Aku Khadijah, seorang gadis remaja. Ayah dan ibuku bekerja di perusahaan ternama. Aku dilahirkan di kota dari keluarga yang bisa dibilang mewah. Segala fasilitas terpenuhi, mulai dari handphone, laptop hingga fashion yang sedang trend bisa aku beli. Meskipun aku memiliki barang-barang mewah, aku bukan tipe orang yang sombong. Shalat lima waktu sudah diajarkan orang tuaku saat aku berada dibangku sekolah dasar. Aku baru mulai berhijab ketika itu. Aku sudah memantapkan hatiku akan berhijab saat hari pertama masuk Sekolah Menengah Pertama. Ilmu agamaku belum banyak, aku hanya tahu muslimah itu wajib berhijab. Itu saja. Aku tinggal dilingkungan perkotaan. Gaya hidup kota juga mempengaruhiku belanja dan jalan-jalan sudah menjadi hobiku.

   Saat itu hari libur ayah dan ibuku. Setiap harinya orang tuaku sibuk dengan pekerjaannya yang padat. Mereka jarang sekali di rumah. Hanya ada aku dan pembantu di rumahku. Aku melihat ayah dan ibu sedang duduk santai di ruang tengah. Aku menghampiri mereka dengan membawa dua cangkir teh hangat untuk mereka.

“Ayah…ibu…aku bawakan teh hangat spesial. Pasti teh buatanku ini paling enak.”Kataku sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat kemudian duduk disofa dekat ayah.

“Terima kasih anak ayah yang cantik.”Puji ayah tangannya mengelus-elus kepalaku.

“Tumben kamu buatin teh buat ayah sama ibu, pasti ada apa-apanya nih…” Sindir ibu yang merasa ingin tahu.

“Hehe, ibu tahu aja.” Jawabku tersenyum malu.

“Memangnya ada apa, kalau mau sesuatu bilang saja sama ayah.”Tanya ayah penasaran.

“Mmm begini yah, laptopku kan rusak aku minta dibelikan laptop baru boleh yah?”Kataku sedikit ragu.

“Ooh kalau itu si pasti ayah belikan selagi berguna buat kamu.” Ayah mengiyakan.

“Aaaa….bener yah?” Tanyaku meyakinkan.

“Iya bener.” Ayah mengangguk.

“Bilang makasih sama ayah.” Ibu menambahkan.

“Terima kasih, ayah baik sekali..” Aku memeluk ayah erat-erat.

    Terik mentari membuat mataku silau melihat keramaian kota. Dengan memakai kemeja, celana jeans, sepatu ket putih, dan jilbab pasmina model terkini yang aku kenakan berwarna merah muda selaras dengan motif bunga di kemejaku.

    Aku bersama sahabatku Luna, ia juga remaja sepertiku. Dia berhijab dan cara berpakaiannya sangat modern. Aku sering menghabiskan waktu dengannya jalan-jalan di mall, taman atau sekedar nongkrong di cafe. Seperti remaja di kota pada umumnya yang sering menghabiskan waktu untuk berbelanja dan berkehidupan serba instan. Seperti aku yang sudah lama hidup diperkotaan. Hari ini aku dan Luna pergi ke pusat perbelanjaan langganan kami berdua.

“Na, pilihin baju yang lagi trend dong.” Kataku sambil memilih baju yang pas dengan ukuran tubuh mungilku ini.

“Ya ampun Khadijah..pilih baju aja bingung, aku cariin sebelah sini ya.”Luna berjalan ke arah lain memilihkan baju untukku.

   Jam menunjukkan pukul 16.00 setelah shalat ashar, ku taruh badan ini ke tempat tidur untuk menghilangkan rasa lelah.

   Senin pagi, ini hari kelulusan Sekolah Menengah Pertama ku. Aku lulus dengan nilai memuaskan. Aku bahagia ayah dan ibu mendampingiku. Menyempatkan datang di hari kelulusanku demi pekerjaan yang selalu padat. Namun disisi lain aku merasa kebahagiaan ini seketika lenyap. Ayah dan ibu akan mengirimku ke Pesantren yang terletak di desa dekat dengan tante Siska tinggal. Aku akan melanjutkan pendidikanku di Pesantren. Aku kira setelah lulus aku akan melanjutkan ke SMA terfavorit di kota, tapi mustahil aku akan melanjutkan ke Pesantren orang tuaku ingin supaya aku bisa memperdalam ilmu agama Islam.

    Aku keluar dari kamar mendengar suara Ibu memanggil namaku.

“Iya bu..sebentar.”Teriakku aku turun ke bawah melewati anak tangga.

“Ibu ingin bicara denganmu Khadijah.”Ibu mempersilakan aku duduk disampingnya.

“Bicara apa bu?” tanyaku penasaran.

“Ayah dan ibu ingin menyekolahkanmu di Pesantren. Kebetulan dekat dengan tempat tinggal tante Siska, jadi kamu bisa ibu titipkan ke tante Siska. Kamu tidak keberatan kan? Kamu juga akan terbiasa kok tinggal di desa.” Kata ibu menjelaskan.

“Ini demi masa depanmu nak, kamu akan lebih mendalami ilmu agama disana. Karena ayah dan ibumu sangat sibuk dengan pekerjaan, sangat sedikit waktu untuk mendidik kamu. Pasti kamu disana akan merasa senang mempunyai teman baru yang baik dan lebih mengenal agama. Bagaimana?” Ayah ikut menambahkan.

“Apakah aku akan meninggalkan kota ini, ibu dan ayah, rumah ini, teman-temanku, dan Luna sahabat terbaikku….”tanyaku pertanyaan itu muncul dari pikiranku. Aku meneteskan air mata memeluk ayah dan ibu.

“Kamu akan kembali ke rumah ini, bertemu ayah dan ibu kembali, bertemu Luna dan teman-teman lainnya. Pasti nak setelah kamu sukses menyelesaikan pendidikan di Pesantren. Atau kamu juga bisa main ke rumah nanti setelah libur panjang. Kita akan berangkat besok pagi, siapkan barang-barangmu ibu akan membantumu.” Kata ibu sambil melepas pelukanku.

“Anak ayah harus semangat. Ayah dan ibu akan sering mengunjungimu.”Ayah meyakinkanku.

“Baiklah kalau ini memang yang terbaik untukku dan demi kebahagiaan ayah dan ibu. Aku sayang ayah..ibu..”Aku kembali memeluk mereka berdua.

   Sehari sebelum aku berangkat, aku chat dengan Luna bahwa aku akan melanjutkan ke Pesantren. Dia pasti rindu denganku sama dengan apa yang aku rasakan nanti.

   Udara sejuk di pedesaan, sawah mulai menguning berjejer pegunungan yang indah. Aku memandangi  dari kaca mobil. Sebentar lagi sampai di rumah tante Siska, adik dari ibuku. Tante Siska belum mempunyai seorang anak. Hari-harinya sepi dirumah. Suaminya bekerja diluar kota. Mobilku berhenti di depan sebuah rumah kecil bernuansa jawa dengan hiasan tanaman bunga di halaman rumahnya. Aku turun dari mobil dan langsung menyapa tante Siska yang sudah menuggu kedatangan kami di teras rumahnya. Ayah dan ibu membuntutiku di belakang.

“Halo tante, apa kabar?” Sapa ku sambil bersalaman dengan tante Siska yang kemudian menciumku.

“Baik. Kamu apa kabar? lama ngga pernah ketemu. Kamu sudah besar saja..”Jawabnya.

“Alhamdulillah baik tante.”Jawabku.

   Kemudian ibu dan tante Siska melepas rasa rindu. Ayah, ibu dan tante Siska sedang sibuk mengobrol di ruang tamu sedangkan aku sibuk memasukkan barang-barang ke kamarku. Sehari sebelum aku mendaftar di Pesantren Al Hidayah, aku dan orang tuaku menginap satu hari di rumah tante Siska. Besoknya aku mulai mendaftar ke Pesantren. Di sana aku akan tinggal di asrama. Tidak akan ada belanja, jalan-jalan ke mall seperti di kota. Aku benar-benar hidup mandiri. Ayah, ibu dan tente Siska mengantarku. Memang tidak jauh dari tempat tinggal tante Siska, jadi setelah liburan nanti aku bisa pulang ke rumah tante Siska.

     Ini hari pertamaku di Pesantren Al Hidayah. Setiap hari bertemu dan berinteraksi dengan lebih banyak teman dari berbagai sekolah yang berbeda-beda. Beberapa di antara mereka berasal dari satu sekolah yang sama, sedangkan aku hanya sendiri. Dan lagi aku merasa asing di sini. Banyak perbedaan antara anak-anak remaja di desa dan di kota tempat tinggalku. Yang pertama kali aku lihat, anak perempuan di Pesantren berbusana muslimah dengan rapi dan anggun, dengan kerudung panjang yang menutupi dada mereka. Sejuk hati ini melihat penampilan seperti itu. Ada rasa cemburu dalam hatiku, ingin juga seperti mereka yang taat pada Allah. Fanisa teman yang pertama kali ku kenal di Pesantren ini, cantik dan anggun sekali, rasanya memandang wanita seperti Fanisa jauh lebih menyejukkan dibanding memandang anak-anak di kota yang berhijab dengan mengenakan baju trend dan celana jeans. Sama dengan yang aku kenakan ini. Hari demi hari aku mulai beradaptasi dan mulai banyak mengenal teman.

     Suara adzan subuh menggema ke seluruh desa. Suasana hening, nyaman dan tenang. Para santri lalu lalang mengambil air wudlu. Santriwati memakai mukena dan membawa sajadah yang dilipatkan pada tangannya. Berbeda dengan santriwan yang melipatkan sajadah pada bahu mereka dengan baju koko dan sarung lengkap dengan peci yang mereka pakai. Para santri segera menuju masjid untuk menunaikan shalat subuh berjama’ah. Barisan shaf ditata rapi dan shalat dengan khusu’ menghadap sang pencipta. Seusai shalat subuh, santriwati keluar dari masjid. Gadis dengan jilbab panjang, mengenakan gamis terlihat anggun berjejer sambil bercanda tawa. Tampaknya mereka sangat akrab layaknya sahabat sejati. Kecuali aku satu-satunya santriwati yang mengenakan celana panjang dengan jilbab modern, berbeda dengan santriwati lain yang berjilbab simple menutupi dada. Berbeda dengan ditempat tinggalku yang hijabnya mengikuti zaman. Aku masih memakai hijab yang dililit sana sini atau biasa orang menyebutnya hijab fashion. Di Pesantren Al Hidayah, aku mendapat banyak ilmu dan banyak teman yang baik. Termasuk ke empat sahabatku yang sudah seperti saudara sendiri. Kita berlima tinggal satu kamar.

      Aku, Fanisa, Kirana, Denisa dan Sarah berjalan ke asrama menuju ruangan O1 nomor kamar kita. Di Pesantren Al Hidayah, asrama perempuan berjarak agak jauh dari asrama laki-laki. Pergaulan antara santriwan dan santriwati juga dibatasi. Apabila berpapasan antara santriwan dan santriwati dilarang saling berpandangan karena bukan muhrim. Sebagian besar lebih memilih untuk menundukan kepala. Namun aneh bagiku, yang belum banyak mengenal tentang arti Islam sebenarnya.

“Kreek..(suara pintu terbuka) Aku hari ini yang mandi duluan ya..” ujar Sarah (gadis berkacamata itu mengambil handuk)

“Nanti giliran aku ya..setelah Sarah..”Kata Kirana merebut.

Sambil menuggu giliran mandi, ada yang sedang merapikan tempat tidur, melipat baju, dan Denisa yang sedang mendengarkan musik sambil memeluk boneka panda kesayangannya.

“Eh, cepat siap-siap nanti kita jam 8 kerja bakti membersihkan lingkungan Pesantren kan?”ucap Fanisa yang baru selesai mandi.

“Tunggu sebentar, aku cocok pake jilbab yang mana?” Tanyaku aku sibuk memilih-milih jilbab.

“Duh rempong banget.., makanya pakai jilbab yang kaya kita pakai aja lebih simple Khadijah..” Jawab Sarah menyarankan.

“mmm udah aku pakai yang ini aja. Maaf ya, aku belum terbiasa pakai jilbab seperti yang kalian pakai.” Ucapku tersenyum malu.

     Para santri membersihkan lingkungan Pesantren mulai dari halaman asrama, masjid sampai halaman belakang. Khadijah dan Fanisa menyapu sekitar asrama. Sedangkan Sarah, Kirana dan Denisa mencabuti rumput dan menyiram tanaman. Ustadz Marzuki keliling asrama untuk mengecek para santri yang sedang melakukan kerja bakti.

“Assalamu’alaikum..” Ustadz Marzuki menghampiriku dan teman-teman.

“Wa’alaikumsalam ..“ Jawab kita serentak.

“Kerja bakti ini melatih kita semua supaya lebih peduli tentang kebersihan. Karena kebersihan adalah sebagian dari iman.” Ucap Ustadz Marzuki menasihati.

“Iya ustadz, kita semua siap, ini kewajiban kita untuk menjaga lingkungan.”Jawab Kirana.

“Selain mendapat pahala, juga dapat menjaga kesehatan kita semua kan Ustadz?”Kataku menambahkan.

“Iya benar, karena lingkungan yang bersih terhindar dari bibit-bibit penyakit.” Jawab Ustadz.

     Sehabis shalat maghrib, seperti kegiatan rutin biasanya santriwati mendengarkan ceramah dari Ustadzah Umi.

     Sampai di kamar asrama, aku kembali mengingat ceramah dari Ustadzah Umi tadi mengenai hijab yang sesuai syariat Islam. Aku mulai penasaran tentang arti hijab sebenarnya. Tanpa ragu aku bertanya pada sahabat-sahabatku.

     Mumpung kami berlima lagi kumpul di kamar sambil makan cemilan dan saling bercanda bercerita satu sama lain. Tumben kali ini Denisa belum tidur , biasanya dia yang tidur lebih awal di antara kami berlima.

Aku mulai dengan satu pertanyaan.

“Kenapa model hijab itu beda-beda, ada yang gaya ada yang panjang dan biasa kaya yang kalian pakai? Emang ngga gerah..”tanyaku karena ingin tahu.

“Setiap orang berproses, dulu temanku juga ada yang seperti itu namun setelah ia tahu hijab yang sesuai syariat ia menggantinya dengan yang seperti ini.” Jawab Fanisa sambil menunjuk jilbab yang dipakainya.

“Aku dan adikku sudah terbiasa memakai gamis sejak kecil. Di keluargaku hijab syar’i bukan hal yang baru, karena abi dan umi sudah mengenalkannya dan meminta kami belajar memakainya.” Tambah Sarah menjelaskan padaku.

Ini adalah malam kita sharing satu sama lain. Selanjutnya giliran Denisa curhat.

“Aku dilarang pacaran dan sangat diatur bagaimana berhubungan dengan laki-laki. Makanya aku tidak biasa berbicara dengan lawan jenis, kaku sekali.”ucapnya.

“Ha..ha..ha..Kami semua tertawa geli melihat ekspresi wajah Denisa yang lucu.”

“Khadijah, cobain pakai kerudung yang lebih tebal deh, kalau seperti ini masih belum menutup aurat.”tegur Kirana.

“Iya, aku masih belajar.” Jawabku merasa malu.

     Namun, ketika ia menegurku. Akhirnya aku mengerti hijabku ini masih jauh dari sempurna. Aku sedikit malu pada sahabat-sahabatku.

     Di Pesantren kini aku berkumpul dengan mereka yang cinta pada Allah, semua lisan disana tentu tak pernah berhenti menyebut asma Allah. Setiap hari para santri menyandang kitab suci. Pesantren ini mengenalkan Islam yang sebenarnya, mengajak mereka untuk menjalankan Islam yang sesuai syariat. Di sana aku mulai bertemu dengan lingkungan Islami. Ya Allah, Engkau mengganti lingkungan lain yang jauh lebih baik dari masa kecilku.

     Sahabat-sahabatku dengan hijab panjangnya yang mendamaikan hatiku, seperti mengajakku untuk berhijab serupa dirinya. Mereka selalu memakai gamis, kerudung panjang dan tebal. Setiap kali bertemu, sebagai seorang sahabat yang baik, mereka selalu menegurku dengan cara yang lembut. Terima kasih Allah, karena Engkau telah mengirimkan mereka untukku berbagi banyak ilmu yang belum aku tahu. Aku semakin memantapkan hatiku. Ya Allah aku siap memenuhi kewajibanMu. Aku mulai mengumpulkan uang untuk membeli hijab sesuai syariat. Pelan-pelan ku perbaiki caraku berpakaian. Aku mulai membiasakan diri memakai rok.

     Aku Khadijah. Langkah kakiku pagi ini lebih percaya diri dari hari-hari sebelumnya di Pesantren ini. Pesantren Al Hidayah. Sinar mentari pagi ini menyapa tubuhku yang kini dilindungi hijab syar’i. Ternyata memakai hijab syar’i itu memang gerah. Sebulan aku baru menyesuaikan diri sampai merasa nyaman. Aku tak lagi peduli panasnya, karena panas di neraka tentu lebih berkali-kali lipat dari ini. Aku merasa ketenangan yang berbeda. Ketenangan yang belum ada pernah aku dapatkan dalam hidupku sebelumnya.

“Selamat pagi, Khadijah…”sapa mereka berempat mengagetkanku kemudian memelukku yang sedang duduk sendiri membaca buku tentang pendidikan Islam.

“Aduuuh kalian, bikin aku kaget…aku sayang kalian. Kalian sahabat terbaikku.”ucapku agak kesal namun bahagia.

“Semoga istiqomah…”kami berlima saling berpelukan.

     Aku keluar dari masjid setelah selesai mengaji. Saat aku sedang berjalan ada yang memanggil-manggil entah siapa aku tidak tahu. Seorang anak laki-laki memakai baju koko putih, sarung bermotif kotak-kotak biru, memakai peci, ditangannya memegang al Quran dan ditangan yang satu memegang buku. Dia melambai-lambaikan tangannya dan menghampiriku.

“Kamu..berhenti sebentar, tadi bukumu jatuh di depan masjid jadi aku mengambilnya. Ini milikmu bukan?”tanya laki-laki berwajah manis itu.

“ooh ya benar ini buku ku, aku tidak tahu buku ini jatuh di depan masjid. Untung saja kamu melihatnya, terima kasih banyak.”Jawabku malu karena baru saja kenal dan bukan muhrim.

“Iya sama-sama. Kalau boleh tahu nama kamu siapa? Sepertinya kamu bukan orang sini.”Dia bertanya padaku.

“Naamaaakuu Khadijah. Iya aku berasal dari kota. Ayah dan ibuku yang mengirimku di Pesantren ini.” Jawabku agak terbata-bata.

“Namaku Fauzan, rumahku tidak terlalu jauh dari Pesantren ini.”Ucapnya memperkenalkan diri.

“Oh ya, tante ku juga rumahnya tidak jauh dari Pesantren ini. Maaf  aku harus pergi.” Kataku sambil beranjak pergi.

“Oh ya, senang bertemu denganmu.”Ucapnya menunduk kemudian tersenyum ke arahku.

     Dia berbeda dengan laki-laki pada umumnya apalagi di kota tempatku tinggal. Dia sopan, baik dan ramah. Dan yang membuat hati ku berdetak kencang adalah senyumnya yang sangat manis dan tutur katanya yang lembut. Aku rasa, aku mulai mempunyai daya tarik terhadap seorang laki-laki. Semakin hari, aku semakin akrab saja dengannya. Di saat berpapasan dia pun selalu menyapa. Entah dia mendapatkan nomor ku dari mana, dia selalu mengirimkanku pesan singkat. Dia orang yang perhatian. Kita mulai saling mengenal satu sama lain. Aku banyak bercerita tentang kehidupanku sebelumnya sampai diriku yang sekarang ini. Aku mempunyai perasaan dengannya, begitu pun sebaliknya. Tahun demi tahun Aku dan Fauzan semakin dekat. Namun kita saling berjauhan satu sama lain. Kita tidak berpacaran, melainkan saling kenal mengenal itu saja. Kita hanya berkomunikasi lewat handphone, bertemu saja jarang, apalagi jalan-jalan, ngedate seperti remaja di luar sana yang memiliki pasangan. Aku tahu karena itu semua dilarang oleh Allah. Jika kita ingin bertemu, Fauzan membawa satu teman. Demikian aku pun juga, biasanya aku mengajak Fanisa untuk menemaniku. Memang bukan sesama muhrim tidak boleh berduaan. Aku belajar banyak hal tentang tata cara seperti itu dari buku-buku yang telah aku baca dan dari sahabat-sahabatku. Jodoh itu Allah yang mengatur, entah aku berjodoh dengan Fauzan atau tidak yang penting aku tidak berpacaran dan hanya saling mengenalnya dengan baik.

     Kini aku beranjak dewasa, aku telah lulus dari Pesantren Al Hidayah. Aku senang bertemu kembali dengan orang tuaku di kota. Kedua orang tuaku merasa bangga pada diriku yang sudah berubah. Alhamdulillah, aku hanya bisa mengucapkan rasa syukur kepada Allah. Dalam hidupku aku tidak akan bisa melupakan Pesantren Al Hidayah yang telah merubah hidupku di jalan Allah. Dan ke empat sahabatku, dia segalanya bagiku menuntunku ke jalan yang benar.Satu lagi ada seseorang yang tidak akan aku lupakan yaitu Fauzan. Aku harap dia selalu dalam lindungan Allah. Aku akan melanjutkan ke Universitas Islam. Walaupun aku sudah brhijab, berjodoh yang belum. Tapi aku yakin Allah akan memberiku jodoh yang baik. Aku selalu berdoa Ya Allah, pertemukanku pada lelaki yang mencintai-Mu. Hal yang membuatku sulit ditebak Fauzan melamarku dihari dimana aku diwisuda.

Penulis : RTM

Pesantren Ku Jalan Menuju-Mu

Navigasi pos