Pernah mendengar cinta yang terlarang? Banyak sekali kisah cinta seperti itu kurasa. Sama halnya seperti diriku, seorang gadis yang terjerat cinta terlarang. Namaku Qanita Ilahiyah atau biasa disapa Nita. Aku seorang muslim namun aku menjalin cinta terlarang dengan seorang pria non muslim, dia bernama George Anderson. Orang tuaku melarangku dalam hubungan ini dengan alasan ingin memiliki menantu yang seiman denganku.

     “ Nita, ayah ingin kau masuk pesantren,” ucap ayahku tiba-tiba.

     “ Tapi kenapa ayah?” tanyaku.

     “ Ayah ingin dirimu jadi lebih baik lagi.”

     “ Apakah selama ini aku kurang baik ayah?”

     “ Dengar Nita, ayah selalu berharap putri ayah satu-satunya ini bisa menjadi wanita sholehah, taat kepada Sang Pencipta. Dan satu lagi, ayah sangat tidak setuju dengan hubungan kalian. Maksud ayah hubungan kau dengan George! Dia bukanlah lelaki yang tepat untukmu sayang. Ayah menginginkan yang terbaik untukmu Nita,” penjelasan ayah begitu menyesakkan perasaanku.

     “ Ayah, tapi George pria yang baik,” jawabku

     “ Ya ayah mengerti, tapi kau tidak boleh melanjutkan hubunganmu itu. Dia memang pria yang baik tetapi ayah selalu berharap kau mendapatkan imam yang dapat menuntunmu ke jalan yang benar,” lagi-lagi ayah menjelaskan panjang lebar.

     Aku benar-benar dilema dengan semua ini, ayah terus bersikeras agar aku mau masuk pesantren dengan alasan aku harus menjauhi George. Oh tidak! Pasti bukan karena itu, aku tahu ayah memang menginginkan yang terbaik untukku. Lalu apa yang harus aku katakan pada George? Haruskah aku meninggalkannya? Sanggupkah aku mengatakan ini pada dirinya? Ya Allah kenapa aku terlibat dengan cinta yang tak seharusnya terjadi?

***

     Hari ini aku harus mengatakan hal terpahit yang pernah kualami ini pada seseorang yang benar-benar tak ingin aku tinggalkan. Pahit memang, bagai menelan empedu yang kurasa. Andai aku tak mengenal George, pasti saat ini aku dengan ringan hati memulai kehidupan baruku di pesantren. Apalah dayaku, nasi sudah menjadi bubur. Tak ada yang bisa kulakukan lagi selain menjalani semua ini.

     “ George, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” aku berkata padanya.

     “  Katakan saja.”

     “ Tapi sebelumnya aku minta maaf karena aku akan meninggalkanmu untuk memulai hidupku di pesantren. Aku tak bisa menolak ini, karena ini adalah kemauan orang tuaku,” kataku dengan lirih.

     “ Kenapa kau baru memberi tahuku sekarang? Setelah kita menjalin hubungan sejauh ini, aku telah nyaman dengan kehadiranmu dihidupku dan aku berniat menikahimu walau aku tahu kita berbeda kepercayaan. Namun, setelah kau mengatakan ini padaku, aku merasa aku tidak memiliki harapan lagi. Aku tahu apa maksud ayahmu memasukanmu ke dalam pesantren, karena ayahmu tidak menyukaiku kan? Jadi dengan kau masuk ke pesantren kau bisa jauh denganku,” katanya dengan nada sedikit kecewa.

     “ Aku benar-benar minta maaf George, aku tak bermaksud akan semua ini,” kataku pelan.

     “ Nita, jika memang itu menjadi pilihanmu, aku tak bisa berbuat apa pun. Baiklah, kita akhiri semua ini, aku berharap kau menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Aku memang mencintaimu tapi aku tak bisa keluar begitu saja dari agamaku,” ucapnya dengan pelan

     “ Apa kau marah padaku George?” tanyaku dengan sedikit ragu menyelimuti.

     “ Tidak. Aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Jadi aku akan mencoba merelakan semua ini. Cukup sampai di sini cerita kita, kau akan menjadi kenangan yang selalu tersimpan,” ucapnya sembari memalingkan wajah menahan tangis.

     George berlalu meninggalkanku, kalimat demi kalimat yang dia katakan padaku begitu membayang dalam ingatanku. Layaknya sebuah sihir, kalimat itu terus merasuk ke dalam pikiran malang ini. Apa yang sesungguhnya telah terjadi padaku? Entahlah, aku sendiri pun tak paham akan hal ini. Meski hatiku ragu tuk meninggalkannya, aku harus menjalani ini semua, bagaimana pun ini perintah orang tuaku. Lagi pula aku dan George sudah tak ada ikatan apa pun. Jadi kini saatnya aku memulai hidupku di pesantren.

***

Hari pertama di pesanten

     Rasa kaku dan canggung mengikutiku saat aku masuk ke pesantren. Selama ini aku memang jauh dari kata pesantren. Maka dari itu aku merasa asing di tempat ini. Ini kali pertamanya aku datang ke pesantren. Lokasi pesantren ini terletak di sebuah desa yang sangat terpencil di Pulau Jawa dan sangat jauh dari kota. Tetapi saat ini tekadku sudah bulat untuk menuntut ilmu di sini, meski sempat ada konflik namun semuanya telah kujadikan benteng untuk sungguh-sungguh menuntut ilmu di sini. Di sinilah awal aku memperbaiki diri.

     Malam hari terdengar suara berisik di luar kamarku. Ternyata itu adalah suara dari 2 orang santri wati yang tengah memperbincangkan masalah yang kurasa tak begitu penting. Suara itu terus menggangguku, aku ingin menegur mereka tapi mereka adalah seniorku. Jadi mau tak mau aku hanya bisa diam dan mendengarkan obrolan mereka seputar anak dari kyai di sini, dia bernama Ibnu Rasyid Yusuf. Sepertinya anak kyai itu telah membuat santri wati di sini tergila-gila, tapi aku sendiri tak tahu seperti apa dia. Entahlah, aku tak ingin memikirkan hal konyol seperti ini, lebih baik aku tidur saja.

     Esoknya, aku beserta teman baruku Marwah dan Ratna pergi ke pasar yang lumayan jauh dari pondok pesantren ini. Usai membeli sesuatu, tiba-tiba ada mobil dari samping yang hampir menabrakku. Untung saja saat itu ada seorang pemuda yang menolongku.

     “ Kamu baik-baik saja?” tanyanya padaku.

     “ Iya aku baik-baik saja.”

     “ Ngomong-ngomong kamu siapa? Aku baru melihatmu di sini, apa kau santri baru?” tanyanya.

     “ Iya aku memang santri baru di sini, namaku Qanita Ilahiyah. Panggil saja Nita,” ucapku

     “ Ooh. Aku Rasyid,” ucapnya dengan tersenyum.

     Setelah itu, Marwah dan Ratna menghampiri diriku saat pemuda bernama Rasyid itu pergi. Mereka menceritakan semuanya padaku siapa Rasyid itu sebenarnya. Kini aku tak heran kenapa banyak santri wati yang tergila-gila pada dirinya.

***

     Hari berlalu tahun berganti, aku telah terbiasa dengan kehidupan di pesantren ini. Banyak pengalaman yang kudapat dari pesantren ini. Aku bersyukur aku mampu memperbaiki diriku sedikit demi sedikit. Canda tawa teman-teman di sini menjadi pelipur ketika aku rindu dengan orang tuaku. Dan satu hal lagi, aku merasa aku tengah jatuh hati kepada salah satu hambamu di sini Ya Allah. Aku tak pernah menyangka bahwa perbincanganku dan dia pada hari itu membuatku terpikat padanya.

     “ Ciee yang sudah bisa move on dari George,” ucap Ratna.

     “ Apaan sih kurang kerja deh.”

     “ Hahaha, Rasyid kayaknya suka tuh sama kamu,” goda Marwah.

     “ Marwah!” ucapku sembari menahan malu.

     “ Ada yang bakalan jadi menantu kyai nih,” ledek Ratna dan Marwah secara bersama-sama.

     Aku akui aku memang menyuakinya, tapi tujuanku berada di sisni bukanlah untuk itu. Dan aku rasa aku terlalu tinggi dalam berharap akan rasa ini. Ya Allah, haruskah aku senang atau malah sebaliknya? Aku tak mau perasaan ini menjadi penghalang diriku untuk berhijrah. Kini aku hanya mampu memendam ini dalam diamku.

     Tiap-tiap di sepertiga malam aku selalu berdoa pada-Nya, kupanjatkan untaian doa ini, kuluapkan segala keluh kesahku pada-Nya. Karena hanya kepada-Nya lah aku berserah diri. Allah telah memberikan segalanya tanpa aku meminta, lalu nikmat Allah manakah yang kau dustakan? Namun detik berikutnya aku teringat akan sosok pria yang telah melintas dalam imajinasiku. Tak bohong bahwa saat itu aku merasa terbang membayangkan senyum manis yang terbentuk di bibirnya. Tersadar akan hal itu, aku menyesal telah memikirkan hal yang tak semestinya ada dalam pikiranku.

***

     Kalau dipikir hidup itu singkat, seperti baru kemarin aku menjadi santri baru di sini, kini adalah detik-detik terakhirku disini. Seketika aku menundukkan kepala menatap lantai putih dan membuyarkan khayalanku tentang Rasyid. Astaghfirullah! Pikiran itu terus datang membayang. Aku menepuk pipiku sendiri, apa yang baru saja kupikirkan seharusnya tak pernah ada. Entah kenapa hatiku terasa sakit saat menyadari bahwa sebentar lagi aku meninggalkan pesantren ini dan yang pastinya Rasyid. Pria itu tak hanya membekas dalam ingatanku, namun juga tertanam di lubuk hatiku. Pria sesempurna Rasyid pasti memiliki gadis pilihannya, dan aku jauh dari kata itu. Kenapa cinta mudah datang, tapi sulit untuk pergi?

     Hari ini hari terakhirku berada di sini, aku bakal merindukan suasana pesantren yang tenang ini. Aku bersyukur aku bisa masuk ke pesantren ini meski dulu aku enggan datang kesini namun, tempat ini adalah tempat yang paling aku rindukan. Tempat dimana aku mampu merubah kepribadian burukku. Ada rasa sedih ketika aku meninggalkan tempat ini, aku terpisah dari sahabat baikku dan lagi-lagi aku harus melupakan seseorang yang telah tertanam di hati. Lalu mengapa aku begitu tak rela meninggalkan Rasyid sementara dia bukan siapa-siapaku. Lain halnya saat aku mengingggalkan George, aku bisa dengan perlahan menghapus George, kenapa Rasyid berbeda? Ya Allah berikan jawaban ini padaku.

***

     Aku telah sampai di rumah, kutatap sekelilingku dan kudapati tak ada seorang pun di sini. Aku heran, kemana perginya mereka? Kulangkahkan kakiku menuju halaman belakang, dan masih sama tak ada seorang pun. Akhirnya aku merasa lelah dan berniat untuk istirahat saja di kamar. Namun, saat aku membuka pintu kamar tiba –tiba…

     “ Surprised!!!,” ucap ayah, ibu, dan sepupuku secara bersamaan.

     Mereka mengagetkanku dari belakang punggungku dan saat itu pula aku terkejut. Mereka pangling melihatku dan kemudian menanyakan apa saja yang terjadi di pesantren. Kujawab pertanyaan mereka satu per satu hingga aku merasa lelah. Kembalinya aku ke rumah membuatku lebih mengerti akan arti kebersamaan. Kebersamaan ini telah aku rindukan saat aku berada jauh dari keluargaku. Di saat itu pula aku teringat akan kebersamaanku dengan sahabat-sahabatku di pesantren. Di pesantren aku telah menemukan jati diriku yang sesungguhnya. Aku rindu akan suasana ketika malam aku tak bisa tidur karena teman sekamarku tak bisa tidur jika lampu dimatikan, sedangkan diriku berbanding terbalik dengan dirinya. Bayanganku akan pesantren masih terus terngiang meski cahaya senja telah hilang.

     Setelah itu, kutulis apa yang berkelebat menggebu tentang bagaimana aku merindukanmu wahai kawanku. Saat senja bersinar menggambarkanmu, betapa raga ini melemah terpaku pada sosok dirimu yang telah berlalu. Aku masih bertahan dalam termangu, meski aku dan dirimu tak lagi bersatu.

***

     Sudah 3 bulan aku berada di rumah. Suasana di rumah dan di pesantren sungguhlah berbeda. Aku memulai hari-hariku seperti biasa dan akku akan melanjutkan pendidikanku di salah satu universitas yang dekat dengan rumahku. Aku berharap aku dapat membanggakan orang tuaku yang telah membesarkanku dan mendidikku hingga seperti ini. Mereka telah banyak berjasa untukku, jadi ini saatnya aku membalas kebaikan mereka. Karena aku tak ingin hanya dalam angan, hingga penasaran membuatku merasakan. Betapa impian kian menyelimuti hati, seolah harapan terbawa hingga mati.

     “ Nita, ada tamu yang mau bertemu kamu,” ucap ibuku di depan kamarku.

     Kulangkahkan kakiku menuju ruang tamu dan aku terkejut akan kedatangan kyai dengan anaknya. Iya, maksudku Rasyid. Ada apa mereka kemari? Mereka datang kemari dengam tujuan yang lagi-lagi membuatku terkejut, ya Rasyid akan melamarku. Aku katakan aku siap, tetapi Rasyid harus menungguku setelah aku lulus S1 dan dia menyanggupinya.

***

     Malam ini adalah malam dimana aku merenungkan semua yang akan terjadi esok. Malam dimana aku termenung menatap awan, sembari kulihat indahnya bintang bertaburan. Entah apa yang aku renungkan, hingga sekelebat harapan terpikirkan. Mungkinkah tentang terangnya cahaya pagi? Ataukah harapan pada berbagai dimensi? Sampai manakah pikiran ini akan terhenti? Baiklah aku lelah memikirkan ini, kulihat saja apa yang terjadi saat fajar nanti.

     Hari ini adalah tepat hari pernikahanku. Seseorang yang tak pernah kuduga akan hadir dalam hidupku menjadi pendampingku. Aku teringat akan kalimat yang George katakan untukku bahwa aku akan mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya. Itukah Rasyid? Aku harap iya.

Penulis : UAN

Rencana Allah Lebih Sempurna

Navigasi pos