Pertama masuk sekolah ada seseorang anak bernama Budi . Budi termasuk anak yang keras kepala dan rusuh . Budi sering membuat kegaduhan di sekolah , padahal Budi bersekolah yang favorit . Lalu pada saat itu ada seseorang anak laki – laki yang berada di kantin tanpa sebab Budi memukul dan melontarkan kata – kata yang tidak baik . Laki – laki tersebut hanya terdiam karena takut dengan Budi . Tiba – tiba orang tua Budi dipanggil oleh kepala sekolah yang bernama Pak Joko untuk menemuinya .  Ibunya Budi sangat marah , sudah kesekian kalinya harus menemui kepala sekolahnya . Tiba di sekolah Ibunya sudah di sambut oleh kepala sekolahnya untuk menceritakan kejadian tadi siang .

“ Selamat siang Bu , silahkan duduk , “ sapa Pak Joko .

“ Oh iya selamat siang juga Pak , “ jawab Ibu Budi.

Lalu Ibu Budi menanyakannya “ Ada masalah apa lagi ini Pak , “.

“ Jadi begini Bu , Budi melakukan hal yang tidak baik kepada temannya , tadi diam memukul dan melontarkan kata – kata yang tidak baik . Kami tidak bisa memberikan kesempatan untuk Budi Bu , Budi sudah keterlaluan , “ jawab Pak Joko .

“ Kalau begitu Budi tidak bisa melanjutkan sekolah disini lagi Pak ? “ Tanya Ibu Budi.

“ Iya Bu begitu , maafkan saya disini peraturannya begitu jadi jika ada yang melanggar konsekuensinya begitu , “ jawab Pak Joko .

    Setelah itu perbincangan Pak Joko dan Ibu Budi sudah selesai . Ibunya membawa Budi pulang . Budi kebingungan karena belum saatnya pulang tetapi Ibunya menjemput , .Diperjalanan Budi menanyakan kepada Ibunya .

“ Bu kenapa aku pulang lebih awal ?” tanya Budi.

“ Iya karena kamu telah membuat keributan tadi siang , jadi sekarang kamu dikeluarkan dari sekolah , “ jawab Ibu dengan muka marah .

“ Tapi aku hanya melakukan itu Bu , “ jawab Budi .

“ Apa kamu bilang hanya melakukan itu ? Itu bukan perbuatan yang baik untuk anak sekolah sepertimu . Sudahlah kamu diam saja Ibu sedang malas bicara denganmu sekarang , “ jawab Ibu .

    Beberapa bulan Budi belum juga memiliki sekolah yang baru , Ibu dan Ayahnya bimbang . Lalu ayahnya memiliki ide untuk memasukan Budi sekolah di pesantren . Tanpa persetujuan dari Budi Ibunya menyetujui pendapat Ayah . Beberapa bulan kemudian Ayah dan Ibunya membawa Budi ke pesantren . Budi merasa bingung karena tidak mengetahui kalua Budi akan dibawa ke pesantren . Sesampainya ditempat tersebut Budi masih kebingungan , Budi berfikir kenapa ayah dan ibuku membawaku ketempat ini , ini kan pesantren .

Lalu Budi bertanya kepada Ayahnya

 “ Ayah kenapa kita ada disini ? “ 

Ayah menjawab “ Ayah akan menyekolahkanmu disini Budi , “
“ Tapi aku tidak mau Ayah “ bantah Budi .

“ Keputusan ayah dan ibumu sudah bulat , disini kamu bisa menghafal surat dan Al-Qur’an dan kamu bisa menghargai sesama . Sudah ayo ikut Ayah ,” jawab Ayah .

Budi tidak bisa membantah keputusan Ayah dan Ibunya . Budi hanya bisa menurutinya . Dengan perasaan sedih dan tidak ikhlas Ayah dan Ibunya memasukan Budi ke pesantren .

Saat ayah dan ibunya akan pulang Ibu mengatakan “ Kamu baik – baik disini nak , maafkan Ibu dan Ayahmu . Ibu terpaksa membawamu kesini agar kamu menjadi anak yang baik , “

Budi menjawab “ Iya Bu , Ibu dan Ayah juga harus baik – baik disana , “ .

    Pertama Budi masuk pesantren Budi belum merasa nyaman dan belum terbiasa dengan kondisi tersebut . Budi masih merasa canggung kepada temannya . Budi masih malas untuk bangun pagi , untuk solat dan untuk tadarusan bersama teman – temannya . Setiap hari Budi diajari cara mengaji dengan benar dan menghafalkan berbagai pelajaran . Bagi Budi hal tersebut masih terlalu berat karena itu bukan keseharian Budi di rumah pada waktu itu . Temannya selalu bersikap baik kepada Budi walaupun respon Budi terkadang kurang baik . Budi akan lebih mandiri dengan kehidupan saat ini . Budi akan mengerti bagaimana cara menghargai sesama . Ustad sering kali berceramah tentang cara menghargai sesamanya . Dan ustad juga sering kali mengajari  Budi untuk mengaji dan lebih mendalami agamanya . Dengan kerja keras Budi selalu mematuhi peraturan di pesantren tersebut .

    Beberapa minggu kemudian Budi sudah mulai akrab dengan termannya yang bernama Dimas , Dimas selalu membantu Budi disaat ada sesuatu hal yang tidak dimengerti oleh Budi . Saat itu Budi bertanya kepada Dimas

 “ Dimas kenapa kamu disekolahkan disini kan masih ada sekolah lain yang lebih bagus dari pesanten ini ? “

Dimas menjawab sambal tersenyum “ Aku sekolah disini bukan karena keterpaksaan tapi karena keinginanku sendiri . Aku ingin menjadi penghafal Al-Qur’an dan mempelajari agama islam lebih dalam , di pesantren ini aku juga bisa menjadi anak yang mandiri , menghargai satu sama lain dan juga aku senang disini karena rasa kebersamaan di pesantren ini sangat terasa , “

Di dalam hati Budi mengatakan kenapa aku harus terpaksa disini seharusnya aku bersyukur bisa disini dan memiliki teman yang baik seperti mereka . Budi dan Dimas sudah  mulai akrab mereka  seperti sahabat yang saling melengkapi . Kemana – mana mereka selalu bersama .

    Keesokan harinya Budi sakit , semua temannya ikut mengurus Budi . Budi terkena tipes karena pola makan yang tidak teratur . Budi dibawa kerumah sakit . Teman – temannya selalu menemani Budi dan menjenguk Budi setiap saat . Tali persaudaraan di pesantren memang sangat kuat . Terlebih sifat anak – anak di pesantren baik dan suka menolong . Sudah hampir satu minggu  Budi pun belum sembuh juga . Kedua orang tua Budi sudah menengoknya tetapi keadaan Budi belum pulih juga . Saat teman – temannya menjenguk lagi , Budi merasa senang karena banyak teman yang memperdulikannya .

Dimas mengatakan “ Budi kamu cepat sembuh supaya kita bisa menghafalkan Al-Qur’an bersama – sama , “

“ Iya doakan aku agar cepat sembuh Dim , “ jawab Budi sambil tersenyum .

    Beberapa minggu Budi sudah sembuh total dan bisa melakukan aktivitas seperti biasa di pesantren .  Budi sudah lebih dekat dengan teman teman yang lain . Sifat Budi yang dulunya kurang baik kepada temannya sekarang tidak , Budi sudah bisa menghargai , menolong dan mengerti teman yang lain .  Disaat ada teman yang mengalami kesusahan Budi selalu membantu dengan baik . Budi mulai rajin menghafalkan Al-Qur’an bersama temannya . Disetiap paginya Budi selalu merapikan tempat tidurnya . Budi yang selalu membangunkan teman temannya untuk solat subuh berjamaah . Suka dan duka mereka semua rasakan . Biasanya Budi dan teman – temannya ketika menjelang pagi pada waktu pukul 03.00 mulai beraktivitas ada yang solat tahajjud , ada yang sudah mandi , ada yang tadarus dan ada juga yang belajar . Jika hari sudah mulai siang Budi dan teman – temannya mendapatkan jatah makan , bisannya mereka semua saling berbagi . Kehidupan di pesantren memang tanpa keegoisan semata .

    Pada saat pembelajaran di pesantren sedang di mulai tiba tiba ada pengumuman bawa akan di adakan lomba mengafal Al-Qur’an . Semua santri berantusias untuk mengikuti lomba tersebut . Lalu Budi menanyakan kepada Dimas

“ Kamu akan mengikuti lomba itu atau tidak Dim ,”

“Tentu saja aku ikut itu kan cita citaku jadi sang penghafal Al-Qur’an , Kamu ikut kan ? “ tanya Budi kepada Dimas .

“ Aku ragu aku kan bukan anak yang pandai lagi pula aku tak pandai dalam menghafal Al – Qur’an “ jawab Budi.

“ Kan tidak ada salahnya kita mencoba dulu , ayo ikut saja nanti kita latihan menghafal Al-Qur’an bersama dengan ustad , “ jawab Dimas sambal membawa Budi mengambil Al-Qur’an .

Mereka berdua menuju ke ruangan pak ustad Dimas ingin lebih giat membaca Al-Qur’an .

“Asallamuallaikum Pak ustad “ ucap Budi dan Dimas .
“ Waalaikumsalam , ada apa Budi dan Dimas “ jawab ustad .

“ Jadi maksud kamu kesini kita ingin lebih giat menghafal Al – Qur’an bersama ustad , apakah ustad bisa?” kata Dimas .

Lalu ustad menjawab “ Tentu saja bisa mulai besok kita menghafalkan Al-Qur’an “

“ Terimakasih banyak ustad “ jawab Budi dan Dimas sambil tersenyum .

Saat mereka berdua telah menemui ustadnya mereka menghafalkan Al-Qur’an sendiri , mereka sangat bersemangat dan bersungguh – sungguh mengikuti lomba . Sehabis solat subuh , duhur , ashar , magrib dan isya  mereka menyempatkan untuk menghafalkan . Ustad sangat senang Budi sudah menjadi anak yang baik . Dan tak disangka lagi dari Budi yang dulunya anak yang rusuh dan pemalas sekarang sudah bisa menghafalkan Al-Qur’an . Pasti jika Ibu dan Ayahnya mengetahui pasti mereka akan bangga .

    Perlombaan pun dimulai Budi dan Dimas sudah bersiap siap dari pagi . Lalu diam diam ustad memanggil orang tuanya Budi dan Dimas untuk melihat anaknya berlomba tanpa sepengetahuan mereka berdua . Budi dan Dimas menuju ke tempat lomba , pada saat itu nama Budi dan Dimas belum di panggil  mereka berdua sangat grogi . Tiba tiba Budi memegang tangan Dimas dan mengatakan

“ Dimas semangat aku yakin pasti kamu bisa , “

Dimas menjawab “ Iya Budi kamu juga pasti bisa jangan menyerah sebelum usaha ,”

Tiba di nomor urut Budi , Budi membacakan dengan lembut dan baik , sampai ayah dan ibunya terkagum kepada Budi . Penonton antusia memberi tepuk tangan . Selesainya Budi giliran Dimas . Beberapa jam kemudian hasil dari perlombaan tersebut di umumkan , dan teryata pemenang lomba menghafalkan Al-Qur’an adalah Budi .  Budi sangat senang bisa mendapatkan juara 1 . Dan tidak disangka sangka .

Sekarang Budi menjadi seseorang santri penghafal Al-Qur-an . Saat Budi bertemu dengan ayah dan Ibunya , Budi mengatakan

“ Ayah Ibu aku tidak menyesal berada di pesantren ini justru aku sangat senang karena aku memiliki banyak teman yang baik , mereka selalu menolongku , mereka selalu memberiku semangat , aku lebih mandiri disini , dan aku sekarang bisa menjadi seseorang penghafal Al-Qur’an ,”

Jawab ibu sambal memeluk Budi “ Selamat Budi , Ibu sangat bangga dengamu ,”

Penulis : NSI

KUGAPAI MIMPI DIPESANTREN   

Navigasi pos