Setiap budaya memiliki filosofi mendalam pada setiap tradisi yang diwariskannya untuk generasi berikutnya karena budaya merupakan bentukan kesepakatan tidak tertulis yang terwariskan secara turun-temurun melapisi masyarakat yang menjadi tulang punggungnya. Budaya menjadi lestari dan berkembang dikarenakan kepedulian generasi yang ada akan pentingnya tradisi yang menjadi tanda dari keberadaan sebuah peradaban. Budaya di sini bisa dimaknai pula sebagai sebuah tautan sejarah di mana masyarakat penyokongnya meyakini bahwa hanya dengan nilai-nilai itulah sebuah peradaban akan terselamatkan.

Indonesia, sebuah negara dengan ratusan ragam budaya yang hidup di dalamnya merupakan kekayaan arsitektural yang tak ternilai harganya. Sebutlah budaya lisan, budaya tulis, budaya seni ukir, dan ratusan jenis hasil budaya itu sendiri. Kesemuanya membentuk harmoni yang menghidupi masyarakatnya dalam sebuah kemajemukan. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa pengambilan tagline bangsa kita Bhinneka Tunggal Ika sejatinya merupakan pengejawantahan dari ketulusan menyatukan ragam karakter dan budaya untuk melebur dalam kesatuan, yakni Indonesia.

Beragam tradisi lokal yang hidup di bumi pertiwi bukan semata-mata rangkaian upacara tanpa makna. Di dalamnya tersemat ragam filosofi yang dikristalkan dalam bentuk ritual dalam tradisi. Kita bisa mengambil contoh pada suku Jawa dalam hal upacara perkawinan. Perkawinan dalam tradisi Jawa merupakan upacara sakral yang menyatukan kedua insan untuk membangun sebuah kehidupan baru bersama. Dengan keragaman budaya dan suku di Indonesia, pernikahan yang dilangsungkan menurut adat daerah bukanlah hal asing.

Beragam Prosesi dalam Pernikahan Adat Jawa

Pernikahan adat Jawa memiliki banyak prosesi yang harus dilaksanakan oleh kedua pengantin dan juga keluarga pengantin. Banyaknya prosesi pernikahan adat Jawa ini tidak serta merta hanya untuk memeriahkan pernikahan, akan tetapi banyak sekali makna yang terkandung di setiap prosesi pernikahan adat Jawa ini.

Upacara pernikahan merupakan sesuatu yang menarik karena biasanya manusia mengekspresikan apa yang menjadi kehendak atau pikirannya melalui pikirannya melalui upacara. Upacara juga mengingatkan manusia tentang eksistensi dan hubungan mereka dengan lingkungan mereka. Biasanya, melalui upacara masyarakat menggunakan simbol-simbol yang bersifat abstrak, yang masih dalam tingkat pemikiran seseorang atau kelompok, yang sering dikaitkan dengan berbagai kegiatan sosial yang ada pada kehidupan mereka sehari-hari. Simbol juga merupakan sesuatu yang sangat dikenal dan dipahami oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, yang sering dipergunakan sebagai alat untuk mewariskan kebudayaan

Dalam prosesi pernikahan adat Jawa, terdapat beberapa prosesi sebelum pernikahan dilangsungkan. Hal tersebut bertujuan agar masing-masing pengantin dan keluarga dapat mempersiapkan diri, serta untuk berdoa dan minta didoakan oleh keluarga besar agar pernikahan berjalan lancar dan kehidupan setelah pernikahan berjalan dengan lancar.

Dari Tarub sampai dengan Tawuhan

Prosesi pernikahan adat Jawa diawali dengan pemasangan tarub, bleketepe, dan tawuhan. Tarub merupakan atap sementara atau peneduh di halaman rumah, yang dihiasi janur melengkung. Karena fungsi peneduh sudah diganti dengan tenda yang lebih mudah dan fungsional, tarub digunakan hanya sebagai simbolis saja. Bleketepe merupakan anyaman daun kelapa tua yang dipasang oleh oleh orang tua mempelai wanita. Sedangkan tuwuhan adalah tumbuh-tumbuhan seperti pisang raja, kelapa muda, batang padi, janur, yang dipasang di kiri dan kanan gerbang. Tuwuhan bermakna harapan agar calon pengantin memperoleh keturunan yang sehat, beretika, berkecukupan, dan bahagia.

Prosesi pernikahan adat Jawa selanjutnya adalah siraman. Siraman memiliki makna sebagai penyucian diri dengan tujuan ketika memasuki hari pernikahan, kedua calon pengantin dalam keadaan suci lahir dan batin. Siraman dilakukan oleh kedua orangtua, dilanjutkan keluarga terdekat atau yang sudah menikah untuk dimintai restunya. Penyiram ditentukan dalam jumlah ganjil, biasanya tujuh atau sembilan orang. Mengingat ritual upacara adat Jawa yang sangat panjang, tentu calon pengantin harus mempersiapkan diri baik secara mental maupun fisik.

Kini, meski budaya Barat banyak merasuki seluruh sendi kehidupan masyarakat di Tanah Air, pesta perkawinan tradisional seakan malah menjadi kian marak. Bagaikan mode, pesta perkawinan tradisional merambah dari kampung-kampung kumuh, daerah pemukiman elit, sampai hotel-hotel berbintang lima, dan gedung gedung pertemuan yang sangat megah. Masing-masing orang yang punya hajat memeriahkan pesta perkawinan keluarga mereka sesuai asal muasal mereka, Jawa, Sunda, Bali, Sumatra dan sebagainya. Ada yang melakukan perkawinan adat itu dengan secara lengkap, dimana semua peralatan pesta maupun urutan acaranya dilaksanakan secara utuh. Tapi, ada sebagian orang yang mencuplik upacara keadatannya sebagian-sebagian sesuai kemampuan dan selera mereka.

 

Penulis:

Metriks Citrowati, S.Pd

Guru Bahasa Jawa

SMAN 1 Purwareja Klampok

Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.