Halo namaku Aisyah, aku adalah anak kelas 12 di SMA terkenal di Bandung yang semua muridnya terkenal modis dan pintar. Dan aku adalah salah satu murid yang digemari, aku cantik, modis, pintar, dan anak orang kaya banyak yang ingin berteman denganku, di sekolah aku mempunyai sahabat yaitu Anin dan Linda ku kenal dengan mereka sewaktu masuk SMA saat pelaksanaan masa orentasi siswa dan tak ku duga lagi ternyata kita bertiga satu kelas. Mereka sama denganku cantik, modis, terkenal anak orang kaya namun kita dikenal anak yang sombong disekolahan.

            Ayahku adalah seorang pengusaha batu bara terkenal  di Kalimantan sehingga sejak kecil aku hanya bisa bertemu dengan ayahku satu tahun sekali, sekalipun bertemu dengan ayah aku tak begitu akrab, sedangkan  di rumah aku bersama ibu dan bibi, namun ibuku sibuk dengan usahanya, ibuku mempunyai usaha dibidang fashion dan kuliner yang sudah dikembangkan sejak ibuku belum menikah dengan ayahku. Ibuku selalu berangkat pagi untuk mengurus toko dan pulng sore ataupun larut malam karena banyak pesanan yang harus diantar, sehingga dengan kesibukan orang tuaku untuk mencari uang membuatku tak cukup kasih sayang tak pernah ku berkumpul untuk menceritakan hari hariku ataupun bercanda sambil menonton televisi seperti keluarga teman-temanku tak pernah ku temukan kebahagiaan dikeluargaku.

            Sedari kecil ku diasuh oleh bibi, bibi menjadi pengasuh dari aku masih kecil, bibi selau menyiapkan apa yang aku butuhkan dari membangunkanku bangun tidur, menyiapkan sarapan pagi, menyiapkan seragam sekolah,aku memang selau di manja sejak kecil apa yang aku mau selalau dipenuhi oleh orang tuaku dan bibi. Bibi selau menyayangiku seperti anaknya sendiri karena sampai sekarang bibi belum mempunyai anak atau keturunan karena aku pernah diceritain oleh bibi, bibi pernah mengalami keguguran yang membuat kandungan tidak bertahan lama jadi sebab itu bibi selalu menyayangiku melebihi orang tuaku karna bibi menyadari dianugerahi anak memang sangan harus disyukuri, namun entah kenapa aku selalu bersikap tak baik dengan bibi suka melawan namun bibi selalau bersabar dan berusaha membuatku mengerti jika yang kulakukan itu salah, dan bibi sangan memaklumiku, kenapa aku bersikap kasar padanya karena bibi tahu aku kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuaku yang hanya mementingkan pekerjaan.

             Suatu pagi aku bangun kesiangan karena tadi malam aku begadang untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah dan bibi tidak membangunkanku seperti biasanya  “ BIBI! ’’ panggilku dengan suara keras dan kesal sambil bergegas mandi dan bersiap-siap, namun bibi tak seperti biasanya bibi tidak menghampiriku sehingga aku menghampiri ke kamar bibi yang terletak di sebelah dapur, ternyata bibi masih tidur dan berselimut tebal lalu ku hampiri bibi yang masih terlelap aku pegang jidad bibi ternyata bibi demam tnggi. Lalu ku melihat jam di dinding tak ku sadar sudah jam tujuh kurang sepulih menit, ku langsung meninggalkan bibi yang masih tidur dengan buru-buru dan bergegas mengambil mobil yang masih terparkir di garasi rumah. Dulu ayah pernah memberiku supir pribadi karena aku belum mempunya SIM namun tak ku hiraukan karena aku merasa risih jika kemana aku pergi selalu diantar supir dan diawasi,satu hari aku diantar jemput oleh supir satu hari itu juga supir tersebuat aku pecat, ayah sangat marah waktu ku tau aku memecat supir tampa memberi tahu ayah dulu namun seperti biasa aku selau cuek dengan ayah. Sesampainya disekolahan aku langsung di tegur guru piket yang berjaga di gerbang utama dan mendapat poin pelanggaran sengingga membuatku menjadi lebih kesal lagi cuman karena kesiangan bangun pagiku menjadi tidak bersemangat. Ditambah  tadi sebelum berangkat aku lupa sarapan pagi sehingga ketika mengerjakan ulangan aku merasa lapar dan tidak fokus mengerjakan ulangan, dipikranku hanya kantin makanan dan makanan. Karena ku sudah merasa lapar sekali akupun mengerjakan soal ulangan dengan cepat dan asal-asalan entah apa yang sedang ku kerjakan aku merasa bingung sendiri,ku cepat-cepat untuk keluar dari ruang ulangan dan bergegas ke kantin, waktu ku berjalan ke kantin aku dipanggil oleh linda akupun berhenti untuk menunggu linda yang sedang berjalan ke arahku,

”Syah kamu lihat Anin gak kok dari tadi aku tidak melihat batah hidungnya? “ tanya Linda padaku akupun menjawab

 “ aku gak liat lah aku tadi berangkat telat ’’ Lindapun kebingungan  dan menoleh kanan kiri depan belakang.

“aneh ya tidak biasanya Anin tidak berangkat sekolah padahal dia yang paling semangat kalo sedang ulangan’’ tanya Linda padaku

“ mungkin dia lalah wkwkwk ” jawabku sambil tertawa

“seriusssssss syahhhh ” seru Linda padaku sambil matanya melotot dan tertuju padaku.

Akhirnya pulang sekolah Linda pulang bersamaku kita mendapat kabar kalau Anin sedang sakit dan kita memutuskan untuk menjenguk Anin di rumahnya, sebelum ke rumah Anin aku dan Linda mampir ke toko buku untuk membeli buku kisi-kisi soal ujian karena tadi sebelum keluar dari kelas aku di beri tahu guru untuk membeli buku untuk dipelajari. Sesudah membeli buku aku dan Linda mampir juga ke toko buah untuk membeli buah untuk Anin karena aku tahu Anin suka sekali dengan buah apalagi buah apel Anin sangat menyukainya. Sesudah sampai di rumah Anin kamipun bercerita-cerita biasa lah cewek kalo sudah bertemu pasti rumpi gosipin orang . Karena sudah sore akupun pulang dan mengantarkan Linda pulang terlebih dahulu  kerumahnya, akupun bergegas pulang karena aku baru ingat bahwa bibi di rumah sedang sakit dan ibu pasti pulang malam karena banyak pesanan. Sesampainya dirumah aku melihat mobil ayah terparkir di halaman rumah akupun langsung bergegas masuk kerumah untuk menemui ayah, belum sampai aku masuk ke ruang tamu aku melihat bibi sedang di bawa oleh supir ayah untuk di bawa ke rumah sakit, akupun bingung dengan keadaan seperti ini aku berusaha bertanya kepada ayah namun ayah hanya memintaku untuk bersiap-siap ikut ke rumah sakit, aku takut sekali dengan ayah karena ayah menyuruhku dengan nada yang membentak seperti marah denganku, akupun hanya menaruh tas ke kamar lalu bergegas menemui ayah yang sudah di dalam mobil, selama perjalanan ayah menuduhku bahwa aku tak menjaga bibi sedangkan aku tak tahu apa-apa sehingga aku hanya diam dan menerima omelan ayah yang sebenarnya membuatku ingin marah. Sesampainya di rumah sakit bibi langsung di tangani oleh dokter, akupun merasa serba salah dengan keadaan yang tertekan seperti ini akhirnya aku menelfon ibu untuk datang ke rumah sakit untuk menemani ayah, ternyata ibu sudah sedang perjalanan ke rumah sakit akupun menunggu di depan untuk menemui ibu, aku menunggu sekitar satu jam saat itu sudah malam akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah karena aku masih banyak tugas sekolah yang belum dikerjakan dan ayahpun mengijinkanku pulang namun masih dengan wajah yang sepertinya marah denganku. Keesokan harinya aku diberi tahu ibu bibi harus rawat inap kareana terkena deman berdarah, aku semakin takut dengan ayah yang selalu memarahiku tanpa sebab. Sudah tiga hari bibi di rawat di rumah sakit dan sekarang sudah diperbolehkan pulang karena sudah merasa baikan dan sembuh, sesampainya dirumah ayah memanggilku ke ruang tamu untuk duduk bersama dan bertanya kapan kelulusan sekolahku dilaksanakan akupun menjawab masih satu bulan lagi menunggu pengumuman, aku merasa bingung tidak biasanya ayah menanyakan tentang sekolahku, ternyata ayah sudah merencanakan bahwa sehabis lulus SMA aku akan di masukkan ke pesantren, aku merasa sangat terkejut mendengar kata-kata pondok pesantren yang ku bayangkan aku akan bertemu dengan orang-orang yang aneh, katro, ndeso, sepontan aku langsung membantah perkataan ayah untuk memasukanku dalam pesantren, namun ayah memberi pilihan kalou aku mengikuti keinginan ayah aku akan tetap di beri uang oleh ayah setiap bulan seperti biasa, namun jika aku tidak mengikuti keinginan ayah semua aset yang aku punya akan ditarik dan aku tak di beri uang sepeserpun aku harus bekerja sendiri mencari uang sendiri, akupun meserasa tak mempunyai pilihan lain akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti permintaan ayah. Aku sangat marah pada ayah mengapa dia tega membuat anaknya merasakan penderitaan, menurutku ayah sudah tidak sayang lagi denganku karena dia sangat tidak perduli dengan keinginanku.

            Hari kelulusanpun datang aku merasa senang karena aku mendapatkan nilai yang memuaskan, namun ayah tak menghiraukan nilai ia hanya ingin anaknya lebih baik dari sekarang. Satu minggu berikutnya ayah mengirimku ke pesantren, awal masuk aku merasa sangat asing pada tempat ini. Kamar yang sangat panas dan sempit banyak baju-baju berceceran, hal itu sangat membuatku tak nyaman dan aku ingin sekali pulang. Hari pertama di pesantren aku diajari untuk berkerudung dan menutup aurat yang baik, awalnya ku merasa panas dan risih memakain hijab dan baju yang panjang karena aku terbiasa memakai pakaian yang terbuka  mengikuti tren, hari-hari berikutnya aku diajarkan untuk tata cara sholat yang benar,wudhu yang benar, dan lain sebagainya. Tak terasa sudah satu tahun aku berada di pesantren aku sudah terbiasa dan aku mempunya teman-teman yang banyak dan baik-baik yang selau mengingatkan jika aku salah dan membenarkanya. Aku sudah merasa terbiasa dengan kehidupan di pesantren yang setiap jam tiga malam dibangunkan untuk doa malam, pagi-pagi untuk makan bersama, menyuci baju sendiri, dan pengajian yang semua gurunya ternyata mengasikan tidak seperti yang dibanyangkan yaitu sangat seram. Suatu pagi ada jadwal untuk lari pagi namun karena celanaku masih banyak yang belum di cuci akhirnya ku mengambil celana milik temanku namun entah kenapa temanku tak menyadarinya hingga sudah selesai lari pagi aku menanyakan kepadanya kalou dia kehilangan celana atau tidak,dan ternyata dia baru menyadari bahwa celana yang aku pakai adalah celananya karena di sebelah saku tercantu namanya, hingga akupu tertawa melihat temanku yang begitu polosnya namun dia tidak marah malah menawarkan celananya itu buat aku simpan saja untuk kenang-kenangan, akupun merasa terharu padanya lalu kita berpelukan seperti anak kecil.

            Sudah satu bulan ayah dan ibu tidak mengunjungiku akupun merasa kecewa dan berpikiran lagi apakah mereka sudah lupa denganku. Sehingga membuatku tak fokus dalam pelajaran, aku selalu di tegur hajah karena selalu melamun dan tidak memperhatiakn pelajaran. Akhirnya hajah memanggilku untuk berkonsultasi akupun bercerita bahwa aku sangat memkirkan orangtuaku yang sudah satu bulan tidak mengabariku, namun hajah hanya tersenyum manis dan memberitahuku bahwa ayah dan ibu beserta bibi sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci akupun merasa kaget dan mengulag-ulang pertanyaan ke pada hajah kalo memang ibu dan ayah sedang berhaji, akupun merasa terharu dan langsungku peluk hajah yang cantik itu dengan erat aku merasa bahagia karena ayah dan ibu telah melaksanakan kewajibanya sebagai orang yang beriman dan mampu untuk berhaji, lebih senangnya lagi ayah mengajak bibi yang sudah menjadi orang tua keduaku. Satu bulan berlalu tepatnya pada hari minggu ayah dan ibu mengunjungiku dan membawakan banyak oleh-oleh dari arab dan ayah memberitahuku bahwa dia mendoakanku untuk menjadi  anak yang sholih. akupun terharu dan langsung memeluk ayah dan ibu, aku merasakan kebahagiyaan yang selama ini aku cari, seperti teman-temanku lainya  dan di pesantren ini aku memperoleh banyak ilmu dan pengalaman yang banyak membuatku sadar bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha. Terimakasih ayah karena engaku telah menjadi imam keluarga yang baik membimbing anakmu dan juga istrimu menjadi manusia yang lebih baik lagi dan dari pesantren juga aku menemukan kebahagiyaan yang aku cari.

Penulis : NLI

Ku Temukan Diriku di Pesantren

Navigasi pos