SMAN 1 PURWAREJA KLAMPOK

Sebuah Pertemuan dan Kehilangan

Bintang bersinar terang bertaburan memenuhi angkasa, ditambah sang rembulan. Sangat kontras dengan pekatnya malam.

Aku masih berbaring di atas rerumputan, menikmati udara malam yang sejujurnya cukup untuk membuat buluk kudukku berjengit.

Namun aku masih tetap diam, membiarkan angin menusuk epidermis.

Dalam benakku ribuan pertanyaan terlontar, tetapi tanpa jawaban. Atau semacam pertanyaan retoris yang sudah kuketahui jawabannya, karena kujawab sendiri pertanyaan itu.

Suara ibu memecah gelembung lamunan yang sedari tadi mengembang, “Ale, apa kau masih di luar?”

Namaku Starlea Nirmana, tapi keluarga dan orang-orang terdekatku selalu memanggilku Ale saja.

Sejujurnya aku tidak terlalu suka, nama panggilan itu seperti bukan nama anak perempuan. Karena aku feminim, dalam artian aku menyukai diriku sebagai seorang perempuan dan bersyukur diciptakan sebagai seorang perempuan.

“Ya Bu, sebentar lagi aku masuk.” Jawabku yang sudah paham betul arti dari pertanyaan ibu, karena jika ibu bertanya bisa jadi itu adalah perintah.

“Kau masih ingat dengan sekolahmu kan Ale?”

Itu suara ibu yang mengagetkanku lagi. “Iya bu, aku segera masuk.” Jawabku malas. Sebenarnya aku masih ingin bermalas-malasan di atas rumput, menikmati dinginnya malam yang tenang sembari memikirkan dunia yang kejam.

Tapi apa dayaku, kalau ibu sudah seperti itu aku tak bisa melawan.

Aku menuruti perintah ibu untuk masuk dan mengerjakan PR. Setelah itu aku mengistirahatkan seluruh tubuh, memejamkan mata melupakan kepahitan yang tengah melanda.

Aku melintasi jalan setapak yang sudah berlumut. Seperti biasa, aku juga melewati beberapa toko kelontong. Biasanya aku memang naik angkutan umum.

Tapi kali ini tidak, semalam artikel yang kubaca di internet isinya tentang studi pengamatan bahwa jika anak berjalan kaki ketika berangkat sekolah atau bersepeda akan meningkatkan konsentrasi.

Ya, aku benar-benar mencobanya untuk menghadapi mata pelajaran fisika jam terakhir nanti.

Sebagai seorang pelajar, aku tergolong agak bodoh di banding teman sekelasku yang tiap semester dapat rangking satu.

Jujur, aku sangat kesulitan untuk sekedar merasa nyaman di sekolah, karena aku merasa aku tak berguna dan belum pernah mencetak prestasi apa pun.

Belum lagi kelebihan yang aku anggap sebagai kutukan ini, semakin tepat tiap harinya. Aku tak bisa menghindarinya, setiap hari pasti aku bertemu orang lain dan tak sengaja kontak mata dengan mereka.

Suara cempreng yang khas itu memanggilku. “Hai Starlea, tunggu!” Aku sama sekali tak menengok, sudah sangat hafal diluar kepala, pemilik suara itu.

“Kau sudah mengerjakan PR, line?” Aku bertanya pada Aeralin,gadis berkacamata yang duduk sebangku denganku. Mendengar aku bertanya, dia hanya tersenyum sinis.

“Oh ayolah line, kau tahu kan aku sama sekali tidak bisa fisika.” Kataku seraya memutar bola mata malas.

“Kalau begitu jangan hanya menyontek saja kau harus berpikir, akan kuajari caranya.” Suara Aeraline kali ini bernada tegas dan bijak. Aku jadi merinding mendengarnya.

“Kenapa kau malah diam Star? Ayo bergegas ke kelas sebelum guru masuk.”

“Ah iya, ayo.”

Di jam pertama yang harusnya di penuhi konsentrasi aku justru memikirkan hal-hal yang abstrak menurut orang lain.

Aku masih memikirkan bagaimana caranya mengetahui apa maksud si rangking satu itu mendekati kami dan ingin berteman. Ya, maksudku rigel.

Sebenarnya lumayan berteman dengan Rigel, aku jadi memiliki kunci jawaban berjalan. Tapi aku tak mau menjadi seseorang yang sangat bergantung dengannya.

Kulihat Aeraline sama sekali tidak keberatan jika harus berteman dengan Rigel.

Ketika mereka berdua bertemu, maka topik pembahasannya adalah tentang soal-soal yang menurutku HOTS, padahal itu masih tergolong mudah.

Tapi aku mengategorikan sendiri tentang soal. Sejujurnya yang disebut soal High Order Thinking Skill adalah soal yang menguras otak dan membutuhkan konsentrasi berpikir tinggi.

Tapi karena semua soal juga membuatku seperti itu, maka aku namakan semua soal sama yakni HOTS.

Pagi ini mata pelajaran pertama adalah matematika peminatan. Bukankah matematika peminatan namanya? Ya terima kasih, berarti aku tidak termasuk. Karena aku sama sekali tidak berminat.

Awalnya aku sangat menginginkan masuk jurusan bahasa, tapi ayah dan ibu melarang ku. Katanya, anak MIPA lebih mudah memilih jurusan kuliah. Ah,masa?

Aku belum memikirkan akan menjadi apa di masa depan. Yang kupikirkan yang terpenting aku bisa menjadi manusia yang berguna bagi orang lain.

Aku dan Aeraline sudah sampai di kelas, kami langsung duduk di bangku masing-masing. Suara ketukan sepatu yang ritmis menghentikan mulutku yang ingin membuka obrolan dengan Aeraline. Itu suara sepatu bu Vera, guru matematika kami.

“Selamat pagi anak-anak.” Sapa bu Vera setelah sampai di depan kelas.

“Pagi bu.” Kami menjawab serentak, bak sudah di komando.

“Ada PR atau tidak ya?” Bu Vera bertanya pada kami semua.

“Ada bu, LKS halaman 30.” Itu suara Rigel, ah menyebalkan. Semua sudah sepakat untuk diam, kenapa dia bilang iya.

Atmosfir di seluruh ruangan menjadi lebih panas, aku belum mengerjakan PR. Takut jika ditunjuk untuk mengerjakan di depan.

“Iya Rigel, terima kasih. Sepertinya banyak yang belum mengerjakan.”

Semua siswa hanya diam, tak berani menjawab.

“Baiklah kita mulai saja pelajaran hari ini. Rigel, kamu maju kerjakan nomor 1.” Rigel hanya mengangguk dan langsung beranjak.

“Dan kamu Aeraline, sudah mengerjakan?”

“Sudah bu.” Jawab Aeraline.

“Oke, kamu kerjakan nomor 3.” Titah bu Vera pada Aeraline.

Aku menghela napas, pelajaran matematika peminatan hari ini 3 jam. Aku menyimak penjelasan Rigel dan Aeraline di depan.

Aku pikir, aku menyukai sains menyukai pelajaran Biologi. Tapi untuk pelajaran hitung-hitungan seperti matematika dan fisika aku angkat tangan. Bukan untuk menjawab pertanyaan, tapi untuk menyerah.

Bel istirahat berbunyi, hanya dering biasa tapi di telingaku bak alunan musik dari surga.

Bahagia rasanya dapat terbebas dari denyutan kepalaku yang seperti ingin meledak dan perutku juga mual melihat deretan angka yang seperti menari-nari di hadapanku.

Bu Vera meninggalkan kelas.

Aku langsung beranjak dari duduk dan menepuk bahu Aeraline yang masih fokus mengerjakan soal dengan banyak kerutan di dahinya.

“Hei, ayolah istirahat dulu jangan terlalu memforsir diri sendiri.” Ajakku.

“Kau saja duluan, aku masih ingin memecahkan satu soal lagi.” Katanya serius.

Aku masih duduk di bangku, tak beranjak sama sekali karena aku masih menunggu Aeraline. Karena kulihat dia biasa-biasa saja, tidak curiga sama sekali pada Rigel.

“Berapa lama lagi kau mengerjakan?” Tanyaku pelan-pelan, karena jika sedang mengerjakan soal Aeraline tak mau diganggu.

“Oh baiklah, kau pasti berpikir aneh lagi.” Jawabnya.

Aku melihat jam di dinding menunjukkan pukul 10.20 artinya istirahat tinggal sepuluh menit, kami hanya memiliki waktu lima menit untuk istirahat.

Aku menghela napas lega, saat Aeraline mengemasi buku-bukunya yang berserakan. Artinya dia sudah menghitung waktu membereskan bukunya juga.

“Ayo cepat Star, istirahat tinggal tujuh menit lagi.” Aeraline berseru agak panik.
Oh ayolah, padahal sedari tadi aku sudah mengajaknya ke kantin. Sekarang dia yang terburu-buru sekali.

“Ya, ayo.” Jawabku datar.

Kami berjalan cepat ke kantin, bak di kejar-kejar anjing.
Kami sudah sampai di kantin, aku memesan satu piring siomay dan es teh. Sedangkan Aeraline memilih mi ayam dan es jeruk.

Saat aku baru akan memasukkan suapan pertamaku, Aeraline memulai topik pembicaraan.

“Star, sepertinya kau terlalu berlebihan menilai Rigel. Maksudku aku tidak melihat gelagat atau pun sesuatu yang aneh kok.”

“Emm, mungkin yang kau katakan itu benar. Tapi aku merasa ada yang janggal.”

“ Ah iya aku lupa kalau kau orang yang memiliki level di atas peka.”

Yang dikatakan Aeraline memang benar, mungkin aku terlalu peka atau bahkan lebih. Sebenarnya bukan itu, tapi karena memang aku tahu yang sebenarnya.

Entah harus kusebut ini sebagai kelebihan atau kekurangan, aku sendiri tak tahu. Ya, aku bisa mengetahui isi pikiran orang lain dan kepribadian hanya dari kontak mata.

Bakso ku sudah tandas sedari tadi, tapi aku masih menunggu Aeraline yang belum selesai makan. Sambil menunggu, pikiranku menerawang jauh.

Melamun memikirkan kenapa rigel bisa tahu kelebihan Aeraline. Suara Aeraline membuyarkan lamunanku.

“Ya sudah, ayo kita ke kelas bel masuk sudah berbunyi.”

Aku hanya menganggukkan kepala untuk mengiyakan ajakan Aeraline.

Jujur, aku sangat kacau hari ini. Bukan diriku, lebih tepatnya otakku. Aku adalah tipe pembelajar auditori, setiap perkataan orang entah itu baik ataupun buruk pasti akan selalu menggema di dalam audio otakku.

Aku sadar setiap individu di dunia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Tapi, kurasa kekuranganku melebihi siapa pun manusia di dunia ini.

Aku tak bisa fisika, sulit memahami matematika, dan sangat pusing menghadapi kimia. Hanya satu yang kusukai dari mata pelajaran peminatan IPA, yakni biologi.

Ya, aku sangat suka biologi meskipun nilaiku juga tidak terlalu tinggi.

Mungkin memilih masuk MIPA adalah satu kesalahan yang membawa peruntungan bagiku, karena kapan lagi penyuka sastra seperti ku meneliti struktur tumbuhan menggunakan mikroskop.

Aku sedang memikirkan tentang ini sekarang. Yang bagi orang-orang merupakan satu kelebihan, tapi bagiku ini sebuah kekurangan.

Dan tak dapat kuhindari setiap harinya. Semakin ku menghindar, semua hal yang kubenci justru semakin dekat denganku.

Meskipun begitu banyak kekurangan dalam diriku, aku baru menyadari satu hal bahwa tuhan menakdirkanku memiliki satu kelebihan yang kuanggap sebagai kekurangan itu.

Ini seperti mimpi buruk sejujurnya, tapi aku harus menerimanya. Aku harus belajar menerima diriku sendiri. Ketika aku saja tak bisa menerima diriku sendiri, apalagi orang lain kan?

“Hei, kenapa kau melamun Star?” Suara Aeraline membuyarkan lamunanku yang kian melantur.

“Ah iya! Aku tidak apa-apa, hanya saja emm.” Belum selesai aku bicara, Aeraline sudah mengetahui apa yang kupikirkan.

“Kalau ada masalah kau boleh cerita denganku Star, kalau kau mau. Kita kan teman.”

“Iya terima kasih lin. Emm sejujurnya aku tak ingin memikirkannya, tapi apa boleh buat. Otakku yang mengajak.” Kataku seraya menunjuk tempurung kepalaku. Sedikit candaan untuk menetralisir semua pikiran negatif ku.

“Yang menjalankan semua sistem tubuh kita memang otak, tapi yang paling bisa mengendalikan segalanya adalah hati. Jika hatimu baik-baik saja, semuanya pasti akan baik.”

“Terima kasih Line, kau selalu bisa mengerti semua tanpa menyudutkanku.”

“Kita adalah teman bukan? Jadi mari kita tunjukkan gunanya seorang teman.”

“Iya, kita adalah teman.” Jawabku seraya tersenyum lega.

Kami kembali ke kelas untuk menerima pelajaran berikutnya. Aku masih tidak bisa berkonsentrasi, aku ingin cerita pada Aeraline tapi aku takut melihat apa reaksinya nanti.

Jadi aku memilih memendamnya sendiri untuk saat ini.

Tak terasa bel yang ditunggu-tunggu para siswa berbunyi. Aku langsung merapikan dan memasukkan buku-buku sebelum pak Derry buka suara.

“Sudah waktunya pulang, jadi lanjutkan tugas tadi di rumah, akan saya cek pertemuan berikutnya.” Akhirnya pak Derry buka suara juga, aku sudah menebak kalimatnya pasti akan seperti itu lagi.

“Iya pak.” Seisi ruang kelas menjawab serempak.

Selesai berdoa, aku masih duduk diam menatap teman sekelasku yang sibuk berebut untuk keluar. Setelah sepi aku baru keluar bersama Aeraline, menyusuri koridor dengan langkah gontai nan malas.

Tapi aku tetap berusaha melangkah dengan cepat, karena ingin segera sampai di rumah, merebahkan diri di kasur queen size ku.

Atau duduk di depan jendela kamarku seraya menikmati udara yang masuk dan menuliskan beberapa kalimat di notes kecil yang selalu kubawa kemanapun.

Kami pulang naik angkot, cuaca yang panas dan banyaknya penumpang yang berjubel membuatku mood ku semakin buruk saja.

Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk sampai di rumahku sekitar 30 menit, oke aku harus sabar.
Aku melambai pada Aeraline yang masih di dalam angkot, dia sampai rumah masih 5 menit lagi.

Aku bersyukur sudah sampai di rumah, aku segera melepas sepatu menaruhnya di rak dan mencuci kaki ku dengan air kran di samping garasi. Setelahnya, aku langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri sebentar lalu ganti baju.

Aku duduk di kursi belajarku yang menghadap jendela, menikmati udara yang masuk melalui celahnya. Sambil menuliskan beberapa kalimat yang menggambarkan aku hari ini di note kecil yang sering kubawa kemana pun aku pergi.

Selain membaca, aku memang suka menulis.

Sejak kelas 4 SD aku sudah menulis diary, tentang kegiatan sehari-hari ku. Sekarang ini, aku juga mulai menyukai menulis sajak atau pun puisi.

Terkadang jika sedang malas menulis tangan, aku lebih suka menulis di blog pribadi yang aku buat sejak dua tahun yang lalu.

Pengikut dan pembacaku memang belum banyak, tapi aku tetap menulis di blog. Seringkali hanya untuk melampiaskan kekesalan ku pada saat itu.

“Star, Ibu pulang.” Aku masih diam, masih sibuk berperang dengan pikiranku sendiri.

“Star, apa kau tidak di rumah?” Itu suara ibu lagi.

“Aku di rumah kok bu, di kamar.” Akhirnya aku menjawab.

“Ibu kira kau ada les bahasa inggris hari ini.”

“Maaf bu, aku terpaksa membolos les hari ini.”

Ibu masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu. “Kenapa membolos? Apa kau sakit Star?” Ibu bertanya sambil merih keningku. Dan aku menghindar.

“Tidak bu, aku tidak sakit kok. Hanya emm, sedang malas berangkat saja.”

“Jangan begitu Star, les ini penting untukmu. Kau juga sudah kelas 2, sebentar lagi lulus dan bahasa inggris adalah salah satu mata pelajaran yang di uji kan bukan?” Ibu berbicara panjang lebar.

“Iya bu, aku tahu. Maafkan, aku belum bisa jadi anak yang baik.” Ucapku.

“Tak apa Star, kali ibu maafkan. Tapi jangan di ulang lagi, ibu tidak suka itu.”

“Baik bu.”

Ibu keluar dari kamarku, beliau kelihatan tidak marah sama sekali. Tapi aku melihat sedikit gurat kecewa di wajahnya.

Esoknya, aku berangkat pagi-pagi sekali. Ibu sudah bangun sejak jam 3 dini hari dan membangunkan ku.

Menyuruhku untuk belajar, kata ibu itu adalah jam terbaik untuk menghafal. Akan ada ulangan biologi, jadi aku meminta ibu membangunkan ku.

Jam 6, aku sudah di jalan menunggu angkot datang. Lama belum terlihat, 5 menit kemudian baru ada angkot melintas di depanku.

Aku pun langsung menghentikan angkot itu lalu naik. Belum ada manusia lain, hanya aku penumpang nya dan sopir angkot itu sendiri.

Karena angkot masih sepi, jadi aku memanfaatkan waktu untuk belajar biologi lagi.

Ketika aku sampai di sekolah, parkiran masih kosong. Hanya ada beberapa sepeda motor disana. Mungkin milik tukang kebun.

Waktu aku sedang berjalan, aku tak sengaja menginjak sesuatu. Ketika ku periksa, ternyata itu sebuah liontin dengan bandul separuh hati.

Ku ambil liontin itu, aku seperti melihat film dokumenter terputar di otakku.

Seorang anak laki-laki berjalan melewati koridor kelas ini dengan terburu-buru. Aku tak bisa melihat wajahnya, tapi seperti nya aku tahu postur tubuh siapa itu.

Tunggu, ini seperti liontin milikku? Ku ambil kotak kecil di dalam tas, untuk mengambil liontin di dalamnya.

Ternyata benar, setelah kucocokkan liontin ini adalah pasangan dari liontin ku.

Aku langsung deja vecu,

Kita saling menautkan jaring kelingking, berjanji untuk tak saling meninggalkan.

Apa? Aku di bawa ke mobil oleh ayah dan ibu, lalu aku menangis?

Aku terisak lebih kencang, ketika meninggalkan pelataran sebuah pondok semacam panti asuhan?

Aku kaget bukan main, sebelumnya aku tak pernah mengalami deja vecu. Walaupun aku memegang separuh liontin ini bertahun-tahun.

Ketika aku masuk kelas, ada seorang anak laki-laki disana.

Di meja paling pojok belakang. Aku sama sekali belum pernah melihatnya, tapi aku merasa mengenalnya. Atau mungkin, dia pemilik liontin ini?

Aku berjalan menghampiri nya, sedikit berbasa-basi. “Hai.” Aku menyapanya. Dia tak menjawab, hanya menautkan kedua alisnya yang tebal. Akhirnya aku langsung memulai tujuanku menghampiri nya.

“Maaf, apa liontin ini punyamu?”

Dia tak menjawab lagi, langsung mengambil liontinnya dari tanganku.

‘Dasar tak tahu sopan santun.’

Itu kataku, tapi hanya dalam hati.

Ketika aku balik badan, dia bertanya “Dimana kau menemukannya?”

“Koridor kelas 10.” Jawabku singkat.

Semakin bertambah siang, teman-teman kelasku bergantian datang. Jam menunjukkan pukul 6.58. Aeraline sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.

Aku kembali membuka buku biologi. Sedari tadi, setelah aku sampai aku hanya duduk diam dan tak melakukan apa pun.

Aktif dengan pikiran ku sendiri. Dari mulai liontin hingga anak baru itu masih ku pikirkan.

Bu Lena, guru biologi kami masuk ke kelas. Aeraline ternyata tidak berangkat hari ini, dia sakit. Surat nya baru datang semenit sebelum bu Lena masuk ke kelas. Iya aku memang menghitungnya.

Anak baru itu diminta berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri, ternyata nama nya Fathan. Aku seperti deja vu mendengar nama itu.

Ulangan harian biologi dimulai. Ketika soal sampai di depanku, aku langsung blank. Aku berusaha mengingat-ingat hafalanku tadi pagi, seraya mengetuk-ngetukkan bolpoin ke meja.

Waktu 2 jam akhirnya berlalu, aku berhasil mengerjakan soal-soal biologi itu. Dan tidak ada satu pun soal tersisa. Aku menghela napas lega, akhirnya perjuanganku belajar tak sia-sia.

Setelah itu, pelajaran matematika 1 jam. Itu terasa sangat lama bagiku yang tak suka matematika. Akhirnya bel istirahat berbunyi.

Aku ke kantin sendirian,karena tak ada Aeraline. Tiba-tiba ada seseorang berjalan di sebelahku, itu bukan Fathan. Melainkan Rigel? Ya, itu Rigel ternyata.

“Star, ngomong-ngomong aku juga ingin ke kantin.”

“Aku tidak menanyakan itu padamu.”

“Ya, aku ingin bicara saja denganmu.”

“Oke baiklah, apa sebenarnya yang kau inginkan?”

“Aeraline tidak masuk ya? Kenapa dia?”

“Ada suratnya kan, aku yakin kau sudah bisa membaca.”

“Iya ada, kau sudah tau maksudku pasti kan Star?”

“Ya, aku tahu. Kau ingin Aeraline datang ke acara ulang tahun ibu mu. Dan kau ingin melihat dia sakit seperti sekarang lagi?” Maaf aku sedikit sarkas, lanjutku tapi hanya dalam hati.

“Bukan begitu maksudku Star, aku hanya.” Dia tak melanjutkan perkataan nya, hanya menggaruk tengkuknya yang mungkin tak gatal sama sekali.

“Aku tahu maksudmu Rigel, kau ingin tahu kapan ibu mu menemui ajal kan? Kau ingin tahu karena kau takut itu datang tiba-tiba. Ya, kau pintar sekali mencari kebahagiaanmu sendiri dengan mengorbankan orang lain.”

“Kenapa kau yang repot? Aku meminta tolong pada Aeraline, bukan kau.”

“Dengar ya, Aeraline itu sahabatku jadi wajar saja aku marah jika ada yang membuat nya sakit lagi.”

“Iya, terserah kau saja lah. Aku tetap akan meminta tolong pada Aeraline.”

“Hei! Kurasa kau sudah gila.” Seru ku pada Rigel yang sudah berjalan mendahuluiku. Dia acuh tak acuh, masih terus berjalan.

Aku sampai di kantin. Perut ku yang tadi nya lapar, kenyang seketika karena memikirkan nasib sahabatku. Bakso yang sudah ku pesan hanya ku makan sedikit.

Lalu aku kembali ke kelas, kulihat Fathan memandangku lekat dari meja nya. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius.

Aku seperti sudah lama mengenalnya, tapi aku lupa dimana. Aneh, ketika semua orang bisa ku baca pikiran nya, tapi tidak dengan Fathan.

Guru berikutnya masuk ke kelas, Pak Derry. “Selamat siang, anak-anak.” Sapa nya, ketika sudah sampai di depan papan tulis.

Dan kami pun menjawab serentak, “Pagi pak.”

“Keluarkan buku PR kalian, dan ketua kelas tolong kumpulkan buku nya di meja bapak sekarang.”

Hanya Rico yang menjawab mengiyakan, sang ketua kelas. Sedangkan yang lainnya hanya diam, termasuk aku.

Hanya bergerak mengambil buku di tas, lalu menaruhnya kembali di atas meja. Kemudian, Rico berkeliling mengumpulkan satu persatu buku, dan menumpuknya di meja guru.

Pak Derry adalah guru bahasa inggris yang paling asyik menurutku, mungkin karena aku memang suka bahasa inggris.

Jadi, jam pelajaran Pak Derry terasa sangat cepat bagi ku. Bel pulang sekolah berbunyi, aku merapikan buku dan duduk diam sambil menunggu parkiran sekolah agak sepi.

Seperti biasa, aku duduk di halte menunggu angkot yang melintas. Seraya membuka hp ku, yang sejak tadi pagi tak kusentuh sama sekali.

Aku berniat untuk pulang sebenarnya, tapi aku ingat Aeraline yang sedang sakit. Jadi, dari sekolah aku langsung ke rumah Aeraline saja.

Waktu aku bangkit dari duduk, aku menjatuhkan sesuatu dari ransel ku. Kotak kecil tempat liontinku sudah terbuka lebar menampakkan liontin di dalam nya sekarang.

Seseorang memungutnya untukku, dan ternyata itu Fathan?

“Ini milikmu, terjatuh.” Fathan memberikan kotak kecil itu dan liontin yang sudah dimasukannya ke dalam kotak. Aku hanya mengangguk dan tersenyum sebagai ucapan terima kasih.

Ketika aku akan lanjut berjalan, dia memanggilku lagi. “Tunggu! Star.”

Aku spontan berhenti melangkahkan kaki. “Namamu Star kan? Starlea Nirmana?” Aku melihat seperti ada binar kebahagiaan di mata nya, seperti menemukan seseorang yang sudah lama tak bertemu.

“Iya memang itu namaku, kau tahu karena guru mengabsen seperti itu tadi. Dan kau, Orion Fathaniel?” Aku memasang muka datar.

“Star, sudah lama kita tidak bertemu. Apa kau tidak ingat janji kita untuk tidak saling meninggalkan?” Entah kenapa aku merasa suaranya bergetar.

“Janji apa? Aku bahkan baru bertemu denganmu tadi pagi.”

Dia merebut kembali kotak kecilku dan mengambil liontin di dalamnya, entah apa yang akan di lakukan nya. “Lihat ini Star. Ini adalah liontin peninggalan ayah dan ibu sebelum kecelakaan pesawat itu. Separuh milikku, dan separuh lagi adalah milikmu.”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Kita adalah saudara kembar Star, kau dan aku di titipkan di panti asuhan oleh seseorang yang menemukan kita, setelah ibu dan ayah kandung kita sudah meninggal dalam kecelakaan pesawat.

Dan entah mengapa, ajaib sekali kita masih hidup sampai sekarang.” Orion seperti ingin menangis, matanya berkaca-kaca.

“Orion, sekarang aku ingat. Kau adalah kakak yang luar biasa.”

“Star, apa kau sedang ada masalah?” Entah kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti itu.

“Emm tidak kok, hanya masalah kecil.”

“Jangan berbohong Star, karena tadi sewaktu kau akan ke kantin aku ada tepat di belakang kalian.”

“I-iya.” Aku menjawab dengan sedikit gagap. Orion hanya diam, menunggu ku bercerita masalahku.

“Begini, sahabatku Aeraline yang sekarang tidak masuk kelas itu. Dia memiliki satu kelebihan yang aneh menurutku, tapi luar biasa.

Dia bisa melihat tanggal kematian seseorang ketika hadir di acara perayaan ulang tahun orang tersebut. Tapi setelah melihat, dia pasti akan jatuh sakit dan tidak bisa bicara selama 20 jam.

Dan Rigel ingin mengundang Aeraline di acara ulang tahun ibu nya, dia ingin tahu tanggal kematian ibu nya. Entahlah, aku tidak tahu jalan pikiran nya.” Lalu aku kembali diam.

Dua menit kemudian, Orion baru membuka suara lagi. “Ya sudah, sekarang kita pulang saja Star. Pasti kau ingin istirahat.”

“Maaf, kau pulang kemana?”

“Sekarang aku diangkat anak oleh seseorang Star. Tenang, orang itu sangat baik. Dan aku menyukai nya.” Aku bisa melihat kejujuran di matanya, setidaknya sekarang Orion sudah bahagia.

“Aku lega mendengarnya, akhirnya kita berdua sudah memiliki orang tua lagi.”

“Iya Star, aku juga bahagia kalau kau bahagia. Ayo kita pulang, aku juga naik angkot.”

“Iya, ayo.”

Kami berdua naik angkot, aku turun terlebih dahulu sedangkan Orion masih di dalam angkot. Aku melambaikan tangan padanya.

Sampai di rumah aku langsung merebahkan diri di kasur queen size ku, dengan seragam sekolah yang masih menempel di tubuhku. Tanpa sadar ternyata aku tertidur selama 2 jam.

Ketika bangun, sudah ada ibu di dapur. Sedang memasak untuk makan malam nanti. “Tumben sekali ibu pulang cepat.” Kataku membuka percakapan.

“Kau lupa Star? Hari ini adalah ulang tahun pernikahan ayah dan ibu yang ke 20 tahun.” Kata ibu seraya tersenyum manis sekali.

Aku baru sadar, kalau selama ini usia pernikahan ibu dan ayah lebih tua 3 tahun dari usiaku. Aku baru sadar dan baru tahu hari ini setelah Orion memberitahuku tentang semua nya.

Suara ibu menghentikan lamunanku. “Ada apa Star? Kenapa kau diam?”

“Ah tidak apa bu, aku hanya sedang berpikir kenapa aku bisa lupa.”

Setelah itu, aku mandi dan kami makan malam bersama merayakan ulang tahun pernikahan ayah dan ibu angkatku.

Esoknya, Aeraline sudah berangkat sekolah. Rigel memaksa nya hadir di acara perayaan ulang tahun ibu nya besok. Aku memarahi Rigel, dia pun tidak terima dan ingin memukulku. Tapi Orion menghalanginya.

“Jangan hanya berani pada perempuan, kalau berani lawan aku saja. Apalagi adikku yang jadi korban, kau tidak akan selamat.”

Kata Orion, yang membuat Rigel berhenti bicara lalu pergi berlalu begitu saja.

Sejak kejadian itu, Rigel tak pernah memaksa Aeraline lagi dan tak pernah mendekati kami lagi. Entah bagaimana sekarang nasibnya. Karena 2 hari setelah kejadian, dia pindah sekolah entah kemana.

Kabarnya, Rigel menderita depresi setelah ibu nya meninggal 2 jam sehabis perayaan ulang tahun. Sekarang, dia di rawat di rumah sakit jiwa, tapi aku tak tahu tepatnya dimana.

Dua hari setelah itu, aku mendengar kabar dari Orion bahwa Rigel telah meninggal. Aku sedikit merasa bersalah karena telah memarahi nya hari itu.

Tapi Aeraline dan Orion meyakinkan ku bahwa itu bukanlah kesalahanku, itu sudah takdir yang digariskan oleh sang pencipta.

Setelah kematian Rigel, aku berusaha mencari dimana makam nya. Beberapa hari kemudian aku, Orion, dan Aeraline berhasil menemukannya.

Kami mengunjungi makam Rigel dan berdoa untuknya. Terakhir, kuletakkan sebuket bunga lili di atas pusara makam Rigel.

Setelah itu, hidup ku kembali berjalan dengan normal. Tapi tetap saja, seperti ada yang hilang dalam hidupku.

Assalamualaikum, Hallo! Namaku Wahyu Nur Sifa Ul Umma, biasa di panggil Sifa atau Wahyu. Aku lahir di Banjarnegara 17 tahun silam. Saat ini aku sedang menimba ilmu di SMAN 1 Purwareja Klampok, kelas 11. Hobi ku membaca, selain itu aku juga suka menulis. Aku juga sering menulis di blog pribadi ku.

Kalian bisa menyapa ku di :

Instagram : sifaa_ul
Blog : sifaulummawriters.wordpress.com

Facebook

Follow us

Selamat datang di website resmi SMAN 1 Purwareja Klampok, jangan lupa subrcribe, like dan share