondok pesantren ini terus berkembang menuju lebih baik,kini pondok pesantren ini selalu berhasil meraih predikat  sebagai pondok pesantren terbaik setiap tahunnya,aku terus berupaya untuk membangun pondok pesantren ini menjadi lebih baik kedepannya dan aku selalu yakin dan percaya  bahwa bertaa’ruf itu membawa berkah bagiku juga orang –orang terdekatku,

Penulis : YAN

Dibalik Ta’arufku

Navigasi pos