Bumi yang kita huni bersama sejatinya merupakan sebuah tempat untuk tumbuh bersama pula. Namun egoisme kerap kali menafikan liyan ( pihak lain ). Ego pula yang menuntun manusia pada kondisibumi yang semakin rusak di segala sisi. Hal ini tentu menjadi keprihatinan tersendiri bagi kita semua. Sudah saatnya kita warga bumi bergerak untuk segera menyelamatkan bumi dari kerusakan.

Sejarah Hari Bumi

Berawal dari keprihatinan seorang dosen universitas di Amerika Serikat, Geyrald Nelson yang pada tahun 1970 tergerak dan terinspirasi karena melihat kerusakan lingkungan berupa tumpahnya minyak secara besar-besaran di Santa Barbara, California, Amerika Serikat. Ia kemudian mengajak serta teman-temannya untuk membentuk sebuah gerakan bersama yaitu melakukan edukasi dan kampanye berkaitan dengan penyelamatan lingkungan. Bermodalkan kekuatan sejumlah 85 orang di awal gerakan, Nelson berhasil menggerakkan lebih dari 20 juta orang di Amerika Serikat pada 20 April 1970 lalu. Selain itu, mereka juga sering mengadakan diskusi tentang lingkungan di area publik untuk menarik minat banyak orang.

Kini, gerakan mencintai bumi semakin bergema seiring dengan tumbuhnya kesadaran bersama tentang planet yang kita huni bersama ini. Dimulai dari keluarga, sekolah, masyarakat hingga negara, bersatu padu melakukan gerakan penyelamatan bumi dari kerusakan. Hal sederhana dapat kita mulai dari lingkungan terkecil di sekitar kita, misalnya selalu menggunakan kertas bekas untuk beberapa keperluan menulis, selalu mematikan listrik saat tidak diperlukan.

Sederet Aksi Hari Bumi

                Banyak hal yang bisa dilakukan guna meyelamatkan bumi kita. Hal simpel tapi bermakna bagi lingkungan. Tak ingin tertinggal dengan aksi warga dunia lainnya, sejumlah orang pun telah melakukan sejumlah aksi di berbagai wilayah seperti:

Gerakan membersihkan lingkungan sekitar

Membersihkan pantai

Mengurangi pemakaian plastik

Mengurangi penggunaan sedotan

Menanam pohon

Memakai kendaraan umum untuk mengurangi polusi

Faktanya sekitar 40 persen dari 11 ribu spesies burung sudah dinyatakan resmi punah dan 75 persen lainnya dalam kondisi terancam. Keanekaragaman hayati di muka bumi semestinya menjadi bagian perhatian kita bersama sebab keberadaan  mereka menjadi petunjuk alami akan rusak dan tidaknya bumi kita. Barngkali kita bisa menjadi penganut vegetarian atau bisa juga dengan berhenti membeli barang-barang yang terbuat dari bagian tubuh hewan.

Terkait dengan hal yang sedang dijalani oleh seluruh umat muslim saat ini adalah ibadah puasa Ramadhan. Berbekal motto mewujudkan semangat Green Ramadhan, beberapa hal berikut bisa kita lakukan.

  1. Tidak memakai plastik dalam sehari
  2. Memakai sedikit air wudhu
  3. Mulai menanam
  4. Upcycling pakaian lama
  5. Membawa botol dan tempat makan sendiri

Sebagai manusia beragama, sudah seharusnya kita benahi kembali fitrah beragama kita yaitu bagaimana agama mampu memberi kemanfaatan pada bumi pada sesama makhluk hidup. Beragama yang membawa wajah humanis, memberi kemanfaatan bagi alam sekitar. Memungut sampah agar dibuang pada tempatnya setidaknya itulah wajah agama yang seharusnya. Berikutnya, menanam pohon. Hal tersebut termasuk dalam kategori amal jariyah sebab kemanfaatan sebuah pohon bisa dirasakan oleh semua orang pada waktunya nanti dan pahala akan terus mengalir pada sang penanam pohon tersebut. Sungguh indah bukan? Jadi, mari merefleksi kembali filosofi kita dalam beragama, dan Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk itu. Selamat Hari Bumi, Selamat Berpuasa bagi yang menjalankan.

Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *