Monumen Jayadiwangsa terletak di Wirasaba, Purbalingga. Monumen ini merupakan sebuah bangunan yang berisi sejarah mengenai keluarga Jayadiwangsa. Keluarga Jayadiwangsa sendiri merupakan generasi bangsa pada zaman Diponegoro sekitar tahun 1820-an. Monumen ini masih terawat hingga sekarang dan menjadi lahan sejarah bagi siswa yang ingin mengadakan penelitian sejarah.

Tak ketinggalan, sekelompok siswa Smansa Perjaka juga sempat mengadakan kunjungan dengan tujuan mengetahui asal-usul monumen tersebut. Menurut penjaga monumen tersebut, Bapak Mulyono Samiarja yang tidak lain masih memiliki garis keturunan Jayadiwangsa itu sendiri, monumen ini didirikan oleh Insinyur Seni Rupa ITB bernama Nugroho Setyamoko. Selain seba-gai lahan sejarah, menurut beliau,  monumen ini juga merupakan tempat tinggal beliau, serta digunakan untuk berkumpul bersama keluarga garis keturunan Jayadiwangsa.Di dalam monumen tersebut terdapat sebuah patung, Pak Mulyono mengatakan bahwa patung tersebut bukan untuk disembah atau sejenisnya, melainkan sebagai kenangan tentang Jayadiwangsa itu sendiri. Beliau menuturkan bahwa Jayadiwangsa itu bukan orang yang istimewa, bukan seorang prajurit atau yang lainnya. Jayadiwangsa juga berwasiat untuk selalu menjaga keutuhan wilayah Wirasaba agar jangan sampai ambles atau bubar.

Jayadiwangsa sendiri merupakan warga biasa atau petani yang selalu mengajarkan kepada anak cucunya supaya menjadi manusia yang baik dan mau hidup prihatin. Beliau juga seorang pekerja keras yang ingin membangun ekonomi di desa Wirasaba. Jayadiwangsa pernah membuat krekel dari kelapa yang kemudian dikirim ke Cilacap dengan menggunakan gerobak sapi, namun kemudian beliau menggunakan rakit melalui Sungai Serayu untuk menghemat waktu. Hasil penjualannya tersebut digunakan untuk membeli barang-barang yang kemudian dijual di Wirasaba untuk membantu perekonomian di desa.

Dari penelitian di Monumen Jayadiwangsa tersebut, sekelompok siswa Smansa Perjaka banyak mendapatkan pelajaran hidup yang berharga dari cerita keluarga Jayadiwangsa. Mereka menyebutkan bahwa kita harus tetap merawat peninggalan-peninggalan sejarah dan juga menjaga keutuhan wilayah di sekitar kita.

Oleh : Suciati JN

 

 

Ladang Sejarah Di Wirasaba, Purbalingga

Navigasi pos