Pertanyaan tentang siapa kita dan bagaimana lingkungan setidaknya perlu terus diajukan agar kesadaran manusia tentang arti penting ekologi senantiasa lebih bermakna. Sebab di era modern saat ini, ketika sebagian manusia telah memiliki kesadaran tinggi tentang makna penting lingkungan, di sisi lain bumi yang kita pijak bersama ini pun kian tergerus, tereksploitasi dengan kerasnya.

Setidaknya, upaya-upaya sebagian manusia berkesadaran tinggi ini mampu meredam laju cepat perusakan lingkungan itu sendiri. Karena sejatinya kita semua umat manusia merupakan satu kesatuan, mendiami bumi yang sama, tanah yang sama, yaitu  planet bumi. Ketika semua pihak bernafsu memeperebutkan dan mengeksploitasi sumber daya alamnya, bencana ekologis tinggal menunggu hitungan waktu.

Ke mana suara para pecinta lingkungan? Ke mana gerakan para ahli lingkungan dan seterusnya? Akan banyak pertanyaan yang kita ajukan jika kita hanya mengikuti asas saling menyalahkan. Tidakkah sebaiknya kita atasi semua persoalan lingkungan dari diri kita sendiri, dari lingkup terkecil kita? Dengan demikian, langkah-langkah kecil tersebut akan memberi makna pada lingkungan  kita sendiri dan selanjutnya meluas dan mempersempit gerak perusakan lingkungan itu sendiri.

Apa yang Bisa Dilakukan

Berbicara tentang lingkungan, para pakar telah mengajukan serangkaian  permasalahan sekaligus solusi untuk mengatasi hal tersebut. Didik Sarudji, M. Sc. misalnya dalam bukunya yang berjudul “Kesehatan Lingkungan”  ( 2006: 1 ) mengemukakan bahwa lingkungan hidup memililiki komponen-komponen yang terdiri atas komponen biologik, fisik, kimiawi, sosial, ekonomi, dan budaya di mana komponen sosial, ekonomi, dan budaya termasuk dalam ranah masyarakat, maka jelas apabila masyarakat merupakan bagian dari lingkungan hidup sehingga apabila dianalogikan maka kesejahteraan masyarakat menjadi bagian dalam kesehatan lingkungan.

Selanjutnya dipaparkan pula tentang pengelolaan lingkungan hidup untuk kesejahteraan manusia. Dalam artefak lama ditemukan bahwa masyarakat kuno yaitu bangsa Minoans ( 3000 SM ) telah mengenal adanya sistem drainase. Bangsa Romawi memperhatikan personal hygiene dan kebersihan. Inggris di abad pertengahan sudah mempromosikan adanya pemisahan sumber air dengan jamban sebagai jawaban mewabahnya penyakit malaria di negeri itu.

Dengan demikian, nyata bahwa masyakarat, kita semua perlu bahu- membahu mengatasi permasalahan lingkungan ini agar bencana ekologis bisa kita hindari demi anak cucu kita kelak. Setidaknya ada 5 poin sederhana yang bisa kita upayakan dalam mengatasi permasalahan lingkungan ini, yaitu:

  1. Selalu membuang sampah pada tempatnya
  2. Menggunakan bahan-bahan yang mudah diuraikan mikroorganisme tanah
  3. Menerapkan prinsip tebang pilih pohon
  4. Melakukan penghijauan kembali
  5. Membuat terasering atau sengkedan di daerah pegunungan.

Pembentukan Budaya Sadar Lingkungan

Berbicara mengenai sarana prasarana yang ada di sekitar kita, dirasakan telah cukup memadai bila dilihat dari kacamata kesehatan lingkungan. Ketersediaan tempat sampah, kawasan bebas rokok, hutan kota, dan berbagai sarana pendukung lainnya telah sedemikian rupa diupayakan oleh pemerintah.

Namun kembali lagi pada persoalan mendasar dan klasik kita: sudahkah membudaya dalam diri setiap insan tentang pentingnya kesadaran lingkungan? Di sinilah PR kita bersama mengupayakan dan mempromosikan terus langkah-langkah cerdas tentang lingkungan. Kita bisa memulainya dari rumah, lingkungan sekitar, sekolah, kantor, dan masyarakat luas. Membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya merupakan aspek mendasar perilaku seseorang yang merupakan cerminan perilaku di rumah. Sikap ini perlu terus dibudayakan tanpa mengenal lelah sebab penanaman nilai-nilai di rumah akan terbawa hingga dewasa.

Selanjutnya meluas di lingkungan sekolah. Sekolah sebagai bagian penting dalam fase pendidikan seorang manusia perlu terus mengupayakan promosi kesehatan lingkungan dengan berbagai cara. Bisa dimasukkan dalam aspek pembelajaran maupun dikemas dalam ekstrakurikuler. Semua bermuara pada satu tujuan yaitu terciptanya generasi hijau, generasi yang sadar lingkungan.

Sekolah bisa mengembangkan menu-menu hijaunya dalam seluruh aktivitas warga sekolah. Misalnya pembuatan biopori, melakukan perawatan tanaman, menyiram tanaman, pengolahan sampah atau limbah dengan benar dan sebagainya. Diperlukan sinergi maksimal antarpemegang kepentingan agar tujuan terciptanya lingkungan yang sehat bisa terwujud.

Dengan demikian, cita-cita mewujudkan bumi yang hijau dan sehat bukan dengan cara saling melempar kesalahan. Hal paling bijak yang bisa kita lakukan adalah mengupayakan langkah-langkah sederhana dalam keseharian kita. Yakinlah bahwa dengan langkah-langkah kecil tersebut akan memberi dampak besar bagi bumi yang kita cintai ini. Semoga. Salam Adiwiyata.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *