Tidak banyak sekolah yang beruntung memiliki sarana prasarana lengkap, luas dan memadai. Sebagian besar sekolah, apalagi di kota-kota besar harus berhimpitan dengan gedung-gedung lain yang tentu saja mengurangi kenyamanan penghuninya. Belum lagi faktor polusi di kehidupan masyarakat perkotaan sering menjadi penyebab meluasnya berbagai jenis penyakit di masyarakat.

Kita semua merindukan sebuah lingkungan yang asri, nyaman, bersih dan sejuk. Semua ini hanya bisa diraih bila seluruh elemen masyarakat memiliki kesadaran tinggi untuk mewujudkannya. Tengoklah bagaimana tingginya kesadaran masyarakat negeri tetangga kita saja, Singapura dan Korea Selatan.

Mereka benar-benar mengupayakan sebuah lingkungan yang nyaman, hijau dan bersih berangkat dari pola kedisiplinan yang mereka terapkan sejak dari rumah. Pendidikan anak-anak usia dini di kedua negara tersebut lebih menekankan pada pembentukan karakter sejak dini. Maka kini mereka tinggal memetik hasilnya. Penduduk berdisiplin tinggi dalam perilakunya menjaga lingkungan. Sebuah potret masyarakat yang berkemajuan dan humanis.

Sekolah sebagai Pilar Penting Adiwiyata

Sebagaimana kita ketahui, pemerintah melalui kemeterian lingkungan hidup terus mempromosikan isu kesehatan lingkungan sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang hijau dan sehat. Pemerintah merupakan pilar utama dalam mewujudkan masyarakat yang sadar lingkungan. Namun pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Ia harus merangkul masyarakat guna mewujudkan visi pemerintah tersebut.

Sekolah sebagai mitra pemerintah dalam bidang pendidikan sudah seharusnya ikut mensukseskan program yang dicanangkan oleh pemerintah. Karena sekolah merupakan pilar penting dalam pembentukan generasi emas di masa yang akan datang. Sekolah berkewajiban menanamkan, menajamkan serta menguatkan karakter baik yang telah dilakukan orang tua di rumah agar menjadi satu kesatuan. Dengn demikian sekolah dan orang tua memiliki kesamaan irama dalam membentuk anak-anak bangsa ini.

Orang tua sebagai mitra sekolah berkewajiban mengupayakan pembentukan karakter positif di lingkungan terkecil yaitu rumah masing-masing. Membiasakan menghemat listrik dan air di setiap ruang saja itu merupakan hal berat jika tidak dibiasakan.

Apa jadinya bila semua rumah melakukan pembiaran dengan alasan bisa membayar listrik berapapun jumlahnya. Bukankah itu sesuatu yang naïf? Berikutnya melangkah pd aspek yang lebih besar yaitu sejauh mana anak-anak, pelajar kita mampu berbuat lebih untuk lingkungannya, misal mahir membuat biopori, memilah aneka sampah plastik dan nonplastik, hingga perawatan tanaman. Semua itu akan terwujud dengan baik jika sekolah dan orang tua sama-sama mengawasai dan memandu keseharian siswa-siswa kita.

Smansa Perjaka sebagai Sekolah Adiwiyata

                Beban terberat seseorang atau lembaga saat dipercaya untuk mengikuti sebuah kompetisi adalah mewujudkan amanat tersebut agar sesuai.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *