Pembelajaran Penanganan limbah Detergen Dengan Teknik Fitoremidiasi

Dipublikasikan oleh Siti Hidayati pada

BAB I. Latar Belakang Masalah

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi begitu pesat sehingga menimbulkan banyak perubahan yang besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia dengan kompleksitas yang kian meninggi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan hanya berdampak pada kemudahan akses pemenuhan kebutuhan hidup manusia, namun juga membawa dampak pergeseran tata nilai budaya masyarakat. Pada sisi lain, perubahan tersebut mempengaruhi dan mengubah tatanan pendidikan, berbagai macam aturan pranata yang sudah ada, cara-cara pembelajaran di kelas sudah bergeser sesuai tuntutan jaman.

Pembelajaran dituntut untuk lebih mengaktifkan peserta didik dalam menemukan konsep dan bukan guru yang aktif berbicara dengan kata lain proses belajar tidak lagi terpusat pada guru melainkan pada peserta didik, pembelajaran berjalan tidak satu arah melainkan terjadi interaksi antara guru, siswa dan lingkungan serta pembelajaran tidak terisolasi melainkan terjadi jejaring siswa dapat memperoleh ilmu dari mana saja dan siapa saja asal sesuai dengan silabus yang ditetapkan. Ini menunjukan bahwa guru dituntut untuk dapat mengekplorasi kemampuan siswa. Siswa menjadi mandiri, kritis dan mampu menemukan solusi dalam setiap permasalahan. 

 Sejauh ini berdasarkan pemahaman peneliti pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuannya sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih terfokus kepada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama metode pembelajaran. Untuk itu diperlukan strategi dan metode belajar baru yang lebih memberdayakan siswa, yakni sebuah metode belajar yang mendorong siswa untuk lebih dinamis, aktif, dan kreatif dalam menemukan, menyusun dan mengkomunikan hasil belajarnya. Dengan model pembelajaran ini siswa akan berada pada proses penerapan antara konsep dan realitas yang ada, sehingga siswa dengan mudah dapat mengingat konsep yang diperoleh untuk kemudian diterapkan.

Pada proses pembelajaran sains khususnya Biologi siswa seharusnya di beri ruang untuk aktif sehingga guru dapat menggali lebih banyak potensi yang dimiliki siswa, baik dari sikap, pengetahuan dan keterampilannya. Ketiga aspek tersebut dapat berkembang jika kita memberi ruang lebih kepada siswa sehingga siswa dapat memperoleh informasi dengan mandiri dan kreatif yang dapat di terapkan untuk memecahkan permasalahan  kehidupan sehari hari.

Permasalahan – permasalahan yang terjadi di atas dikarenakan proses pembelajaran berjalan pasif dan membosankan. Belajar yang interaktif, inisiatif, menyenangkan menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif. Untuk mengatasi permasalahan yang telah disebutkan, maka perlu suatu metode pembelajaran yang tepat, sehingga siswa dapat termotivasi dalam pembelajaran Biologi dan dapat menguasai konsep dengan kuat dan jelas.

Kemampuan siswa dalam memahami dan menerapkan konsep-konsep Biologi untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, menunjukan bahwa siswa tersebut memiliki konsep yang kuat dan jelas. Penguasaan konsep akan terlihat dari prestasi belajar siswa selama proses belajar di kelas.

Kemampuan siswa dalam memahami dan menerapkan konsep-konsep Biologi untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, menunjukan bahwa siswa tersebut memiliki konsep yang kuat dan jelas. Penguasaan konsep akan terlihat dari prestasi belajar siswa selama proses belajar di kelas.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Kajian pustaka yang digunakan pada penulisan   ini adalah sebagai berikut :

  1. Belajar

Belajar menurut Oemar hamalik (2008:36) merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Sedangkan menurut William burton dalam Oemar Hamalik (2008: 37) mengemukakan bahwa “A good learning situation consist of a rich and varied series of learning experiences unified around a vigorous purpose, and carried on in interaction whit a rich, varried  and provocative environment”. Pendapat tersebut menyatakan bahwa pembelajaran yang baik terdiri dari serangkaian pengalaman belajar yang kaya dan bervariasi disatukan dengan tujuan yang hebat dan dilanjutkan dalam interaksi lingkungan yang kaya, bervariasi dan proaktif. Pelaksanaan pembelajaran dengan teknik fitoremidiasi merupakan aplikasi dari pendapat tersebut.

Belajar adalah hal yang dinamis dan menyenangkan serta memiliki tujuan yang jelas dan terencana. Menurut Oemar hamalik (2008: 50) terdapat unsur unsur dinamis dalam proses belajar yaitu:

  1. Motivasi siswa, motivasi adalah dorongan yang menyebabkan terjadi suatu perbuatan atau tindakan tertentu. Motivasi yang timbul karena kebutuhan dari dalam diri siswa akan lebih baik dibandingkan dengan motivasi yang disebabkan rangsangan dari luar.
  2. Bahan belajar, bahan belajar yang diberikan harus sesuai dengan silabus dan RPP. Dengan bahan belajar siswa akan mempelajari hal hal yang diperlukan dalam upaya mencapai tujuan belajar.
  3. Alat bantu belaajar, merupakan semua alat yang digunakan untuk membantu siswa melakukan perbuatan belajar, sehingga proses belajar lebih efisien dan efektif.
  4. Suasana belajar, sangat penting artinya bagi kegiatan belajar. Suasana yang menyenangkan dapat menumbuhkan kegairahan belajar, sedangkan suasana kacau, ramai, taak tenang dan banyak gangguan, sudah tentu tidak menunjang kegiatan belajar yang efektif. Untuk itu guru dan siswa dituntut untuk menciptakan suasana lingkungan belajar yang baik dan menyenangkan menantang dan mengairahkan.
  5. Kondisi subjek belajar, subjek belajar sanngat menentuka kegiatan dan keberhasilan belajar. Siswa dapat belajar efisien dan efektif apabila berbadan sehat, memiliki intelegensi yang memadai, siap untuk melakukan kegiatan belajar, memiliki bakat khusus dan pengalaman yang bertalian dengan pelajaran serta memiliki minat untuk belajar maka proses belajar akan berjalan dengan baik.

Sejalan dengan pendapat Trianto (2009:9) Perubahan yang terjadi merupakan hasil dari proses belajar yang dapat diindikasikan dalam berbagai bentuk seperti perubahan penetahuan, pemahaman, sikap, tingkah laku, kecakapan, keterampilan dan kemampuan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah terjadinya proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru setiap selesai memberikan materi pelajaran pada satu pokok bahasan. Menurut Kokom Komalasari (2014: 2) ciri ciri kegiatan belajar adalah:

  1. Belajar adalah aktivitas yang dapat menghasilkan perubahan dalam diri seseorang, baik secara aktual maupun potensial.
  2. Perubahan yang didapat sesungguhnya adalah kemampuan yang baru dan di tempuh dalam jangka waktu yang lama
  3. Perubahan terjadi karena ada usaha dari dalam diri setiap individu

Dengan demikian inti dari belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dari suatu pengalaman pembelajaran yang terjadi di sekolah ataupun lingkungan lainnya yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran di sekolah adalah terjadinya perubahan baik secara mental maupun intelektual siswa sebagai subjek belajar, dan guru bertugas membimbing siswa agar dapat mencapai prestasi yang optimal. Keberhasilan proses pembelajaran tergantung kepada sesuai atau tidaknya model atau pembelajaran yang digunakan guru terhadap karakteristik pelajaran dan kondisi siswa di kelas.

2. Hasil Belajar

Hasil belajar pada mata pelajaran Biologi yang diperoleh siswa, dapat dilihat dari kemampuan peserta didik dalam menguasai materi pelajaran yang diperoleh dalam proses pembelajaran. Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik salah satu alat ukurnya penilaiannya adalah tes. Penilaian ini dilakukan oleh guru yaitu penilaian berbasis kelas yang meliputi penilaian ulangan harian, ulangan tengah semester dan ulangan kenaikan kelas. Pada penelitian ini hasil belajar diproleh dari nilai pre test dan posttest.

Menurut Nana Sujana (2017: 22) hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Sedangkan Wahidmurni (2010: 18) menjelaskan  bahwa seseorang dikatakan telah berhasil dalam belajar jika ia mampu menunjukan adanya perubahan dalam dirinya. Perubahan perubahan tersebut diantaranya perubahan kemampuan berfikirnya, penampilannya atau sikap terhadap suatu objek.

3. Fitoremidiasi

Menurut Raty Musfa (2012) Phyto asal kata Yunani/ greek “phyton” yang berarti tumbuhan/tanaman (plant), remediation asal kata latin remediare (to remedy) yaitu memperbaiki/ menyembuhkan atau membersihkan sesuatu. Sama halnya menurut Nuril Hidayati (2005) menyatakan bahwa fitoremidiasi adalah pembersih polutan menggunakan media tumbuhan. Fitoremediasi didefinisikan sebagai pencucian polutan yang dimediasi oleh tumbuhan, termasuk pohon, rumput-rumputan, dan tumbuhan air. Pencucian bisa berarti penghancuran, inaktivasi atau imobilisasi polutan ke bentuk yang tidak berbahaya.

Fitoremidiasi memiliki potensi dalam membentuk lingkungan yang seimbang sehingga mampu mendukung semua aktivitas makhluk hidup didalamnya. Tumbuhan yang digunakan dalam fitoremidiasi pada penelitian tindakan kelas ini adalah tumbuhan eceng gondok dan kayu apu yang banyak dijumpai di lingkungan sekolah atau lingkungan tempat tinggal peserta didik. Tumbuhan ini biasanya terlihat mengapung di atas sungai, kolam atau sawah dan menutupi sinar matahari yang akan masuk ke dalam perairan.  Tumbuhan ini masih memiliki akar serabut dan memiliki kantung akar. Memiliki kemampuan mengumpulkan lumpur atau partikel yang terlarut dalam air.

Menurut Prof. Sarwoko Mangkoedihardjo, MScES yang (2018) menyatakan bahwa eceng gondok dapat dijadikan sebagai penyaring polutan alami pada air dan sebaiknya, industri menyiapkan kolam khusus air limbah, kemudian ditanami enceng gondok, sehingga zat-zat polutan yang membahayakan dapat terbebaskan secara alami. Tanaman enceng gondok mampu menjadi penyerap polutan yang baik, sehingga air yang dihasilkan dari kolam khusus yang ditanami enceng gondok itu tidak mencemari lingkungan.

sumber: https://www.google.com/search?q=gambar+eceng+gondok

  1. Pencemaran Lingkungan

Menurut undang undang lingkungan hidup nomor 23 tahun 1997 pencemaran lingkungan adalah kesatuan ruanng dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Pencemaran lingkungan  terjadi akibat proses alam dan manusia namun yang memiliki dampak negatif secara umum disebabkan karena aktifitas manusia yang menghasilkan limbah limbah masih menurut undang undang lingkungan hidup nomor 23 tahun 1997 adalah masuknya atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain kedalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

Menurunnya kualitas lingkungan akibat pencemaran pada umumnya diakibatkan dari hasil aktivitas manusia seperti contohnya limbah detergen dan limbah batik yang terjadi di sekitas lingkungan siswa. Menurut Hefni Effendi  (2003:22) Sabun atau detergen dibedakan menjadi dua yaitu Sabun natron (sabun keras) dan sabun lunak. Yang dimaksud sabun keras adalah garam natrium asam lemak seperti pada   reaksi berikut:  C17H35COOH + Na(OH) → C17H35COONa + H2O. Sedangkan sabun lunak adalah garam kalium asam lemak yang diperoleh dari reaksi asam lemak dengan basa K(OH)Sabun relatif mudah tersuspensi dalam air karena membentuk micelles, yakni kumpulan molekul sabun yang rantai hidrokarbonnya mengelompok dengan ujung – ujung ionnya menghadap ke air.

Sabun yang masuk ke dalam buangan air atau sistem akuatik biasanya langsung terendap sebagai garam garam kalsium dan magnesium. Oleh karena itu beberapa pengaruh dari sabun dalam larutan dapat dihilangkan. Menurut Darmin Sumardjo (2008:35) ada beberapa dampak dari detergen:

  1. Penggunaan fosfat sebagai builder dapat menjadi salah satu penyebab proses eutrofikasi (pengkayaan unsur hara yang berlebihan) pada sungai/danau yang ditandai oleh ledakan pertumbuhan algae dan eceng gondok menyebabkan terjadinya pendangkalan sungai.
  2. Deterjen dalam badan air dapat merusak insang dan organ pernafasan ikan yang mengakibatkan toleransi ikan terhadap badan air yang kandungan oksigennya rendah menjadi menurun.
  3. Apabila sungai menjadi tempat pembuangan limbah yang mengandung bahan organik, sebagian besar oksigen terlarut digunakan bakteri aerob untuk mengoksidasi karbon dan nitrogen dalam bahan organik menjadi karbondioksida dan air. Sehingga kadar oksigen terlarut akan berkurang dengan cepat.
  4. Keberadaan busa-busa di permukaan air juga menjadi salah satu penyebab kontak udara dan air terbatas sehingga menurunkan oksigen terlarut. Dengan demikian akan menyebabkan organisme air kekurangan oksigen dan dapat menyebabkan kematian.
  5. Pencemaran akibat deterjen mengakibatkan timbulnya bau busuk. Bau busuk ini berasal dari gas NH3 dan H2S yang merupakan hasil proses penguraian bahan organik bakteri anaerob.

Sedangkan lilmbah batik dihasilkan dari proses pewarnaan, pelepasan lilin hingga proses pembilasan semuanya menghasilkan limbah yang berbahaya. Efek negatif pewarna kimiawi dalam proses pewarnaan oleh perajin batik adalah risiko terkena kanker kulit.  Pewarna kimia berbahaya seperti Naptol yang lazim digunakan dalam industri batik. Bahan kimia yang termasuk dalam kategori B3 (bahan beracun berbahaya) ini dapat memacu kanker kulit. Limbah pewarna batik yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan, ekosistem menjadi rusak, ikan menjadi mati dan air sungai tidak dapat dimanfaatkan yang pada akhirnya akan meresap melalui pori pori tanah dan masuk ke dalam sumur.

BAB III

 HASIL  DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi kondisi awal.

Kondisi awal atau pra siklus dalam proses pembelajaran dilaksanakan tanpa menggunakan model pembelajaran anak cendrung pasif proses pembelajaran terpusat pada guru dan aktifitas siswa hanya mencatat, mendengarkan tanpa aktifitas diskkusi dengan teman dan komunikasi berjalan satu arah.

Komunikasi satu arah yang terjadi hanya antara guru dengan siswa. Hasil belajar siswa kelas X MIPA  2 SMA N 1 Purwareja Klampok pada materi pencemaran lingkungan. Hasil tes dapat dilihat pada tabel berikut ini.

bagan hasil belajar diagnosis kognitif awal

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui hasil belajar siswa bahwa siswa kelas kelas X MIPA 2 SMA N 1 Purwareja Klampok, siswa masih rendah. Adapun pencapaian nilai tersebut dari 30 siswa kelas X MIPA 2 terdapat 8 orang siswa atau 27% yang memiliki rentang nilai 76 hingga 100.  Sedangkan sebanyak 22 orang atau 73% belum tuntas.  Perolehan rata-rata hasil belajar siswa 64. Rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran ini diakibatkan karena beberapa tujuan indikator belum terpenuhi. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hambatan dalam belajar, baik hambatan dari diri siswa sendiri maupun dari luar diri siswa yang sudah diuraikan pada Bab I.

Adapun langkah langkah proses pembelajaran dengan teknik fitoremidiasi sederhana adalah sebagai berikut:

  1. Memberian pengantar materi pencemaran lingkungan yang terjadi di lingkungan sekitar kita
  2. Memberikan gambaran proses fitoremidiasi menggunakan tumbuhan (proses secara rinci terdapat di LKS)
  3. Memberi petunjuk pelaksanaan KBM dibantu LKS (LKS terlampir)
  4. Pembentukan kelompok yang heterogen
  5.  Pelaaksanaan fitoremidiasi
  6. Menggontrol pelaksana praktikum denngan teknik fitoremidiasi menggunakan tumbuhan eceng gondok (Eichornia crassipes))  dan tumbuhan kayu apu (Pistia stratiotes L)   untuk detergen.
  7. Menyimpulkan proses pembelajaran
  8. Melaksanakan sosialisasi ke orang tua siswa, tokoh masyarakat melalui gelar karya dan pameran untuk melakukan fitoremidiasi di rumah masing-masing seperti pada gambar berikut ini:

setelah melakukan pembelajaran dengan teknik fitoremidiasi terjadi penigkatan hasil belajar seperti pada gambar berikut:

Dari data tersebut diketahui bahwa hasil belajar pada siklus II dapat dijelaskan sebagai berikut, dari jumlah siswa 30 orang yang  mencapai batas tuntas 24 orang siswa atau 80 % , sedangkan 6 orang siswa belum tuntas atau sekitar 20 %.  Rata   rata hasil belajar siswa yang diperoleh pada siklus II dibanding dengan siklus I ada peningkatan yang signifikan. Pada siklus I rata rata hasil belajar siswa sebesar 70  sedangkan pada siklus II sebesar  81 ini berarti ada peningkatan sebesar 11 angka dari  siklus I, sesuai dengan kriteria ketuntasan pada penelitian ini adalah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) siswa 76 yang dicapai oleh sekurang-kurangnya 75% siswa, sedangkan pada siklus II siswa yang tuntas sudah mencapai 80 %.

Begitu juga dengan perubahan pemahaman  dan tingkah laku siswa dalam penanganan limbah, terutama limbah detergen.

SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

1.Simpulan

Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian tindakan kelas dengan menggunakan teknik fitoremidiasi sederhana untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa kelas X MIPA 4 Pada Materi pencemaran Lingkungan Semester 2 SMA N 1 Purwareja Klampok   disimpulkan sebagai berikut :

Terjadi peningkatan hasil belajar yang signifikan setelah menggunakan model pembelajaran ini, baik pada siklus I maupun siklus II, yaitu pada saat pra siklus rata-rata yang diperoleh 64,84 dengan prosentase ketuntasan 26 % pada siklus I  70,17 dengan prosentase ketuntasan 50 % dan pada siklus II 81,04 dengan prosentase ketuntasan 80  %. Hal ini karena Pembelajaran dengan teknik fitoremidiasi sederhana dapat memberikan pengalaman belajar baru kepada siswa, siswa dapat mengeksplorasi kemampuan individu dengan sarana sumber belajar yang ada   dilingkungan sekolah. Aktivitas belajar adalah kegiatan siswa berlangsung interaktif dengan lingkungan maupun dengan peserta didik yang lain sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku berupa pengetahuan, dan nilai sikap.

2. Implikasi

Implikasi dari penulisan tindakan kelas ini adalah dapat menjadikan rujukan pembelajaran berikutnya sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat menambah wawasan pengetahuan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar dalam penggunaan berbagai model pembelajaran yang sesuai denngan tujuan yanng akan dicapai.

3.Saran

Berdasarkan simpulan, maka dapat disarankan sebagai berikut:

Pembelajaran dengan teknik fitoremidiasi sederhana  perlu dilaksanakan dalam pembelajaran di kelas, karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa, terutama pada materi yang memerlukan solusi bagi permasalahan nyata di masyarakat.

TERIMAKASIH.

Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.